Tampilkan postingan dengan label Subsidi rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Subsidi rakyat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2008

SBY… Penghematan apa lagi yang anda mau !


Beberapa hari ini DKI dan kota-kota di negara ini semakin lama semakin tidak menentu nasibnya karena hampir setiap jam selalu ada saja aksi demo yang dilakukan baik oleh mahasiswa atau masyarakat sehubungan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak – BBM yang tadinya berkisar di Rp. 4,500 sekarang menjadi Rp. 6,000 untuk satu liter, dan lebih parahnya adalah hari-hari ini harga minyak di pasar dunia menembus level US $ 145 untuk satu liter ( silakan anda konversikan sendiri dari Dollar Amerika ke Rupiah, capek ).

Setelah harga BBM menembus isu US $ 145, lantas apakah negara akan menaikkan kembali harga minyak setelah pemerintah melakukan kebohongan publik dimana pada tahun 2005 lalu dengan lantangnya sang Presiden di Istana ketika kalau tidak salah selepas melantik Kepala Staff mengatakan bahwa sehubungan dengan harga minyak yang melambung harga kebutuhan minyak di dalam negeri belum ada perubahan, tetapi kenyataannya malah NAIK !! ini jelas sekali kebohongan publik.

Belum lagi kabarnya Indonesia keluar dari induk organisasi penghasil minyak dunia atau OPEC, alasan keluar hanya untuk menekan dan mengawasi aliran minyak untuk kebutuhan dalam negeri tetapi usut punya usut negara kita sebelum menyatakan keluar dari organisasi OPEC sudah membayar uang keanggotaan sampai Desember tahun depan kalau seperti ini jelas rugi donk udah bayar keanggotaan malah keluar.

Ada apa dengan pemerintah yang semakin lama semakin tidak jelas menghadapi badai minyak dunia ini ibarat orang yang kebakaran jenggot. Sebenarnya kalau kita bisa melihat dari dampak harga minyak ini kita tidak perlu pusing karena kita sebagai penghasil minyak seharusnya kita bisa sabar dan bahkan untung karena kita juga mengekspor minyak, tetapi kenyataannya ?

Mungkin inilah karma yang diterima pemerintah dari Tuhan karena tidak beresnya kinerja daripada para pejabat terutama di sector migas yang seenaknya bahkan dibego-bego-in sama perusahaan minyak dunia, kita bisa lihat di tiap daerah negara ini pasti ada perusahaan minyak asing yang mana komposisi bagi hasilnya tidak jelas apakah yang untung pemerintah atau perusahaan minyak asing itu yang untung besar.

Seharusnya kita bisa menekan tingkat kegiatan dan bagi hasil dari perusahaan-perusahaan minyak asing itu, bagaimana caranya ? contohlah negara yang dipimpin oleh Presiden yang berlatar belakang petani koka Evo Morales yaitu Bolivia, dimana dalam hari-hari pertamanya menjabat sebagai Presiden Bolivia beliau mengundang semua kepala perwakilan dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sedang mengeksploitasi minyak di negaranya dan meminta mereka menandatangani kesepakatan bagi hasil dimana pemerintah Bolivia mendapatkan keuntungan dari eksploitasi perusahaan minyak asing itu sebanyak 70-85 % sedangkan perusahaan minyak tersebut hanya mendapatkan 15-20% saja, awalnya para perusahaan ini menolak dengan keras tapi lambat laun mereka lulu juga, kenapa juga model seperti ini diterapkan di Indonesia ?

Penghematan

Akibat dari harga minyak yang melambung ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan penghematan yang ditujukan kepada semua lapisan tapi kalau menurut penulis hanya di lapisan bawah saja yang disuruh berhemat, tetapi bagaimana denga lapisan atas ? sudah terbukti lewat sebuah tayangan dimana sejumlah gedung pemerintahan yang pada siang hari yang mana matahari sudah diatas kepala dan masuk ke ruangan masih menyalakan lampu, soal hemat bensin pun penulis masih sangsi dengan apa yang dianjurkan oleh Presiden karena presiden sendiri setiap melakukan kegiatan yang bersifat kenegaran berapa banyak liter bensin yang keluar jika presiden setiap kegiatan selalu dikawal dengan full kawalan paspamres, belum lagi jika keluar negeri untuk kunjungan kenegaraan atau menghadiri sebuah forum atau konfrensi tingkat kepala negara dan pemerintah.

Jadi saran penulis kepada pemerintah, tolong anda berkaca dulu sebelum anda berbicara atau memberikan wejangan kepada masyarakat lewat media, rakyat sudah dari jaman adam dan hawa melakukan yang namanya penghematan mulai dari listrik hingga bingung apalagi yang harus dihemat, maksudnya adalah berikanlah contoh kepada masyarakat negara ini yang jumlah hampir 220 juta jiwa ini bagaimana pengertian hemat dan bukti nyata dari kata hemat itu sendiri, kalau itu sudah bisa dijalankan secara otomatispun rakyat akan percaya dan akan melakukan apa yang pemerintah lakukan dalam hal berhemat bukan seperti saat ini.

Apakah benar pemerintah menganjurkan agar semua lapisan berhemat untuk menstabilkan konsumsi minyak bumi di negeri ini ? atau hanya lapisan bawah saja yang berhemat ? kita tunggu saja….

Rabu, 04 Juni 2008

Murnikah Aksi Mahasiswa ini


Beberapa minggu ini kita selalu disuguhkan berita-berita disetiap stasiun televisi tentang demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dalam menyikapi apa yang pemerintah lakukan yaitu menolak kenaikkan BBM, mulai dari demonstrasi yang biasa saja hingga demonstrasi yang berakibat tragis seperti yang disuguhkan di Universitas Nasional – Pejaten.

Tapi yang menjadi pertanyaan adalah murnikah dari nurani mereka dalam melakukan aksi mereka ini ? kita tahu bahwa beberapa hari setelah aksi demo ini, para pejabat intelejent di negara ini dari kantornya di wilayah Pejaten mengatakan bahwa aksi demo ini dikompori oleh sejumlah pihak salahsatunya adalah oleh mantan menteri.

Kalau menurut penulis apa yang dilakukan oleh para mahasiswa/.i dalam melakukan aksi misalnya menolak kenaikan BBM adalah murni kenapa ? karena merekalah yang paling utama merasakan dampaknya dari kenaikan BBM ini ketimbang para warga yang bisanya hanya jengkel atau menulis komentar yang menyudutkan aksi mahasiswa di situs-situs berita terkait dengan kegiatan demo mahasiswa, kita tahu hampir 80 % persen mahasiswa di negara ini adalah berasal dari keluarga yang tidak mampu yang mana mereka yang menuntut ilmu ke kota besar misalnya Jakarta, harus bisa menyiasati uang kiriminan yang tidak seberapa dengan keadaan yang tidak sesuai dengan uang yang diterima.

Soal mereka membakar ban, memblokir jalan, mencorat-coret mobil plat merah atau sampai bentrok dengan Polisi itu hanya sebagian efek dari aksi mereka, karena perbuatan mereka seperti itu hanya untuk mendapatkan perhatian masyarakat yang melintas untuk ikut bergabung, tapi banyak juga warga yang merasa jengkel bahkan menyalahkan para mahasiswa karena menghambat serta menghabiskan waktu mereka dijalan

Kalau menurut penulis, memang disatu sisi apa yang dilakukan oleh mahasiswa ini bisa membuat kenyaman, keamanan dan ketertiban masyarakat pengguna jalan jadi terganggu, tapi berkat mahasiswalah negara ini kita bisa bebas dari segala macam peraturan dan pasungan kebebasan yang dilancarkan oleh rezim dinasti cendana, seharusnya kita harus berterimakasih kepada mereka bukan mencibir mereka, memang dulu jaman dinasti Cendana negara ini aman, nyaman dan teratur, tapi keadaan itu justru membunuh demokrasi dan menciptakan korupsi dan berbagai skandal yang ibarat bom atom yang siap meledak, dan bom atom itu sudah meledak besar pada tahun 1998, walaupun semakin hari semakin tidak jelas negara ini, tetapi menurut penulis paling tidak negara ini bukan negara yang munafik, kita bisa lihat bagaimana dulu setiap mengambil kebijakan selalu mengatasnamakan rakyat tetapi hasilnya juga tidak ada untuk rakyat justru makin banyak rakyat miskin pada jaman itu tetapi selalu ditutup-tutupi

Dan satu lagi yang membuat penulis heran adalah, ketika membaca semua komentar para warga yang ada di setiap situs-situs berita yang berkaitan dengan aksi mahasiswa selalu menyudutkan para mahasiswa, padahal mereka juga sama dengan para mahasiswa menjadi korban dari pemerintah, bukan memberikan solusi yang terbaik bagi para mahasiswa dalam menolak kebijakan pemerintah.

Saran penulis kepada para pembaca dan pengunjung situs-situs berita yang selalu menulis komentar, anda janganlah sebagai orang paling munafik sedunia dan akherat dengan menghujat aksi dari para mahasiswa ini lewat komentar-komentar anda di situs-situs berita, kalau anda sama-sama dengan mahasiswa menjadi korban kebijakan pemerintah turunlah ke jalan, beri solusi kepada mahasiswa tindakan apa yang elegant, jangan bisanya menulis komentar yang sinis saja, penulis lebih mengacungi dua jempol kepada mahasiswa karena mereka bukan orang-orang munafik hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan BUKAN seperti anda…jadi kalau anda memang sebagai korban dari kebijakan pemerintah mari sama-sama kita turun ke jalan seperti pada tahun 1998 lalu…

Courtessy picture from metrotvnews.com and liputan6.com

Pengumuman BBM : Di Mana Kau Presiden RI..ngumpet ya ?


Walaupun banyak ditentang oleh semua lapisan masyarakat terutama mahasiswa sampai turun ke jalan besar-besaran akhirnya Pemerintah menaikkan juga harga minyak yang selama ini di subsidi yaitu mulai tanggal 24 Juni 2008 pkl.00.00 Waktu Indonesia Barat, Premium dengan harga Rp.6,000 kemudian Solar dengan harga Rp.5,500 dan minyak tanah Rp.2,500.

"Kita cari akal yang lain untuk tidak buru-buru menaikkan,"
Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono

Tetapi setelah pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak ini ada dua kampus yang menggelar aksi tersebut di depan kampus mereka yaitu kawan-kawan dari Universitas Nasional, Jakarta Timur dan Universitas Kristen Indonesia-Jakarta, walaupun sempat terjadi kejadian yang menurut penulis polisi terlalu lebay dalam mengamankan tempat mereka bertugas.

Kita hanya bisa pasrah saja dengan kenaikan harga minyak ini, kita bisa pahami bagaimana kesulitannya pemerintah dalam mensejajarkan harga kebutuhan minyak kita dengan kebutuhan minyak dunia, penulis bukan mendukung kebijakan pemerintah justru penulis dalam kehidupan sehari-hari sama seperti rakyat yang terus memikirkan besok apakah bisa makan dengan kondisi saat ini, tapi apa salahnya pemerintah melihat lagi bagaimana kondisi rakyat sekarang dimana harus menunggu selama hampir 12 jam di depot hanya untuk mendapatkan 1-2 liter minyak tanah, belum lagi di luar pulau Jawa yang nasibnya tidak jauh beda dengan nasib para penunggu minyak tanah, bahkan berhari-hari.

Tetapi yang ada mengganjal dalam hati penulis ketika pengumuman itu berlangsung dan di jadikan Breaking News di stasiun televisi yaitu DI MANA PRESIDEN BERADA ? bukankah seharusnya Presiden Republik Indonesia Yang Mulia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang mengumumkan dan menjelaskan kepada rakyat Indonesia kenapa Indonesia harus menaikkan harga bahan bakar minyak, KENAPA Menteri Keuangan Republik Indonesia Yang Mulia Ibu Sri Mulyani, dan kenapa juga pengumuman itu berlangsung di Kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia kawasan Lapangan Banteng BUKAN di Istana Negara Kawasan Medan Merdeka ?

Dengan sangat berat dan terpaksa pemerintah menempuh opsi mengurangi subsidi BBM “
Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono
( Sabtu 24/5-2008 )

Menurut analisa awam penulis, Presiden sudah kehilangan pamornya sehingga supaya tidak hilang dan terperosok pamornya di depan rakyat atau konstituennya yang rata-rata orang miskin yang tahun 2004 memilihnya sebagai RI1 dan RI2 lebih baik bersembunyi dan duduk manis didepan televisi menyaksikan dan mendengarkan komunikasi politik dari pembantunya mungkin ditemani secangkir kopi hitam atau teh manis dengan sepiring kacang goreng atau pisang goreng, karena kalau sampai Presiden yang memberikan pernyataan, itu berarti Presiden menelan ludah sendiri karena pada tahun 2005 ketika krisis minyak dunia seperti sekarang Presiden secara terbuka dan direkam oleh sejumlah pihak termasuk wartawan cetak dan televisi serta online ( silakan kawan-kawan wartawan, buka kembali isi kaset yang anda rekam dan beritahu masyarakat luas melalui kaset itu apa yang terucap oleh SBY dari mulutnya ketika memberikan pernyataan soal isu harga minyak dunia naik ) yang mengatakan bahwa bahan bakar minyak di Indonesia TIDAK AKAN naik, tetapi kenyataan sekarang ? apakah ini sifat dari seorang pemimpin ?

BBM sudah naik itu berarti program Bantuan Tunai Langsung Plus- BLT Plus segera keluar dengan dana satu keluarga dihargai Rp.100,000 untuk satu bulan selama setahun dan ditambah beras serta kebutuhan pokok lainya, yang menjadi pertanyaan adalah apakah efektif dana itu untuk kebutuhan sehari-hari rakyat miskin bila kita bandingkan dengan kebutuhan yang ada diluar rumah mereka, sementara pemerintah berasumsi dengan adanya BLT jilid dua rakyat akan semakain terbantu, masalahnya adalah bagaimana kalau data yang digunakan pada BLT jilid satu berbeda jauh dengan keadaan sekarang, dimana mungkin yang kemarin menerima sekarang sudah meninggal atau sudah pindah, lalu kemana itu dana untuk orang yang sekarang mungkin sudah meninggal atau pindahan apakah disimpan dalam kas negara atau masuk kantong pegawai pos ? sementara jumlah rakyat miskin baru semakin hari dalam hitungan jam semakin bertambah

Menurut penulis, apa yang dilakukan oleh pemerintah sepertinya hanya bersifat (maaf) hangat-hangat tahi ayam dimana tiga bulan awal saja kegiatan ini berlangsung dan direkam oleh kalangan media, dan para pemimpin bangsa ini bangga bisa menyelamatkan nasib rakyat miskin, tetapi bagaimana dengan tiga-bulan setelah itu apakah masih seperti tiga bulan diawal ?

Memang yang dibutuhkan rakyat terutama kaum miskin dan papa adalah mereka bisa mendapatkan kebutuhan mereka terutama sembako dengan layak dan terjangkau, bukan seperti saat ini dimana semua kebutuhan mahal dan kalaupun ada bantuan misalnya beras raskin, kondisi dari beras itu tidak sesuai dengan kondisi beras yang sebenarnya malahan yang ada kondisi beras yang sangat tidak wajar untuk di konsumsi walaupun itu sering dibantah oleh pemerintah melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Apakah program pemerintah jilid kedua ini akan lancar dan mencapai sasaran walaupun sejumlah daerah ada yang menolak kebijakan dari pusat ini melihat pengalaman dari jilid satu yang tidak mencapai sasaran ? kita lihat saja perkembangannya apakah rakyat miskin di negara ini sudah berkurang hingga tidak ada lagi karena program ini yang tepat sasaran atau malah makin banyak rakyat miskin baru dalam hitungan jam-nya di negara ini.

Dan catatan buat para aparat yang selalu menjaga garis depan dan selalu berhadapan satu lawan satu setiap rekan-rekan mahasiswa berdemo dan tentunya para komandan lapangan INGAT !!! Baju dinas anda, Celana cokelat dinas anda, sepatu dan kaus kaki anda, mobil dan motor patroli, HT, pentungan, pistol dan peluru termasuk senapan Gas Air mata itu anda dapat DARI UANG RAKYAT termasuk mahasiswa yang membayar pajak, jadi JANGAN CARI MUKA !!! kita sama – sama tahulah anda sebenarnya juga menolak kebijakan yang dikeluarkan dari panglima tertinggi anda, tapi karena tugas negara yang mewajibkan anda tegas, tapi TOLONG !! Hargailah Demokrasi dan kegiatan apresiasi dari kawan-kawan mahasiswa terhadap suatu isu, jangan asal main tangkap, pelintir leher mahasiswa, sekarang kalau ternyata yang anda pelintir adalah anak dari komandan anda atau anak dari kawan anda atau anak anda dipelintir oleh kawan anda bagaimana penjelasan anda ?

Negara ini Belum Bangkit dan Merdeka dari arti sebenarnya di lapangan dan dimata masyarakat miskin dan kaum papa….

Jumat, 23 Mei 2008

Rp.100,000/bulan


Nominal Rupiah diatas adalah harga yang di tampar pemerintah kepada rakyat Indonesia yang masuk kategori miskin sebagai imbal balik atau ganti rugi (?) dari kenaikkan harga Bahan Bakar Minyak-BBM yang pemerintah akan canangkan jika harus naik dengan melihat kondisi pasar minyak dunia.

Yang menjadi pertanyaan saat ini yang membuat penulis agak heran adalah, Apakah bisa dengan uang Rp.100,000 digunakan untuk dunia perdapuran rakyat miskin walaupun nantinya juga akan diberikan beras untuk rakyat miskin-raskin serta minyak goreng, apa bisa ? secara kita tahu bagaimana harga kebutuhan pokok saat ini yang mana semakin hari semakin tidak menentu harganya.

Menurut penulis harga yang diberikan oleh pemerintah yaitu Rp.100,000/ bulan dan akan diberikan selama 1 tahun terlalu kecil dan penulis melihat sepertinya pemerintah tidak berniat untuk membantu rakyat miskin yang kesannya main-main, padahal rakyat miskin inilah ujung tombak dari keberhasilan sang RI 1 dan 2 duduk manis memimpin negara ini tapi nyatanya ?

Selain itu juga syarat dan ketentuan yang dikeluarkan pemerintah seperti berbau diskriminasi dimana hanya keluarga yang tercatat saja yang mendapatkan dana itu, itu berarti bahwa pemerintah menggunakan data lama ketika pemerintah membuat kebijakan tentang BLT-Bantuan Langsung Tunai yang sebesar Rp.300,000/bulan selama tiga bulan sekali, dan tertutup untuk keluarga yang baru mendapatkan predikat miskin.

Kalau benar itu berarti pemerintah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya ( binatang saja tidak mau masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya ) kita bisa lihat bagaimana gagal totalnya program Bantuan Langsung Tunai-BLT jilid satu dimana rakyat yang masuk kategori miskin yang mana Rp.300,000 itu untuk tiga bulan jadi selama satu tahun rakyat misin mendapatkan dana Rp.900,000 dari program BLT jilid satu, kenapa pemerintah gagal dalam program ini dikarenakan pemerintah tidak bisa menjelaskan pengertian yang seperti apa rakyat yang masuk kategori Miskin, apakah pendapatannya kurang dari Rp.10,000 atau rumahnya beralaskan tanah atau apa, tetapi kenyataan dilapangan banyak kupon BLT itu berada ditangan orang-orang yang menurut penulis tidak seharusnya dapat, apakah bisa dikategorikan miskin jika mereka mengambil dana itu dengan menggunakan sepeda motor.

Sekarang program BLT jilid dua akan segera diluncurkan dengan harga yang lebih murah lagi yaitu Rp.100,000/ bulan walaupun jangkauannya selama 1 tahun dan yang menerima hanya orang miskin yang sudah terdata, sementara orang miskin baru tidak akan mendapatkannya, lalu bagimana dengan nasib orang miskin baru yang tidak dapat kompensasi ini apakah harus menunggu untuk di data atau menunggu sampai ada BLT jilid ketiga yang entah kapan dilaksanakan.

Sudahlah.. pemerintah tidak usah lagi membuat kebijakan dengan mengatasnamakan untuk kepentingan rakyat kecil, karena kita tahu program yang baru ini tidak akan jauh berbeda dengan program yang sudah ada paling ujung-ujungnya gatot alias gagal total.

Lebih baik benahi dulu sarana untuk membuat program itu, seperti data kependudukan jangan sampai data kependudukan versi pemerintah yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dalam kategori miskin berbeda sangat jauh dengan data yang dikeluarkan sejumlah badan atau LSM, selain itu juga harus ditetapkan apa pengertian dan dasar daripada kata kemiskinan itu sendiri, kalau menurut penulis yang dimaksud dengan kemiskinan adalah, pertama, pendapatan dalam sehari kurang dari Rp.10,000; kedua, didalam rumah tidak terdapat peralatan yang kapasitas listriknya kurang dari standarisasi yang dikeluarkan perusahaan listrik atau kata lain belum ada listrik,

Kalau ini sudah dijalankan, rakyat akan mendukungnya bukan seperti saat ini….

BBM Vs Rakyat Miskin

Beberapa hari ini tensi perpolitikan di negara ini semakin lama semakin panas hampir sama panasnya dengan isue pemanasan global, dimana berkaitan dengan semakin tingginya harga minyak dunia yang hampir menembus angka US$ 120 membuat negara-negara berkembang termasuk Indonesia harus pasang kuda-kuda untuk menyesuaikan dengan harga itu yaitu dengan sedikit menaikkan harga minyak didalam negeri.

“ Jadi setiap ada demonstrasi menyatakan tidak setuju ( kenaikan harga BBM), sama dengan mengurangi rejeki orang miskin “ Jusuf Kalla

Tapi dengan sedikit menaikkan harga minyak di dalam negeri supaya tidak tekor dengan harga minyak dunia apakah bisa menjamin segala kebutuhan minyak dalam negeri terutama kebutuhan pokok masyarakat, ternyata tidak karena jauh sebelum isue kenaikan BBM saja kebutuhan rumahtangga sudah melonjak sangat tinggi sekali apalagi ketika isue ini di benar diluapkan bukan lagi sekedar isapan jempol saja.

Akibat dari isue ini banyak kejadian dibeberapa daerah di Indonesia, dimana sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum ( SPBU ) mengalami kelangkaan BBM sehingga ratusan kilometer kendaraan bermotor antre untuk mendapatkan beberapa liter saja, belum lagi banyaknya demonstrasi yang digalang oleh kawan-kawan mahasiswa untuk memperlambat dan mengkaji ulang kebijakan pemerintah soal adanya kenaikkan BBM ini. Disaat maraknya demonstrasi menentang pemerintah menaikkan harga BBM secara tidak terduga sang pedagang RI 2 mengeluarkan pendapatnya yang menurut penulis agak konyol dengan apa yang diucapkan dengan realita yang ada yaitu dimana jika kenaikan BBM dibatalkan, sama artinya dengan membatalkan kebijakan pemerintah memberikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin.

“ Selama ini subsidi untuk BBM, khususnya Bensin, justru lebih dinikmati masyarakat mampu “
Jusuf Kall – Wakil Presiden Republik Indonesia

Adakah yang salah dengan ucapan-ucapan yang terlontar (mungkin) langsung tanpa dipikir dari mulut sang Wapres ini ? kalau menurut penulis ada sedikit kurang beres dari ucapan sang pedagang ini yaitu kalau dilihat komunikasi politik (gaya banget ya kayak ngerti aja apa itu komunikasi politik) kurang enak didengar dimana sang pedagang mengatakan bahwa banyak demonstrasi yang menentang kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM berarti menghambat kerja pemerintah untuk memberikan bantuan langsung tunai kepada masyarakat miskin.

Tunggu dulu, masyarakat miskin yang mana menurut pemerintah dalam hal pandangan dan pikiran dari sang wapres, dimana bantuan pemerintah hanya berhak diterima rakyat jika harga BBM dinaikkan, itu artinya rakyat harus baru berhak mendapatkan dari pemerintah setelah pemerintah terlebih dahulu mengambil dari rakyat miskin, dalam pikiran orang waras bahwa apa yang pemerintah lakukan adalah NOL besar dalam artian sebenarnya pemerintah tidak melakukan program apa-apa untuk kesejahteraan rakyat miskin.

Kita bisa lihat program Bantuan Langsung Tunai-BLT beberapa tahun lalu, apakah semua rakyat miskin mendapatkannya ? ternyata tidak semua bahkan ada satu wilayah yang benar-benar masuk kategori miskin tidak mendapatkan selembar kertas yang terdiri dari tiga kupon yang isinya masing-masing Rp.300,000 untuk tiga bulan, justru yang berkategori mapan misalnya memiliki kendaraan roda dua yang mendapatkan ini atau keluarga dari para raja kecil diwilayah itu.

BLT Rp.300,000 saja masih saja belum ada yang mendapatkannya apalagi BLT jilid kedua yang kabarnya akan keluar dengan nominal Rp.100,000 sebulan (?), pertanyaannya adalah apakah BLT jilid dua ini bisa sukses dan merata jika kita melihat peristiwa jilid satu ini secara jumlah orang miskin ketika BLT jilid satu berbeda atau bertambah banyak dengan sekarang? Jadi jangan berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS saja, coba lihat data miskin rakyat Indonesia yang dikeluarkan oleh badan-badan internasional.

Menurut penulis sudahlah pemerintah jangan lagi memberikan angin surga kepada masyarakat tetapi kenyataannya apa, rakyat juga yang sengsara bukan, lagipula Pemerintah melalui pernyataannya yang disaksikan oleh lebih dari 220 juta jiwa rakyat dari ujung Sumatera hingga ujung Papua dan direkam oleh sejumlah wartawan baik cetak maupun elektronik baik dalam maupun luar negeri yang biasa bertugas di Istana yang mengatakan bahwa BBM tidak akan naik lagi setelah dua kali naik yaitu pada bulan Maret dan Oktober 2005.

Alasan yang diberikan pemerintah ketika dua kali menaikkan BBM adalah ini adalah solusi terakhir, tapi apakah masyarakat mendapatkan hasil nyata dan nikmat dari solusi dan kebijkan pemerintah dalam dua kali menaikkan BBM ini ?

Sebenarnya bisa saja kok menahan agar BBM tidak naik yaitu dengan cara penghematan, seperti penghapusan tunjangan bensin yang ditujukan kepada para pejabat mulai dari Presiden hingga anggota dewan baik pusat maupun daerah, supaya mereka bisa merasakan bagaimana rakyat susah mencari BBM, karena selama ini para pejabat sudah otomatis setiap bulan tangki bensinnya diisi langsung oleh pertamina, kedua, lebih tingkatkan lagi pengawasan internal dari Pertamina, karena kita sering mendengar dan membaca di media bahwa banyak penyimpangan pengiriman BBM yang sebenarnya untuk rakyat digunakan untuk bisnis dan ketika tertangkap para pelaku selalu menyebutkan bahwa ini semua ada peran dari dalam, walaupun sering di bantah oleh Humas Perusahaan itu.

Kalau memang harus dinaikkan, sebelum dinaikkan pemerintah melalui kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia menata kembali sarana prasarana yang ada diperusahaan migas tersebut, jangan sampai kenaikkan itu terjadi tetapi pasokan minyak di seluruh Indonesia terutama di luar pulau jawa terbengkalai sama seperti sebelum naik, atau seperti sekarang ini, kalau itu sudah dilaksanakan maka rakyat pun tidak akan marah dengan kenaikkan harga BBM ini.

Akankah Harga BBM ini menjadikan jumlah penduduk kategori miskin akan bertambah atau sebaliknya…kita lihat saja nanti ?

Senin, 12 Mei 2008

SBY-JK, Apa Kerja Kalian untuk Rakyat !


Tidak terasa satu tahun menuju tahun 2009 tinggal menghitung enam bulan lagi, memangnya ada apa di tahun 2009 ini ?

Tahun 2009 adalah tahun terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berada dilingkungan Istana Merdeka, yang digunakan sebagai tempat kerja dan tempat tinggal karena akan diisi oleh seseorang yang telah dipilih oleh 224 juta jiwa penduduk Indonesia termasuk beliau dan keluarga melalui pesta demokrasi yaitu Pemilu.

SBY-JK..Apa kerja Kalian untuk rakyat? Mungkin itu pertanyaan yang ada dibenak penulis ketika melihat nasib bangsa ini terutama rakyatnya yang tidak menentu dari hari ke hari. Kita bisa lihat di koran selalu ada saja rakyat yang merasa didiskriminasikan terutama dalam hal ekonomi.

Anda semuanya tentu ingat tentang berita kematian seorang ibu beserta anak-anaknya diatas tempat tidur dirumahnya di Makassar karena tidak ada dana untuk membeli makanan untuk dimakan, sebenarnya ini menjadi tanggung jawab pemerintah terutama pemerintah kota Makassar walaupun pihak Pemda berkelit dengan menuduhkan sang suaminya yang tidak bisa menjalankan perannya sebagai kepala keluarga karena sering mabuk-mabukkan, tetapi bagaimana suami bisa menjalankan sebagai kepala keluarga kalau dalam mencari nafkah saja susah karena tuntutan kebutuhan yang mau dipenuhi harus di naikkan oleh pemerintah..itu berarti kesalahan ada di pemerintah tidak bisa melindungi dan mensejahterakan rakyatnya.

Belum lagi ada tiga ibu di Pulau Jawa dengan tega dan meyakinkan meracun diri bersama anak mereka karena ya seperti di Makassar tidak mampu lagi bertahan hidup dengan situasi ekonomi rumah mereka bersaing dengan ekonomi diluar rumah mereka..

SBY-JK..Apa Kerja Kalian Untuk Rakyat…?Naiknya harga kebutuhan pokok dan juga langkanya bahan bakar minyak dalam hal ini minyak tanah membuat sebagian keluarga harus hidup dengan super sangat sederhana, untuk makan saja mereka harus berhemat bahkan harus makan nasi aking, sampai ada calon presiden yang mengatakan didepan rakyat kecil dan ditayangkan serta direkam oleh sejumlah wartawan bahwa nasi aking itu enak walaupun itu diralat.

Belum lagi banyaknya buruh pabrik dan karyawan yang di PHK secara sepihak dengan alasan tidak untungnya usaha perusahaan tempat buruh dan karyawan ini bekerja, tetapi hak-hak dari karyawan dan buruh ini setelah di PHK tidak pernah diberikan bahkan ditinggal begitu saja oleh pemilik saham perusahaan itu.

SBY-JK…Apa Kerja Kalian Untuk Rakyat..? disaat pemimpin bangsa ini meneriakkan lawan korupsi tetapi masih banyak koruptor berkeliaran diluar sana yang membawa uang yang seharusnya untuk rakyat miskin tanpa ada usaha ditangkap dan diadili. Kemudian adanya kerusakan alam yang dibuat oleh perusahaan yang pemiliknya masuk dalam list orang terkaya di Indonesia versi majalah ekonomi internasional, tetapi pemerintah malah kemayu membiarkan perusahaan ini tidak menepati janjinya untuk ganti rugi malah menyuruh pemerintah yang menggantinya dengan alasan perusahaan ini tidak punya dana lagi (?), dan jangan salah bila sekarang ini banyak praktek-praktek atau maraknya industri pornografi termasuk makin banyaknya PSK, Gigolo, yang hasilnya mereka dapat dari para pejabat dan orang berduit karena ya itu tadi derasnya aliran dana korupsi dan juga tuntutan kebutuhan perut dan dapur sehingga banyak wanita dan pria Indonesia mulai dari usia produktif sudah harus memikirkan nasib dapur ibunya dan kebutuhan perutnya dengan cara yang seperti yang penulis tuliskan di atas.

SBY-JK..Apa Kerja Kalian Untuk Rakyat… ?Banyak siswa sekolah lanjutan dan menengah yang pusing ketika memasuki tahun terakhir mereka karena harus dituntut lulus dengan angka tertentu yang dikeluarkan pemerintah secara sama rata dari ujung sumatera hingga ujung papua tanpa melihat bagaimana potensi anak itu bisa atau tidak mengerjakan dan memahami dari soal yang diberikan pada saat ujian dengan pada saat belajar sehari-hari di sekolahnya.

SBY-JK apa kerja kalian untuk rakyat… mungkin itulah kesimpulan yang ada untuk bertanya kepada mereka berdua yang tahun 2004 terpilih secara meyakinkan oleh 220 juta jiwa rakyat Indonesia untuk menggantikan RI 1 sebelumnya yaitu Megawati Soekarnoputri.

Karena selama duet pemimpin ini memimpin negara ini pengamatan penulis tidak ada kejutan yang sangat fantastis terutama berkaitan dengan rakyat kecil, yang ada hanya bergerak di tempatnya saja atau kalau boleh mengutip ucapan sang mantan RI 1 mbak Mega mengatakan bahwa negara ini adalah negara poco-poco dimana ada satu kemajuan tetapi dilain pihak malah mengalami kemunduran dan itulah yang terjadi.

Apakah sampai ujung berakhirnya duet ini memimpin negara ini sampai ada penggantinya, duet ini bisa mengangkat rakyat jelata untuk bisa hidup mapan dan angka kemiskinan menurun atau bertambah ? hanya mereka berdua yang tahu…

SBY-JK…Apa Kerja Kalian untuk Rakyat ! ( bersambung )

15,68 Juta Jiwa

Angka diatas bukan sekedar angka yang iseng penulis tuliskan sebagai judul, tetapi angka diatas adalah jumlah penduduk Indonesia mendatang yang masuk kategori orang miskin baru, maksudnya ?

Iya 15,68 Juta Jiwa nantinya tergabung dalam kelompok orang miskin baru angka itu dikeluarkan oleh suatu badan atau lembaga kajian berkaitan dengan adanya upaya Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan RI 1 untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak-BBM yang kabarnya akan mencapai 30 % dikarenakan harga minyak dunia yang sudah menembus angka US$120 perbarel.

Sedangkan kalau membandingkan dengan angka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik-BPS bahwa angka orang miskin versi badan bentukan pemerintah ini adalah16,85 persen dari total populasi atau sekitar 36,8 juta jiwa..WOW !! beda sekali jumlahnya…

Memang kita tidak bisa pungkiri bagaimana krisisnya dunia ini yang dimulai dari negaranya Bush dimana kredit Kepemilikan rumah atau KPR disana mengalami penurunan sehingga berdampak juga kepada harga minyak dunia yang naik-turun bahkan sempat naik ke level 120 dollar perbarel sehingga seluruh negara di dunia merasakan dampaknya termasuk negara berkembang seperti Indonesia.

Seperti kasus ini, pemerintah sebenarnya dilema dan ibarat makan buah simalakama dimana jika harga minyak terutama bensin dinaikkan maka makin banyak rakyat yang sudah miskin makin jatuh miskin lagi, tetapi kalau tidak dinaikkan maka semua sektor akan mengalami kerugian atau nombok karena harus menanggung segala biaya produksi.

Saran penulis kepada para pemimpin bangsa ini, kalau memang mau menaikkan harga minyak naikkan saja tetapi dengan catatan tidak ada lagi penyimpangan seperti yang ada sekarang dimana masih ada saja spekulan yang menimbun minyak demi kepentingan perutnya saja tanpa memikirkan nasib rakyat yang sudah berjam-jam mengantre tanpa membawa hasil.

Dan juga harus dilihat lagi bagaimana dengan rakyat kecil, apakah mereka masih bisa mendapatkan dan menikmati minyak itu dengan terjangkau dan tersedia dimana walaupun harganya mahal, jangan sampai seperti beberapa tahun lalu dimana pemerintah membentuk program Bantuan Langsung Tunai-BLT dimana setiap bulan orang miskin mendapatkan dana Rp.300,000 untuk kebutuhannya termasuk minyak tetapi kenyataannya masih banyak yang tidak mendapatkannya bahkan orang berduit bisa dapat kupon itu, ini sangat aneh dan janggal.

Apakah angka kemiskinan di negara kita ini bertambah banyak bahkan lebih banyak orang miskinnya daripada orang kaya atau sebaliknya sama rata dengan segala permasalahan yang ada saat ini, hanya Tuhan dan pemerintah kitalah yang tahu bagaimana melayani rakyat, jangan hanya pada kampanye dan pemilu saja mereka melayani dan mendengarkan rakyat tetapi begitu duduk nyaman di kursi empuk semua yang mereka dengarkan dan janji serta rayuan gombalnya yang setinggi langit tidak di realisasikan.

Jumat, 02 Mei 2008

Berkacalah SBY Sebelum Kaca Meng-Kacai Anda


Hari Rabu (30/4/2008) malam kemarin pukul 20.30 waktu Indonesia barat, disebuah stasiun televisi penulis menyaksikan pidato Presiden SBY dipodium kebanggaannya yang disiarkan langsung dari Istana Negara.

Presiden berpidato soal isu yang beredar saat ini dimana hampir seluruh dunia merasakan dampak dari kegagalan ekonomi dari negara adikuasa Amerika Serikat, seperti harga pangan yang semakin lama semakin mencekik leher dan masih banyak lagi. Tapi Presiden secara khusu mengimbau dan menginstruksikan jajarannya seperti institusi negara dan pemerintahan serta swasta untuk melakukan langkah penghematan.

Adakah yang salah dari pernyataan Presiden soal penghematan seperti penghematan BBM, listrik dan lainnya ? menurut penulis tidak ada yang salah dengan pernyataan Presiden tapi hanya geli dan tersenyum miris mendengarkan pernyataan presiden ini jika dilihat kenyataan ibarat bumi dan langit atau tong kosong nyaring bunyinya.

“ Saya juga berharap karena besarnya subsidi yang dikeluarkan untuk BBM dan listrik tempat-tempat hiburan, belanja, mall dan sebagainya dapat melakukan penghematan yang sungguh-sungguh”
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Soal penghematan sendiri, baik penghematan listrik, BBM dan sebagainya rakyat termasuk penulis sudah melakukan sehemat mungkin dengan anjuran yang diterapkan pemerintah, seperti mematikan dua lampu yang berdaya 100 watt pada pukul 17.00-22.00 terus menggunakan lampu hemat energi, tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang adalah sudahkah para institusi ini baik perkantoran mereka atau secara individu misalnya rumah dan kendaraan mereka melakukan penghematan baik listrik maupun BBM ?

Kita bisa lihat bagaimana kantor-kantor pemerintahan baik setingkat Departement hingga lembaga setingkat menteri negara disetiap ruangannya masih terdapat lampu menyala padahal matahari sudah diatas kepala kita, kemudian pada saat jam istirahat baik makan siang atau jumaatan, kita bisa lihat bagaiaman ruangan-ruangan kantor pemerintahan masih ada lampu, AC yang dinyalakan serta komputer dan televisi yang hanya di switch-of bukan dimatikan total, bahkan masih menyala inikah bentuk penghematan dari pada kantor instusi pemerintahan?

Ini sudah yang kedua kalinya Presiden menghimbau agar semua lapisan melakukan penghematan disemua bidang, tapi mana kenyataannya ?

Soal penghematan BBM, penulis justru ingin mensentil dan memberikan kaca besar sekali kepada Presiden jika dikasih waktu untuk berkunjung ke Istana ? kenapa ingin mensentil dan memberikan kaca besar ? karena apa yang diucapkan Presiden SBY soal penghematan BBM membuat penulis tertawa terbahak-bahak, kenapa kaca besar karena mungkin Presiden tidak punya kaca yang sangat besar sekali di Istana atau di Cikeas agar bisa berkaca dan meresapi ucapannya dengan keadaan disekitarnya.

Soal penghematan BBM coba sekarang mari kita berhitung khususnya kepada Presiden dan Wakil Presiden baik, berapa banyak kendaraan baik roda dua dan roda empat yang digunakan untuk mengawal Presiden dan Wakil Presiden di jalan raya ketika melakukan kunjungan baik resmi maupun tidak dalam satu hari atau dalam satu bulan? berapa liter BBM yang dituang kedalam tangki mobil para pengawal dan mobil resmi Presiden dan Wakil Presiden setiap Presiden dan Wakil Presiden berkunjung, berapa liter BBM yang dituang ke dalam tangki bensin berbagai jenis pesawat jika Presiden dan Wakil Presiden berkunjung baik ke daerah maupun ke mancanegara untuk sekali jalan belum termasuk transit disatu negara atau pulang ke tanah air ? silakan hitung dan itu jumlahnya sangat besar sekali karena kapasitas mesin dari setiap jenis kendaraan berbeda dan diatas kapitas mesin kendaraan yang beredar di jalan saat ini.

Bukankah itu jenis pemborosan ? lalu apa gunanya ucapan Presiden soal hemat BBM kalau yang menganjurkannya justru melakukan pemborosan ? betul tidak ?

Saran penulis sich kepada pemerintah soal penghematan segala jenis yaitu, pertama untuk penghematan BBM pemerintah tidak lagi memberikan bantuan atau dispensasi kepada para pejabat negara ini mulai dari mungkin Paspampres, pejabat negara mulai dari Presiden hingga kepala daerah yang selama ini mendapatkan tunjangan Bensin setiap bulan berupa karcis per-150 liter agar DI STOP dan harus bisa merogoh kocek dari dompetnya untuk membeli bensin sendiri sama seperti rakyat jelata yang antre bensin dan minyak tanah serta gas elpiji di SPBU-SPBU, bukankah gaji para pejabat ini mulai dari Presiden hingga Bupati termasuk para pejabat militer diatas Rp.5 juta perbulan baru gaji pokok, Termasuk diantaranya juga dispensasi dan tunjangan listrik yang selama ini rumah pejabat disetiap bulannya dibayarkan langsung oleh pemerintah.

Soal mobil kawalan Presiden dan Wakil Presiden jika berkunjung yang panjangnya hampir sama panjangnya dengan ular Boa, menurut penulis bisa dikurangi, memangnya negara kita negara yang setiap hari penuh dengan bom dan rentetan tembakan yang tidak jelas arahnya seperti yang terjadi di Afganistan, Irak, Palestina kalau negara kita seperti tiga negara yang penulis sebutkan tadi, banyaknya mobil kawalan tidak menjadi masalah, tapi kalau negara kita adem ayem lebih baik dikurangi memangnya semakin banyak kawalan yang melindungi mobil Presiden dan Wakil Presiden yang berkunjung semakin aman, tetapi semakin marah juga emosi pengendara yang tiba-tiba harus menunggu belasan menit bahkan satu jam hanya untuk memberikan jalan kepada para pengawal ini dan tentunya menambah kemacetan yang mana jalan-jalan di Jakarta sudah macet dengan adanya rombongan ini makin tambah macet

Jadi pesan penulis kepada pemerintah, sebelum melakukan atau membuat pernyataan yang nantinya disiarkan dan direkam disemua media baik elektronik maupun cetak maupun online baik dinegara sendiri atau negara luar agar dipikir terlebih dahulu apakah lingkungan sekitar sudah melakukan atau belum jangan sampai ya..tadi tong kosong nyaring bunyinya. Betul tidak !

Selasa, 11 Desember 2007

Premium Di Batasi !…Bagus Donk

Ini peringatan buat para pengguna mobil pribadi dimana Pertamina sebagai perusahaan milik negara yang bertugas mengawasi dan membuat regulasi bahan bakar untuk negara ini mengeluarkan ketentuan dimana penggunaan premium akan dibatasi terutama untuk mobil pribadi,dengan asumsi kalau itu dilaksanakan berarti pemerintah bisa menghemat subsidi BBM.

Menurut penulis langkah pemerintah dalam hal ini Pertamina sangat tepat tapi sudah agak terlambat,karena seharusnya yang seperti ini dilakukan jauh hari supaya pasokan minyak tidak berkurang lagi terutama di daerah dan juga dengan kebijakan ini paling tidak tingkat kemacetan di jalan ibukota yang sekarang-sekarang ini terutama selepas lebaran kemaren parah bisa sedikit longgar bahkan lancar.karena kalau ini diberlakukan berarti para pengguna mobil pribadi akan berpikir dua kali jika ingin menggunakan mobilnya untuk beraktivitas.

Tapi dimana ada positif pasti ada negatifnya begitu juga dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Pertamina dan Pemerintah karena dengan adanya kebijakan ini selain makin berpikir dua kali menggunakan kendaraan bermotor dan juga bagi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum ( SPBU ) asing seperti Shell dan Petronas akan meraup keuntungan besar kenapa ? karena Pertamina akan mengurangi Premium dan menasionalkan Pertamax dengan kadar yang tinggi dan tentunya harga Pertamax-nya Pertamina selalu mengikuti pasar seperti kurs mata uang Dollar dan juga kualitasnya menurut penulis belum teruji,sedangkan Pertamax dan bahan bakar yang di jual oleh SPBU asing boleh dibilang sudah teruji kualitas dan sesuai dengan standarnya,kalau dibilang hemat ya hemat,tidak mencemarkan polusi udara ya kenyataannya dan harganya pun selalu stabil bahkan turun alias murah dan hemat, coba bandingkan dengan kondisi bahan bakar yang di buat oleh Pertamina.

Soal pengalihan subsidi ini menurut penulis tidak sepenuhnya berhasil karena kita bisa lihat berapa kali Pemerintah memakai kata-kata subsidi tetapi kenyataannya rakyat kecil dan jelata tidak merasakannya,apalagi dalam hal ini penggunaan Premium dibatasi sehingga hemat anggaran belanja,apakah rakyat kecil dan jelata bisa merasakan dari hematnya pengurangan BBM ini ?

Saran penulis sich sebenarnya perbaiki dulu kualitas dari bahan bakar itu,hidupkan lagi depot-depot yang sekarang kondisinya sudah tidak layak menjadi layak supaya tidak lagi terdengar pasokan minyak baik minyak tanah maupun bahan bakar seperti premium langka di luar DKI sementara di DKI melimpah ruah,dan juga reformasi segera para direksi dan pimpinan mulai dari atas ke bawah karena selama ini kita bisa lihat kenapa pasokan BBM di luar DKI terutama wilayah Kalimantan,Sulawesi dan Indonesia timur selalu terlambat bahkan berhari-hari,itu salah siapa? Kalau bukan orang dalam yang melakukan untuk kepentingan perutnya sendiri dan itu sudah terbukti dengan dibongkarnya beberapa Depot ilegal yang menampung BBM,sudah saatnya di reformasi.

Buat para pemilik mobil kendaraan pribadi,saran penulis sudahlah gunakan angkutan umum,walaupun agak tidak nyaman paling tidak mengurangi polusi dan menurunkan tingkat karbon dari asap knalpot INGAT!! GLOBAL WARMING donk,jangan Cuma kepentingan sendiri doank !!!