Tampilkan postingan dengan label Ibukota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibukota. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2008

Nikmatnya menjadi seorang Ryan..


Ini bukan maksud ingin berhaluan orientasi seksual setelah melihat sosok Ryan sang fenomena, tetapi dilihat dari segi sensasionalnya dia selama penyidikan terkait kasus yang menimpa dia.

Ryan sang Homoseksual ini harus merasakan hotel prodeo karena di indikasikan terbukti membunuh 11 orang yang dikubur secara serampangan di sekitar rumahnya, ke-11 ini baru terungkap ketika beliau ini tertangkap sebagai pelaku dari pembunuhan mutilasi yang dia buang di Depok.

Pasti anda pembaca dan pengunjung web blog ini bertanya apa nikmatnya menjadi seorang Ryan bukannya dia seorang psikopat homo, tukang jagal dan apapun julukan yang dialamatkan kepada dia ? judul tersebut diatas bukan maksud jadi homo tapi enak sekali menjadi seorang Ryan dalam tahanan Polisi Daerah Jawa Timur dan Polisi Resort Jombang.

Kenapa penulis bisa bilang begitu sekarang kita bayangkan..apakah bisa seorang tahanan konsumsi terutama urusan perutnya selalu dihidangkan makanan ala ayam goreng taliwang, kadang Hoka-Hoka Bento dan lebih parahnya lagi sosok Ryan ini menganut sistem 4 sehat 5 sempurna harus tersedia pencuci mulut yang tidak tanggung-tanggung yaitu buah-buahan segar seperti semangka bahkan beberapa kali minta disajika Es atau Juice Durian bisa di bayangkan donk nikmatnya di penjara kalau semua tahanan kayak Ryan ?

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah daripada Penyidik Kepolisian Daerah Jawa Timur darimana mereka mendapatkan uang untuk membeli makanan yang dipesan oleh Ryan, secara kita tahu bagaimana kondisi dunia per-makanan tahanan yang sampai sekarang kadang-kadang mesti ngutang sama rekanan catering yang telah dipilih oleh Polri kemudian lauk dari makanan itu sendiri yang jauh dari kata sehat seperti 4 sehat 5 sempurna, bahkan sedikit alot kayak makan sol sandal jepit, kenapa pernah bilang gitu karena pernah mengalami walaupun tidak tidur di dalam Tahanan.

Alasan pejabat di Polda Jawa Timur memberikan keluasaan dan memenuhi apa yang di minta Ryan adalah untuk memudahkan penyidikan, kalau alasan itu, kenapa sampai hari ini penyidikan itu masih belum ada titik terang dan diserahkan kepada pihak Kejaksaan Tinggi Jawa Timur bersamaan dengan berita acara yang sudah di P-21 a.k.a. lengkap ? tetapi polisi masih berkutat diareal penyidikan terus tanpa ada penambahan, bahkan malah menjadi Polisi memberikan ke-leluasaan untuk Ryan dan Novel sang kekasih untuk memadu hasrat seksualnya di ruangan penyidik bahkan sampai mandi bareng, kalau sudah seperti ini dimana harga diri institusi Polisi di mata masyarakat yang benar-benar ingin mencari keadilan dan kebenaran, kalau sampai ruang penyidik gunakan untuk berciuman mesra bahkan beradegan panas layaknya seperti yang sering kita lihat atau yang hobi mengkoleksi real player 3gp.

Penulis sependapat dengan psikolog klinis dan terapis Liza Marielly Djaprie ketika ditanya oleh wartawan suatu situs berita online soal kasus ini, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Polisi dengan memberikan apa yang diminta oleh Ryan tidak dapat semuanya benar, malah bisa merusak lambang dan harga diri Polisi, kalau untuk menghadirkan Novel sang pacar dapat dibilang bisa membantu dan meringankan pekerjaan Polisi karena kita tahu bagaimana sifat dari Ryan yang sebentar-sebentar tenang kemudian tiba-tiba marah-marah.

Dan juga kalau ini sampai terdengar ke kamar tahanan, kemudian para tahanan ini berontak dan demo apakah Polisi bisa menjelaskan tentang apa yang mereka dengar, sementara kita tahu bagaimana kondisi ruangan kamar Hotel Prodeo di Indonesia mulai yang dikelola mulai dari Kepolisian Sektor hingga Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, belum lagi yang dikelola oleh Kejaksaan dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Kalau seperti ini kan boleh dibilang Kepolisian Republik Indonesia terutama Kepolisian Daerah Jawa Timur dan Kepolisian Resort Jombang melakukan tindakan diskriminasi dan Pilih kasih, disaat tersangka maling ayam atau mencuri sepeda motor dengan kunci letter T, atau hanya sekedar pemalakan harus di pukuli pake tangan kosong hingga lebam-lebam atau dipaksa tanda tangan BAP biar cepat kelar kemudian di kasih makan seperti kasih makanan ke hewan piaraan, sementara Ryan ? apakah ini sudah sesuai dengan motto Polisi yang selalu kita lihat karena terpasang di samping pintu mobil patroli yaitu Melindungi dan Mengayomi, memang sudah apa yang di lakukan Polri sesuai dengan motto itu tapi kalau hanya di lakukan oleh Ryan jelas sekali itu bukan motto daripada Polri.

Bagaimana kelanjutan dari akhirnya penyidikan ini, kita tinggal menunggu kesabaran dan kekayaan Polri dalam menghadapi permintaan-permintaan Ryan yang di luar akal orang waras dan normal..


Diponegoro 82..JKT

Rhivan Lorca

Minggu, 22 Juni 2008

481


Pertama-tama penulis ingin menghaturkan selamat ulang tahun kepada ibukota negara Republik Indonesia yang tercinta yaitu Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang pada tanggal 22 Juni 2008 ini menginjak usia yang ke 481, semoga terus menjadi dayatarik bagi penduduk didaerah untuk mencari pekerjaan bukan menjadi ladang kemiskinan dan berbagai macam organisasi kemasyarakatan yang anarkis.

481 adalah angka atau usia yang sudah sangat sepuh, sama halnya dengan usia manusia yang semakin lama semakin dewasa dalam hal pemikiran maupun fisik, tetapi untuk kasus usia DKI ini penulis lihat semakin lama usia DKI bertambah, semakin bertambah juga permasalahannya.

Kita bisa lihat bagimana keadaan DKI selepas lebaran tahun lalu hingga saat ini, hampir disetiap ruas jalan di DKI mulai dari jalan protokol hingga mungkin jalan tikus tidak ada yang lancar yang ada seperti bekicot berjalan pelan. Belum lagi intensitas kendaraan yang semakin lama semakin banyak dikarenakan banyaknya program promosi yang digencarkan oleh perusahaan otomotif baik kendaraan roda dua maupun roda empat.

Sementara jalanan yang ada di DKI semakin lama semakin kecil bahkan sempit karena tidak ada lahan lagi untuk menampung mobil-mobil dan motor ini di jalan, itu baru permasalahan untuk bidang transportasi, belum lagi soal masalah sosial dimana kita bisa lihat bagaimana DKI dimata penduduk didaerah negara ini masih memiliki daya magis untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi kenyataannya? Kita bisa lihat disudut – sudut jalan atau perempatan-perempatan lampu merah bisa kita jumpai beberapa anak kecil yang seharusnya menikmati dunianya tetapi mereka harus mencari uang untuk membantu orangtuanya yang seharusnya yang bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup anak ini adalah orangtua mereka. Belum lagi banyaknya penggusuran terhadap rakyat kecil dan jelata yang membuka warung liar untuk menyambung kelangsungan dapur mereka yang kadang-kadang berakhir ricuh bahkan melakukan kekerasaan yang sudah ditetapkan oleh konvensi HAM

Selain masalah yang selalu mendatangi para aparat Pemprov DKI, ada saja inovasi yang diterapkan oleh para pejabat pemprov DKI seperti untuk mengatasi kemacetan dibuatlah sarana transportasi alternatif yaitu Bus Transjakarta atau lebih dikenal dengan Busway, memang diawal pembuatan sarana penunjang busway ini mengundang banyak reaksi terutama penghilangan satu ruas untuk jalur busway yang dinilai akan bertambah macet, tetapi kenyataannya banyak juga yang menggunakan jasa busway ini, bahkan disalah satu koridor busway, menggunakan busway gandeng untuk bisa menampung lebih para penggunanya.

Apa yang harus dilakukan oleh Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk mengatasi masalah-masalah sosial ini terutama diantaranya kemacetan ini, kita bisa pungkiri dengan banyaknya para pengemis dan gelandangan di Jakarta, karena seperti yang penulis tulis diatas, mereka ini awalnya tidak berniat menjadi pengemis dan gelandang, mereka datang ke Jakarta untuk satu tujuan yaitu merubah kehidupan mereka didesa, tetapi ada daya kemampuan mereka dalam berbagai hal untuk menaklukkan kota ini yang menjadikan mereka menjadi pengemis dan gelandangan, ini selalu bertambah menjelang habisnya cuti bersama lebaran, penulis sependapat dengan kebijakan Gubernur yang akan menjaga pintu masuk ke DKI untuk mengantisipasi masuknya para penduduk diluar Jakarta yang tidak mempunyai kemampuan untuk mencoba peruntungan, tetapi lebih bijaknya lagi kalau pemprov membuka lapangan pekerjaan buat mereka yang sudah terlanjur masuk.

Soal penggusuran, penulis menentang keras dengan tindakan-tindakan yang berlebihan yang dilakukan oleh para petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja, apa yang dilakukan oleh Satpol PP ini sudah menjurus kepada pelanggaran HAM, tetapi oleh atasan mereka berdalih mereka hanya menjalankan tugas yang menyalahkan para pedagang ini, sebenarnya menurut penulis maraknya pedagang kaki lima atau yang berjualan sampai menyita sepersekian jalan ini adalah salah dari para satpoll PP ini kenapa penulis bilang, kalau memang tidak boleh berjualan disana kenapa juga masih ada warga yang berjualan disana dan dibiarkan saja oleh anggota Satpol PP bahkan lahan yang seharusnya tidak boleh dipergunakan untuk berjualan mereka jual-belikan dengan asumsi setiap mereka sedang dinas, para pedagang harus setor uang ke mereka, dan ini pernah penulis lihat, dimana dengan gampangnya para petugas ini meminta rokok satu slop berbagai macam merek, disaat para pedagang ini baru buka jualannya dan belum ada yang beli, kalau sudah begini siapa yang salah pedagang atau satpol PP ini ?

Sudah saatnya pemprov DKI menata kembali kota tercinta ini seperti dengan semboyannya yaitu kota metropolitan atau yang akan berganti menjadi kota megapolitan dengan menggandeng kota Tangerang, Bogor, Depok dan Bekasi untuk bersatu tanpa ada lagi masalah-masalah seperti pengangguran, penggusuran dan kemacetan yang semakin lama semakin tidak terarah.

Dirgahayu Kota ku Daerah Khusus Ibukota Jakarta tercinta….

Senin, 12 Mei 2008

15,68 Juta Jiwa

Angka diatas bukan sekedar angka yang iseng penulis tuliskan sebagai judul, tetapi angka diatas adalah jumlah penduduk Indonesia mendatang yang masuk kategori orang miskin baru, maksudnya ?

Iya 15,68 Juta Jiwa nantinya tergabung dalam kelompok orang miskin baru angka itu dikeluarkan oleh suatu badan atau lembaga kajian berkaitan dengan adanya upaya Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan RI 1 untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak-BBM yang kabarnya akan mencapai 30 % dikarenakan harga minyak dunia yang sudah menembus angka US$120 perbarel.

Sedangkan kalau membandingkan dengan angka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik-BPS bahwa angka orang miskin versi badan bentukan pemerintah ini adalah16,85 persen dari total populasi atau sekitar 36,8 juta jiwa..WOW !! beda sekali jumlahnya…

Memang kita tidak bisa pungkiri bagaimana krisisnya dunia ini yang dimulai dari negaranya Bush dimana kredit Kepemilikan rumah atau KPR disana mengalami penurunan sehingga berdampak juga kepada harga minyak dunia yang naik-turun bahkan sempat naik ke level 120 dollar perbarel sehingga seluruh negara di dunia merasakan dampaknya termasuk negara berkembang seperti Indonesia.

Seperti kasus ini, pemerintah sebenarnya dilema dan ibarat makan buah simalakama dimana jika harga minyak terutama bensin dinaikkan maka makin banyak rakyat yang sudah miskin makin jatuh miskin lagi, tetapi kalau tidak dinaikkan maka semua sektor akan mengalami kerugian atau nombok karena harus menanggung segala biaya produksi.

Saran penulis kepada para pemimpin bangsa ini, kalau memang mau menaikkan harga minyak naikkan saja tetapi dengan catatan tidak ada lagi penyimpangan seperti yang ada sekarang dimana masih ada saja spekulan yang menimbun minyak demi kepentingan perutnya saja tanpa memikirkan nasib rakyat yang sudah berjam-jam mengantre tanpa membawa hasil.

Dan juga harus dilihat lagi bagaimana dengan rakyat kecil, apakah mereka masih bisa mendapatkan dan menikmati minyak itu dengan terjangkau dan tersedia dimana walaupun harganya mahal, jangan sampai seperti beberapa tahun lalu dimana pemerintah membentuk program Bantuan Langsung Tunai-BLT dimana setiap bulan orang miskin mendapatkan dana Rp.300,000 untuk kebutuhannya termasuk minyak tetapi kenyataannya masih banyak yang tidak mendapatkannya bahkan orang berduit bisa dapat kupon itu, ini sangat aneh dan janggal.

Apakah angka kemiskinan di negara kita ini bertambah banyak bahkan lebih banyak orang miskinnya daripada orang kaya atau sebaliknya sama rata dengan segala permasalahan yang ada saat ini, hanya Tuhan dan pemerintah kitalah yang tahu bagaimana melayani rakyat, jangan hanya pada kampanye dan pemilu saja mereka melayani dan mendengarkan rakyat tetapi begitu duduk nyaman di kursi empuk semua yang mereka dengarkan dan janji serta rayuan gombalnya yang setinggi langit tidak di realisasikan.

Parkir VS Gembok


Akhir-akhir ini masyarakat DKI was-was ketika berpergian ke suatu tempat jika tidak ada tempat parkir resmi atau penuhnya tempat parkir sehingga harus parkir kendaraan dipinggir jalan, kenapa ?

Karena sejak tanggal 2 Mei 2008, Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta menerapkan peraturan baru dimana setiap kendaraan yang diparkir tidak sesuai dengan tempatnya (baca:parkir liar) maka akan digembok dengan rincian, pada 15 menit pertama mobil yang terparkir tidak pada tempatnya akan ditilang, jika dalam 15-20 menit kedua tidak ada tanggapan dan masih terpakir disana, maka sang eksekutor dalam hal ini Kantor Dinas Perhubungan DKI akan melakukan penggembokkan kepada tiga ban dari kendaraan itu, dan meminta pemilik mobil untuk menebus dan mengambil kunci gembok tersebut ke kantor Dishub atau kantor polisi yang ditetapkan dengan membayar administrasi tilang, dan yang terakhir jika sampai pukul 17.00 lebih atau jam 5 sore tidak ada reaksi dari pemilik mobil maka mobil akan di derek ke penampungan mobil.

Sudah benarkah tindakan dari Dinas Perhubungan DKI soal penertiban parkir liar ? menurut penulis ada dua hal yang harus dicatat, yaitu yang pertama soal tindakan yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan DKI sudah benar karena jika tida dilakukan ini maka jalanan di DKI yang sudah macet akan bertambah macet dikarenakan jalanan yang seadanya ditambah banyak mobil yang terparkir, tetapi disatu sisi kenapa ada parkir liar karena tidak adanya lahan yang luas disetiap ruang seperti pusat pembelanjaan, sarana pendidikan dan sebagainya untuk menampung mobil yang setiap hari semakin banyak saja mobil keluaran terbaru sehingga tidak heran banyak kita jumpai parkir-parkir liar di setiap jalan.

Kita tahu donk daerah mana saja yang banyak parkir liarnya, seperti depan stasiun Kereta Api Jatinegara, Jl.Diponegoro terutama di area depan RSCM dan Universitas YAI dan yang paling menakjubkan adalah untuk wilayah Jakarta Pusat adalah mulai dari Kantor Pertamina hingga depan kantor Organisasi agama dan sekolah swasta agama, dimana di pinggir jalan tersebut banyak sekali mobil parkir terutama mobil-mobil dinas Kepolisian Resort Jakarta Pusat misalnya mobil patroli dan mobil tahanan jenis tronton dan yang parahnya adalah semua berpusat di depan Markas Kepolisian Jakarta Pusat apalagi jenis motor yang parkir hingga dua jalur pinggir dipakai untuk parkir kendaraan jenis roda dua.

Tetapi adakah tindakan aparat Dishub DKI menertibkan itu semua yang jelas-jelas melanggar aturan yang jelas-jelas dibuat oleh pihak Dinas Perhubungan dan tentunya dari Kepolisian ? jawabnya tidak ada. kemudian yang menjadi pertanyaan kita adalah kalau memang parkir liar itu dilarang bisakah Dinas Perhubungan DKI memperlihatkan kepada warga DKI tempat parkir yang terdekat dengan area parkir liar ?

Menurut penulis, apa yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan ini sebenarnya tidak efektif dalam menertibkan parkir liar dan juga memperlancar perjalanan karena selama ini jalan-jalan di DKI terhambat dan macet dikarenakan adanya atau banyak parkir liar yang ada.

Seharusnya sebelum melakukan penertiban ini, pihak Dishub mensurvey terlebih dahulu apa yang menjadi permasalahan dari maraknya parkir liar ini, setelah tahu masalahnya dan ada alternatif yang keluar dari pihak Dishub dan tentunya disosialisasikan kepada masyarakat barulah usaha penggembokkan ini bisa dilakukan, jangan seperti sekarang asal gembok saja tanpa melihat alasan mereka pengguna kendaraan memarkir kendaraannya tidak pada tempatnya.

Dan juga kalau memang ini gerakan penggembokkan untuk menyadarkan warga DKI untuk tidak parkir di area yang bukan menjadi lahan parkir seharusnya Dishub harus sudah mempersiapkan sarana dan prasarananya jangan seperti sekarang yang kesannya setengah mati melakukannya dan juga harus sama rata dan pandang bulu, jangan seperti sekarang penulis melihat sepertinya hanya daerah tertentu saja terutama depan pusat bisnis atau mall, penulis ingin MENANTANG para pejabat Dishub baik kepala Dishub di 5 wilayah DKI hingga petugas di lapangan BERANIKAH anda menggembok mobil dan mengkempiskan ban motor baik berplat Hitam maupun Merah dan milik TNI-POLRI serta anggota DPR dan Pejabat tinggi negara yang terpakir dipinggir jalan depan Kantor pemerintahan ataupun Kantor Kepolisian misalnya yang ada di sepanjang jalan Kramat Raya tepatnya di depan Markas Kepolisian Resort Jakarta Pusat ?

Kalau itu anda berani menggemboknya, itu berarti peraturan yang anda buat memang untuk semua pemilik kendaraan bermotor baik roda dua ataupun roda empat tanpa melihat profesi apa yang punya mobil. Betul tidak !

Senin, 24 Maret 2008

Jalanan Rusak siapa yang salah ?

Kota – kota baik besar atau kecil yang ada dibumi Merah Putih saat ini mengalami masa – masa yang sangat menyedihkan yaitu datangnya musim banjir,dimana tidak hanyak rumah saja yang terendam oleh fenomena alam ini tetapi merendamkan semua dari impian orang – orang seperti petani yang harus rela tidak memanen hasil garapannya karena musim hujan disertai banjir.

Ya..semenjak hari raya Lebaran tahun lalu,wilayah Indonesia saban hari diguyur oleh hujan yang intensitasnya tidak menentu akibat dari intensitas itu maka terjadinya banjir, akibat dari hujan dan banjir hampir semua jalan – jalan baik jalan kota , jalan propinsi sampai jalan negara rusak parah dengan ditandai banyaknya kubangan layaknya tempat mandi kerbau.

Kalau penulis tidak salah tercatat lebih dari 40 titik lubang besar diseputar jalan DKI yang rusak akibat hujan yang sangat lebat sekali intensitasnya yang mengakibatkan timbulnya kemacetan.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah,siapa yang salah dalam hal ini dan siapa yang bertanggung jawab atas hal ini,kalau menurut penulis sich dalam hal ini kita semua salah kenapa ? seperti contoh di DKI ada beberapa titik jalan rusak akibat dari hujan, effect dari kejadian ini timbul kemacetan yang sangat luar biasa,tapi para pengendara ini tidak tahu akan prosesnya tetapi malahan minta semua jalan yang rusak harus diperbaiki seperti sedia kala.

Kita tahu yang bertanggung jawab atas jalan baik pengelolaan maupun perbaikan adalah Departemen Pekerjaan Umum yang memiliki perwakilan di setiap wilayah di negara ini,tetapi dalam hal pengerjaan itu harus membutuhkan dana dimana yang berhak mengucurkan kran dana ini adalah anggota dewan yang tahun 2004 kemarin kita pilih tanpa ada ijin dari mereka,jangan harap jalan itu bisa benar dan mulus tanpa cacat.

Penulis juga prihatin dengan kondisi ini dan kecewa dengan para pemakai jalan yang tidak sadar dipikiran dan perbuatan tetapi asal ngomong aja,banyak pengendara yang selalu menggerutu dengan kondisi jalan yang parah bak tempat mandi kerbau,tetapi mereka tidak sadar apakah bisa mulus dan rapi jalan itu dengan aspal kalau hujan masih terus turun intensitas bukankah sifat dari aspal itu jika terkena air sedikit saja akan mengelupas ? dan kalaupun itu dilaksanakan akan sia – sia nantinya dalam hal pengeluaran Rupiah untuk membeli perangkat jalan itu , lagipula bukankah salah kita juga sebagai warga yang dengan sok-nya membawa kendaraan mereka sebagai lambang dari kemakmuran bahwa kalau dengan mobil yang bermerek derajat kita akan terangkat,tanpa memikirkan dampak dari banyaknya kendaraan yang beredar di jalan,terutama dari segi kesehatan dan lingkungan? Anda ingat tentang Global Warming tidak yang sekarang menjadi jelas penampakannya !

Sudahlah kerjaan kita jangan hanya meminta-minta kepada pemerintah agar permintaan kita selalu dipenuhi,sekali–sekali kita pahami apa yang sedang dihadapi oleh pemerintah soal jalan pun,kita harus maklum apa iya kita bisa mengalahkan fenomena alam ini jadi tolonglah hargai pemerintah dalam memanjakan kita sebagai warganya.yang penting dari sekarang kita harus menjaga lingkungan kita dari dampak global warming salahsatu contohnya adalah jika didalam satu rumah terdapat beberapa mobil kiranya kita hanya mengeluarkan satu mobil untuk ramai – ramai ketimbang satu kepala satu mobil,betul tidak ?

Sabtu, 09 Februari 2008

Yth: Abang Fauzi Bowo


Bang Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan abang Wakil Gubernur DKI..apa kabar nich ? semoga sehat – sehat saja disaat musim hujan ini yang terus – terusan menggujur kota Jakarta kite ini.

Gini bang,saya sebagai warga yang merasakan susahnya cari duit di DKI ini cukup prihatin dengan situasi yang ada saat ini dimana banjir datang lage bang…kirain penulis banjir Cuma datang sekali dalam lima tahun,tapi kok sekarang baru masuk itungan satu tahun menuju ke tahu 2012 udeh datang lagi bang..

Bahkan banjir kali ini ya bang bisa membuat SBY Presiden kite harus ganti mobil dari mobil khusus Kepresidenan yang bermerek Jerman ke mobil Pengawalnya yang jelas – jelas tidak ada bintang prestise sama sekali.bisa abang bayangin ga ?

Sebenarnya inti pokok dari permasalahan ini bang simpel aja kok yaitu DKI tidak ada lagi pekarangan khusus untuk menampung banjir jika kategorinya besar kenapa bisa begitu ? karena yang ada bang di Jakarta terutama disetiap – setiap sudut lima wilayah DKI sudah ditumbuhi dengan bangunan beton yang pondasinya langsung menancap ke bawah sehingga menutup lapisan yang berfungsi sebagi penyerap air dikala hujan,betul tidak bang ?

Abang bisa hitung disatu wilayah DKI saja ada berapa bangunan beton entah itu Mall,Pusat bisnis atau sekarang yang lagi tren yaitu Apartement,sementara DKI punya lima wilayah bisa bayangin ga bang ? oh ya satu lagi.kalau ane tidak salah ya bang daerah Pondok Indah Kapuk fungsinya dulu itu dibuat untuk sebagai danau penampung air jika DKI mendapatkan hujan yang cukup besar kan bang,tapi kenapa sekarang menjadi Danau khusus Apartement kalangan Jetset ya ? ini yang kasih ijin ini gubernur siapa bang,secara abang kan kalau tidak salah sejak tahun 1970-an sudah masuk di lingkungan Pemerintahan Daerah DKI.

Program Banjir Kanal Timur atau istilah kerennya ya BKT,menurut ane tidak ada fungsinya bang,kenapa ane bisa bilang gitu ? karena percuma saja pembebasannya aje kagak beres,kebanyakan tangan menurut aye,karena didunia ini siapa sich yang ga mau duit bang apalagi urusan duit dengan tanah pasti untungnya gede.lagipula berita yang ane denger juga katanya BKT belum selesai aje,pas datang ujan tempat yang dijadiin BKT malah ga bisa nampung air ujannya .

Menurut penulis yang harus diperhatikan oleh abang Fauzi dan mas Pri adalah,revisi kembali UU lingkungan yang beredar diwilayah DKI misalnya disetiap gedung atau pusat niaga seperti mall sampe Apartement harus disediakan 30 – 40 % lahan kosong yang berfungsi sebagai sarana penyerap air jika air hujan datang yang intensitasnya tinggi hingga mengakibatkan banjir,yang kedua perbaiki sarana drainase yang menurut aye hampir tertutup akibat bangunan beton itu,seperti contoh yang terjadi di sekitar Jalan Thamrin-Sudirman mulai dari Sarinah,Jalan Sabang anda tau sendiri bang daerah atau Jalan yang ane sebut kan daerah elite yang selalu dilewati para pejabat seperti contoh kasus Presiden kemarin.

Dan jika ada gedung yang menolak melakukan kebijakan itu kiranya anda bisa menegurnya dan turun langsung ke lapangan karena ane tidak yakin dengan kemampuan dari anak buah abang,karena semua pegawai negeri ( ane ga bilang lagi oknum,karena aye udah bosan selalu dengar oknum – oknum tapi kenyataannya memang benar pelakunya bukan orang yang memaanfaatkan suatu tempat ) dinegara ini rata-ratanya kerjanya hanya ABS-asal Bapak atau abang Senang padahal konkritnya amburadul.

Tolong diperhatikan itu ye bang,supaya DKI tidak lagi menjadi danau buatan setiap lima tahun sekali atau jangan-jangan setiap tahun.aye selalu dukung program abang asal yang bermanfaat bagi orang kecil dan jelata,bukan bermanfaat bagi kalangan berduit bang.

Rabu, 28 November 2007

SELAMAT DATANG DI DAERAH KEBANJIRAN ITULAH ( DKI ) JAKARTA

Bulan Oktober,November,Desember adalah bulan-bulan dimana siklus hujan meningkat terus – menerus dan tidak menutup kemungkinan datangnya banjir,dan itu sedang dialami oleh Daerah Khusus Ibukota ( DKI ) Jakarta,dimana saat ini hanya dalam hitungan jam saja di beberapa daerah sudah kedatangan air yang jumlah berkubik-kubik yang katanya kiriman dari Bogor,bahkan daerah yang sebelum-sebelum tidak terradar akan terkena banjir tahun ini mungkin sampai tahun keberapa malah kena bahkan lebih berat kapasitas banjirnya.

Sebenarnya apa yang menyebabkan DKI selalu kedatangan dari yang namanya banjir ada beberapa faktor seperti,masih tidak sadarnya rasa kepedulian masyarakat yang ada disekitar bantaran kali atau yang sedang lewat tetap dan keukeuh membuang sampah ke sungai,kemudian tidak adanya lagi daerah yang seharusnya menjadi bantalan resapan air bagi DKI kini berubah menjadi bangunan beton dan mewah,dan mungkin sering terlambatnya kerja para aparat DKI jika sudah banjir datang.

Tentang program Bantaran Kanal Timur ( BKT ) yang dari jaman Gubernur Suryadi hingga terakhir kemarin Bang Yos dan saat ini Bang Fauzi yang seperti masih tiarap saja,padahal dari para pemimpin ini katanya program BKT ini paling tidak bisa menampung banjir tetapi kenyataannya tahun lalu kubangan BKT ini melebihi batasnya.

Saran penulis sich,sebenarnya simple aja yang pertama yaitu segera menata dan mengembalikan kembali tata kota ke semula,seperti daerah yang seharusnya menjadi lahan untuk resapan dan penampungan air atau banjir bukan untuk lahan komersil,kemudian jika ingin membangun untuk keperluan komersil atau sosial kiranya dinas tata kota harus bisa seleksi dengan ketat terutama dalam hal amdal dan adanya lahan untuk resapan air hujan,dan mampu memberikan sanksi tegas kepada pengembang yang tidak memberikan beberapa lahan untuk resapan dan penampungan air hujan.

Dan jika daerah itu untuk program BKT,hingga harga damai yang ditawarkan harus sesuai dengan logika dan akal sehat karena selama ini penulis lihat kenapa proyek BKT selalu terkendala dengan macetnya negosiasi ganti rugi yang lama,karena harga yang diberikan dari pemerintah sangat tidak pantas karena walaupun secara hukum penduduk yang tinggal disana melanggar hukum,paling tidak ada donk kemanusiaannya dan mungkin pikir penulis lagi kenapa bisa macet jangan-jangan ganti rugi yang akan diberikan pemerintah sebenarnya besar tapi banyak tangan yang mengurusnya seperti contoh begini,misalnya tanah itu oleh pemerintah dihargai Rp.3-4 juta tetapi karena banyaknya kepentingan yang mendengar mulai dari calo tanah hingga preman sekitar proyek itu sehingga yang kedengaraan sampai ke pemilik tanah mungkin Cuma Rp.500 ribu,kalau penulis yang tinggal disana juga mana mau uang ganti Cuma Rp.500 ribu hare gene getho loh!!!

Sudah saatnya DKI Jakarta,yang katanya bukan kota metropolitan melainkan kota megapolitan bebas dari banjir bahkan dari kemacetan pun,dengan dimulai dari kita sendiri untuk mengerti akan peran dari sungai dan pintu air,jadi sebenarnya yang diSALAHKAN kenapa macet,banjir ada di jakarta setiap waktu adalah kita sebagai penduduknya BUKAN Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta atau Pemerintah Pusat INGAT!!

Jadi Untuk sekarang SELAMAT DATANG DI DAERAH KEBANJIRAN ITULAH ( DKI ) JAKARTA….

HARE GENE MASIH AJA TAWURAN

Penulis kaget dan tidak habis pikir ketika melihat tayangan televisi beberapa hari yang lalu dimana terdapat berita tentang kembali (lagi! ) tawuran oleh dua universitas di kawasan salemba-jakarta,pemicunya pun tidak jelas.

Ini sudah yang kesekian kalinya ribut-ribut ini berlangsung,tetapi menurut penulis sebenarnya yang menjadi pemicunya adanya adanya beberapa komunitas etnis yang dulunya bertempat tinggal di samping kampus YAI yang sekarang sudah dibumi hanguskan dan menjadi sengketa dengan salahsatu organisasi mahasiswa keagamaan,sehingga kejadian tawuran ini terus berlanjut.

Lalu kenapa peran Polisi terutama Polisi Resort Jakarta Pusat sebagai pengandil hukum dari dua kampus ini ? ternyata para aparat ini hanya bisa tiarap tanpa mau melihat siapa yang mulai duluan.

Penulis beberapa kali melihat dan mencatat aksi dari kedua kampus ini,dimana polisi hanya tiarap dan melihat kejadian ini dan kalau bereaksi hanya menangkap orang-orang yang menurut mereka,dalam hal penulis hanya melihat sebagai masyarakat yang melihat dan bukan membela dari salahsatu kampus

Ok..pada saat tawuran terakhir sebelum yang baru kemarin tepatnya pada saat menjelang buka puasa,kedua kampus ini sudah terlibat lempar batu bahkan bom molotov,sebagai bukti dari bom molotov itu adalah kantor satpam dari kampus UKI tepatnya dipelataran Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik – FISIPOL terbakar habis dan juga ruangan diatas gedung itu mereka,pada saat itu polisi sudah datang,dan melihat dari
dekat dengan mata dan kepalanya bahwa itu menurut penulis sudah masuk kategori pengrusakkan tetapi kenyataannya didiamkan saja ? ya jelas sajalah mahasiswa UKI marah besar,itu baru satu belum lagi mulai tahun 2001 kalau tidak salah setiap kali tawuran pasti polisi hanya tiarap bahkan yang jadi sasaran ya mahasiswa UKI itu sendiri,yang menjadi pertanyaan apakah Polisi menerima upeti lebih besar dan banyak dari Kampus itu ketimbang UKI ? dan lagi penulis beberapa kali melihat dipelataran parkir kampus YAI kok banyak sekali tameng-tameng baik dari plastik hingga bambu yang biasa digunakan para aparat terutama brimob bahkan ada tameng yang bertuliskan PHH yang mana pasukan ini bukannya sudah dibubarkan setelah reformasi? Dan juga terbukti pada tayangan kemarin itu,ada mahasiswa YAI-karena kameraman dari stasiun televisi itu menyorot dari arah dekat pintu keluar RSCM dan UI yang terang-terangan menggunakan helm polisi seperti helm pendekar samurai dari jepang dan tertera tulisan polisi dan warna helm itu seperti warna dari warna kebesaran brimob,sekarang apakah polisi terutama Bapak Kepala Polisi Resort Jakarta Pusat serta Kepala Satuan Pengamanan serta Rektor YAI menjelaskan kepada warga sekitar Jl.Diponegoro serta warga pengguna Jl.Diponegoro-Salemba kenapa tameng-tameng Polisi dan PHH serta helm yang digunakan oleh mahasiswa itu bisa berada di pelataran kampus,yang jelas-jelas itu perangkat aparat?

Penulis juga kesal dengan pemberitaan yang ada di media terutama stasiun televisi yang selalu menyorot dan menulis berita yang tidak seimbang,sekali lagi tulisan dan penulis membela dari kampus UKI sekali lagi BUKAN membela,tetapi kebanyakan media menulis bahwa yang memulai tawuran ini adalah UKI padahal kalau anda mengetem dari awal anda bisa lihat siapa duluan yang mulai?serta kalau bisa dalam mengambil gambar tuch tolong berimbang donk,jangan hanya satu dari kawasan depat RSCM yang bersebelahan dengan UI tapi coba dari arah Megaria,paling tidak kalau anda sebagai jurnalis peka,hasil anda kan bisa sebagai bukti dari penyidikan kalau POLRES Jakarta Pusat mau melanjutkan ini sebagai tindakan kriminal betul tidak?

Neraka yang bernama Jakarta…

Pada saat lebaran Daerah Khusus Ibukota-DKI Jakarta seperti kehidupan di surgawi nirwana dimana mobil bisa seenaknya lalu lalang dengan kecepatan tinggi tanpa lagi berpeluh keringat serta tanpa harus menahan rem-gas secara bersamaan,dan bebasnya 3 in 1 tapi setelah lebaran apa yang terjadi ?

DKI seperti neraka yang sangat panas sekali hingga ini tulisan dibuat,dimana setiap jalan pasti dipenuhi berpuluh-puluh mobil dari mobil yang mesti ditarik dari peredaran hingga mobil yang baru aja dikeluarin dari kontainer Pelabuhan Priok,belum lagi motor-motor yang tidak jelas.

Adakah yang salah dengan semua kemacetan ini?menurut penulis sich yang salah sebenarnya para pengendara kendaraan pribadi baik mobil dan motor..udah tau jalan jakarta sempit masih aja bawah kendaraan mending kalau satu rumah satu mobil..ini malah amp aa,teteh,kakak.ade masing-masing punya mobil,udah gtu para produsen mobil dan motor yang menawarkan harga yang agak tidak waras dan tidak disesuaikan dengan keadaan jalan di negara ini terutama jakarta

Soal keberadaan sarana Trans Jakarta,sebenarnya sudah cukup memadai karena apa transportasi ini bebas macet (walaupun jalurnya sering di embat ama mobil pribadi dan angkutan umum serta tidak tegasnya Polisi dan Dinas Perhubungan untuk menilang tetapi malah menerima “tips”dari para sopir ) walaupun dilain pihak banyak yang mengatakan bahwa project ini buang2 duit ? kata siapa

kalau dilihat lagi banyak lagi keuntungannya selain bebas macet,pake ac walaupun jumlah armadanya masih terbatas paling tidak jalurnya beda dengan kendaraan lain..alasan trans ini di buat kn untuk mengurangi populasi mobil dan juga polusi akibat gas yang keluar dari knalpot mobil dan motor (ingat donk Global Warming!)

yang penulis ga setuju,ketika di suatu acara pemilihan berita disalahsatu televisi berita,yang mengatakan bahwa project busway ini dihentikan saja karena menambah macet,hey menurut penulis berarti sia2 donk jalur yang ada saat ini kemudian di bongkar,trus kalau di bongkar apa bisa lancar jalan-jalan di jakarta dari kemacetan ? ga mungkin kalee..

Saran penulis sich kepada Bang Fauzi ama Mas Pri yaitu..berlakukan sistem yang pernah bang Yos usulkan yaitu berlakukan sistem ganjil dan genap baik Plat nomor polisi kendaraan mobil maupun motor kecuali angkutan umum,karena mungkin inilah yang bisa untuk setidaknya mengurangi sedikit kemacetan di jakarta baik dari pagi maupun disore hari,serta menaikkan pajak kendaraan yang keluaran terbaru dan menurunkan pajak kendaraan yang usianya lebih dari dua tahun baik mobil dan motor,kalau seperti ini,penulis yakin semua penduduk jakarta maupun pinggiran akan berpikir berkali-kali untuk membeli bahkan mengganti mobil yang lebih baru.

Selain itu juga saran prasarana seperti angkutan umum yang ramah lingkungan juga harus diperhatikan oleh pemprov DKI,karena selama ini banyak angkutan umum yang sudah tidak layak lagi digunakan seperti asap yang dikeluarkan sangat memprihatikan kondisinya,kalau yang seperti ini seharusnya dalam pengurusan peremajaan angkutan paling tidak pajaknya murah,selain itu juga kondisi jalanan yang penulis jumpai banyak yang tidak terawat seperti banyaknya kubangan mandi kerbau dan kudanil di setiap jalan,tetapi kalau diperbaiki hanya perbaiki seingatnya doank tanpa permanet,paling banter cuma bertahan 3-6 bulan saja selebihnya balik maning kayak tempat mandinya kudanil,badak,kerbau mungkin gajah kali ye….

mungkin itu saja pendapat dari penulis tentang jakarta yang kata orang semakin lama jakarta kayak jakarta tapi kalau menurut penulis jakarta yang jakarta kota dengan segudang cerita baik manis,pahit dan sebagainya..tapi penulis tetap cinta jakarta,karena I luv Jakarta