Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2008

Mayday…Mayday….


Tanggal 1 Mei kemarin adalalah hari penting bagi semua buruh yang ada dijagat raya ini, karena mereka merayakan hari kemenangan mereka sebagai buruh, tapi yang menjadi pertanyaan adalah khususnya bagi buruh yang ada dinegara ini, apa kabar mereka saat ini apakah nasib mereka bisa disejajarkan dengan buruh-buruh yang ada di negara luar sana paling tidak setara dengan buruh Asia misalnya di Jepang atau korea?

Ternyata nasib buruh kita masih boleh dikatakan tidak layak dan kesejahteraannya minim bahkan miris melihatnya, dimana mereka harus bekerja sepanjang hari tapi pendapatan yang diterima tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Kita tahu jumlah pendapatan para buruh di seluruh Indonesia kalau diratakan yaitu Rp.800,000 per bulan, atau kurang dari US$ 3 perhari dan ini masih jauh sekali dari standar ibarat bagai bumi dan langit bila kita lihat upah buruh di Vietnam, dimana saat ini upah mereka mencapai US$ 3,1 per hari sedangkan di negara yang penduduknya paling besar didunia yaitu China, upah buruhnya sekitar US$ 5,4 per hari dan negara yang dipimpin oleh Presiden Perempuan Gloria Magapacal Arroyo dimana sejak tahun 2006 gaji buruh di negaranya meningkat sampai US$ 200 per bulan.

Prihatin itulah perasaan penulis dan mungkin rakyat Indonesia yang melihat nasib para buruh ini bila kita lihat pernyataan-pernyataan daripada para pejabat yang menyatakan bahwa perekonomian negara kita maju, apanya yang maju kalau nasib kesejahteraan buruh dan pekerja diabaikan demi yang namanya gengsi pertumbuhan negara dengan negara lain.

Yang harus kita persalahkan tehadap prihatinnya nasib kesejahteraan para buruh dan tenaga kerja kita adalah pemerintah itu sendiri terutama kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dan tentunya Komisi Tenaga Kerja Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR-RI), karena menurut penulis kedua institusi ini semakin lama semakin tidak bisa melindungi hak-hak daripada para pekerja, kita bisa lihat berapa banyak pengusaha terutama dari kebangsaan Korea dan RRC yang meninggalkan begitu saja pabrik dan perusahaan mereka tanpa ada dosa dan pertanggungjawaban kepada para buruh yang telah lama bekerja, kemudian negara dalam hal ini Depnakertrans juga tidak ada upaya memanggil paksa pengusaha itu untuk diadili, yang ada hanya bentuk koordinasi dan dialog yang tidak ada ujung penyelesaian dalam hal kesejahteraan para pekerja ini sementara para pengusahanya kabur dan menanam investasinya dinegara lain tanpa merasa bersalah betul tidak ?

Menurut penulis percuma ada Undang –Undang tentang ketenaga kerjaan yaitu UU No.13/2003 kalau nasib para tenaga kerja ini tidak sejahtera yang ada mungkin hak keistimewaan para pengusaha untuk mempekerjakan para tenaga kerja negara ini dengan sesuka hati mereka terutama dalam hal penggajian. Sebenarnya kalau mau mensejahterahkan para tenaga kerja dinegara ini gampang yaitu revisi atau bentuk UU tenaga kerja yang baru dimana kementerian tenaga kerja melibatkan berbagai macam elemen serikat tenaga kerja tetapi yang penulis lihat adalah mungkin serikat tenaga kerja yang ikut mengerjakan UU itu kemarin adalah serikat tenaga kerja yang ABS-Asal Bapak Senang, bukan yang frontal atau yang benar-benar merasakan bagaimana gaji yang didapat untuk membeli susu anaknya untuk jatah seminggu belum lagi keperluan yang selalu terhidang di meja makan.

Soal isu yang beredar saat ini adalah penolakan penggunaan Outsearching atau sistem kerja kontrak, sebenarnya sistem ini ada untung dan ruginya kalau menurut penulis. Kalau untungnya adalah para perusahaan akan mencari-cari kita layaknya selebritis dikejar penggemar untuk bergabung ke perusahaan mereka tetapi ruginya untuk negara kita ini adalah program ini justru memiskinkan para tenaga kerja yang diminta bergabung dengan cara-cara yang tidak halal misalnya, bisa diputus kontrak sepihak atau gaji yang ditawarkan tidak sesuai dengan wawancara sebelum memulai pekerjaan.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia, harus bisa tegas bahkan memPENJARA-kan para pengusaha yang tidak bisa mensejahterakan para pekerjanya yaitu dengan cara sebelum mereka menanamkan investasinya ke Indonesia, terlebih dahulu membuat perjanjian antara Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia dengan semua serikat tenaga kerja yang ada di negara ini baik yang bersifat ABS tadi atau yang frontal agar mereka mau menaati semua peraturan yang berlaku di Indonesia dan tidak mentelantarkan para pekerjanya jika usahanya tidak berkembang dan siap di PENJARA kalau menelantarkan para pekerjanya.

Sebisa mungkin segala kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui parlement harus bisa menyenangkan para buruh bukan kepada para pengusaha atau pemegang saham, karena yang bekerja dan membangun negara ini adalah kaum buruh BUKAN pengusaha, memangnya para pengusaha ini mau mengaduk semen, mengangkat semen sama batu bata ?

Soal tidak nyamannya berinvestasi di Indonesia oleh kalangan pengusaha luar negeri karena banyaknya birokrasi, menurut penulis sebenarnya mereka saja yang mau di tuntun oleh para pelaku-pelaku birokrasi yang hobi “makan” uang haram, kalau mereka mau melaporkan ke pihak terkait termasuk Presiden, penulis yakin sebenarnya iklim investasi di negara ini sangat maju.

Apakah Mayday tahun depan, para buruh ini turun ke jalan masih dengan isu yang di bawa pada saat Mayday saat ini atau turun ke jalan dengan suka cita karena apa yang diimpikan terutama hal kesejahteraan bisa tercapai bahkan buruh kita bisa merasakan yang namanya kehidupan yang sebenarnya dalam hal ekonomi ? kita lihat saja bagaimana reaksi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dalam menindak, melaporkan, dan mem-PENJARA-kan para pengusaha dan pemilik saham yang seenaknya menginjak-injak hak daripada para buruh..

Selamat Hari Buruh kawan….rakyat jelata berada dibelakangmu demi terangkatnya harkat dan derajat buruh .

Courtessy Picture : Metrotvnews.com

Senin, 14 April 2008

Ego Vs Prihatin


Semua orang entah itu kaya – miskin, Tua-Muda, disetiap sudut kota ini dinegara ini, ya…kalau bukan membicarakan film keluaran MD.Entertainment besutan karya sineas muda berbakat, Hanung Bramantyo yaitu Ayat – Ayat Cinta (AAC ).

Film yang bercerita segi empat antara seorang Pelajar Indonesia dengan tiga wanita berbagai macam latarbelakang ini tidak hanya ditonton lebih dari 3 juta penduduk Indonesia berdasarkan hasil penjualan tiket yang dihitung oleh jaringan bioskop 21 tetapi terdengar hingga orang – orang yang ada di kawasan Jl.Medan Merdeka – Jakarta, siapa lagi kalau bukan duo pemimpin kita H.Susilo Bambang Yudhoyono dan H.Jusuf Kalla, sang Wapres sudah terlebih dahulu nyolong start menonton film yang diambil dari Novel dengan judul yang sama karya Habiburrahman El Shirazy.

Setelah Wapres, langsung beberapa pejabat dan mantan pejabat mulai nonton film ini tercatat beberapa nama seperti Ketua MPR, Mantan Presiden RI Ke-5 Burhanuddi Jusuf “BJ” Habibie lalu kemudian sang orang nomor wahid di negara ini menonton setelah selama sepekan lebih melakukan tour negara ke sejumlah negara – negara di Asia dan Afrika termasuk diantaranya menghadiri Forum Organisasi Konfrensi Islam ( OKI ).

Penulis menulis ini bukan menyoroti tentang isi dan tetekbengek dari Film ini, tetapi penulis ingin menyorot daripada persiapan sebelum yang mimpin negara ini menonton, yang kabarnya harus rela ditutup mulai dari sore hari.

Memang SBY mengambil tempat untuk menonton film bersama dengan 80 orang Kolega Internasionalnya disalahsatu pusat hiburan yang ada di kawasan sekitar Stadion Gelora Bung Karno ( tidak usah menyebutkan nama, anda tentu sudah tahu nama tempat hiburan itu ).

Tetapi apakah dengan mengajak kolega Internasionalnya lantas harus menutup area hiburan tersebut khususnya aea bioskop dari pagi, kita tahu jam berapa jaringan bioskop yang nempel dengan mall buka dagangannya yaitu antara jam 11 hingga jam 12 atau dengan kata lain satu jam sebelum jam pertama film yang diputar di bioskop tersebut, kemudian SBY akan menonton film AAC di tempat itu jam pemutaran jam 20.00 itu berarti hampir sembilan jam bioskop tersebut tutup dan silakan hitung sendiri berapa kalkulasi mungkin kerugian dari pengelola bioskop tempat SBY nonton bila satu kepala dihargai dengan nominal Rp.35.000,-.

Saya mengerti kok dengan sistem protokoler dari secret service-nya Istana, karena saya juga pernah mempelajarinya dibangku kuliah, tapi kan bisa donk pengsterilisasi dari tempat itu empat jam sebelum sang punya hajatan datang, paling tidak kasih kesempatan kepada rakyat yang ingin menonton mungkin film itu, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapa yang membooking bioskop tersebut hingga bisa sampai ditutup, apakah dari dompet kulit SBY sendiri yang membayar semua kolega Internasionalnya termasuk staff secret service serta logisticnya seperti popcorn atau makanan kecil lainnya, atau jangan – jangan diambil dari dompet keperluan rumah tangga dan dapur Istana lagi, wah!! ( silakan berkomentar sendiri )

Saya bukan memojokkan atau membandingkan tetapi jika saya membandingkan perilaku SBY dan JK dalam menonton film AAC, saya lebih baik memilih JK karena apa ? karena saya lihat JK tidak mau menonton dengan fasilitas yang VVIP, dan itu terbukti dua kali yang pertama ketika menonton hajatannya penikmat musik yang diinspirasi oleh kaum pekerja di Amrik yaitu Jazz JK menonton pertunjukkan itu bersamaan dengan para rakyat yang menyukai pagelaran itu, dan yang kedua adalah ketika menonton film AAC, JK bersama beberapa tamu dan wartawan juga menonton tanpa (mungkin penulis tidak tahu ) ada sterilisasi dari protokoler.

Jadi tolonglah kepada para pemimpin bangsa, anda bisa duduk nyaman dengan fasilitas yang memadai karena dan oleh siapa ? karena rakyatlah yang telah memilih anda karena anda dimata 224 juta jiwa penduduk rakyat negeri termasuk penulis pantas untuk memimpin negara ini,jangan sampai karena anda sudah duduk nyaman diruangan AC yang mirip dengan udara pantai lupa dengan rakyat hanya karena menyalurkan hobi atau penasaran dengan fenomena alam seperti menonton film dibioskop.

Rabu, 28 November 2007

Etika Makan

Jika anda diundang ke sebuah jamuan formal, makan malam bersama pejabat misalnya, anda harus menyiapkan diri anda agar tidak kaku atau grogi. Tidak ada salahnya anda mulai belajar etika di meja makan. Banyak orang yang tak menghiraukan etika dan sopan santun di meja makan, padahal jangan salah, banyak kontrak bisnis sukses berawal dari meja makan.

Jika anda mampu menunjukkan sopan santun di meja makan, sebenarnya secara tidak langsung anda menunjukkan intelektualitas anda.

Sekarang mari mengandaikan anda diundang di sebuah restoran terkenal dengan meja makan yang sudah di setting sedemikian rupa.

Ini yang harus anda lakukan :

Pertama

Bila pelayan tidak memberikan anda duduk, Duduk dan tariklah bangku dengan dua tangan.

Kedua

Bukalah serbet atau napkin dengan wajar taruh di pangkuan anda

Ketiga

Jika anda sudah siap memesan menu, lihat daftar menu dengan wajar, jangan terlalu lama. Segera menunjuk menu yang anda pilih. Setelah itu biasanya pelayan mempersilakan anda mencicipi menu pembuka atau Appetizer.

Nah biasanya jamuan formal terdiri dari beberapa menu

Hidangan Pembuka (Appetizer)

Sebelum hidangan pembuka disajikan biasanya diatas meja disediakan roti sebagai panganan, anda bisa makan roti ini dengan tangan. Hidangan pembuka biasanya juga terdiri dari dua macam, Hot Appetizer dan Cold Appetizer. Hot Appetizer biasanya Sup. Aduklah sup itu perlahan, jangan dipangku ditangan anda, biarkan tetap diatas meja. Jangan sekali-kali meniup sup. Gunakan sendok sup yang sudah disediakan, biasanya lebih kecil. Kalau Cold Appetizer bisa berupa salad, ambil garpu di tangan kiri dan pisau di tangan kanan, sekali lagi pilihlah alat makan yang disediakan, biasanya lebih kecil dari alat makan hidangan utama. Janagn ragu-ragu mengelap mulut anda bila ada sisa makanan disana. Jangan mengelap dengan satu tangan.

Hidangan Utama (Main Course)

Nah hidangan utama sudah tiba, jangan salah kalau anda sedang diundang jamuan makan ala internasional, umumnya ada dua cara menyantap hidangan utama. Hidangan utama sering berupa daging, steik atau sea food. Bila menggunakan ala Amerika biasanya daging dipotong lebih dahulu baru disantap menggunakan sendok dengan tangan kanan. Cara Eropa lain lagi, biasanya langsung dipotong dengan pisau di tangan kanan lalau memakan dengan garpu di tangan kiri.
Hidangan Penutup (Dessert)

Puas menyantap hidangan utama, saatnya anda menikmati hidangan penutup. Hidangan penutup umumnya berupa makanan atau minuman dingin, seperti cocktail, ice cream atau jus. Jangan makan hidangan penutup langsung setelah anda menghabiskan makanan utama. Berilah waktu untuk perut anda. Setelah dirasa cukup dan hidangan penutup sudah siap, amkaan anda bisa menyantapnya. Bila hidangan pentup anda berupa minuman yang ada hiasan diatasnya. Makanlah hiasannya atau sisihakan terlebih dahulu. Baru minum isinya. (Yayat)

Sumber:kabarinews ( http://67.59.159.215/article.cfm?articleID=2276 )