Tampilkan postingan dengan label PSSI Watch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSSI Watch. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2008

Apa Lagi Yang Kau Cari NH.


Setelah FIFA menampar PSSI soalnya NH yang terlibat dalam kasus Distribusi Minyak Goreng dan akhirnya harus menginap dihotel prodeo Cipinang, kali ini AFC sebagai bos langsung PSSI kembali menamparnya kali ini dengan keras menolak laporan hasil amandemen Pedoman Dasar (PD) atau statuta PSSI yang dimintakan oleh FIFA dan AFC yang dibawa oleh PSSI yang diwakilkan oleh Nirwan Bakrie selaku Wakil Ketua Umum PSSI, Nugraha Besoes selaku Sekretaris Jenderal PSSI, dan Ketua Tim Revisi PD PSSI Dali Taher.

Dalam keterangannya bahwa PSSI melobi agar dipertahankannya 627 jumlah anggota PSSI tapi itu ditolak mentah-mentah AFC,selain itu AFC meminta agar PSSI menyesuaikan statuta barunya sesuai dengan statuta yang dikeluarkan oleh FIFA.

“ Indonesia Tidak Akan Dihukum FIFA “ Nurdin Halid,Ketum PSSI

AFC juga meminta proses pemilihan Ketua Umum dan anggota Exco hanya bisa ditentukan dalam Kongres ( istilah di Indonesia adalah Munas ) sementara Exco yang ada saat ini adalah hasil pilihan sang Ketum NH, dimana Ketum memiliki hak prerogatif dan itu tidak sah.

“ Ini penting bagi semua pemegang kebijakan di sepakbola Indonesia untuk memahami perubahan statuta tersebut “
Presiden AFC, Mohamed Bin Hammam.

Menurut penulis mungkin hanya dengan hukuman dan penghilangan nama Indonesia sementara di Peta Dunia yang terpampang di ruangan Presiden FIFA, Sepp Blatter yang bisa membukakan mata pengurus PSSI lebar-lebar kalau dilihat sulitnya PSSI ini menerima kritikan.

Soal munas dan ketentuan berdasarkan aturan FIFA penulis yakin semua Pengurus Daerah-Pengda PSSI mau menerimanya dengan dasar dikemudian hari PSSI bisa menjadi organisasi yang solid dan terhormat sejajar dengan FIFA soal suara pun menurut penulis tidak ada masalah saran penulis sich lebih baik suara itu lebih disatukan melalui wilayah maksudnya bukan lagi perpropinsi melainkan perpulau misalnya 8-10 propinsi di Sumatera disatukan jadi satu suara kesimpulan kemudian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Duo Nusa tenggara, Maluku dan Papua jadi bisa efisien daripada saat ini. Tetapi masalahnya atau kunci sentral dari masalah ini adalah dari kursi sang Ketum dimana dengan kepala batunya dan yakinnya bahwa Indonesia tidak akan dihukum oleh FIFA dan menolak mundur bahkan bahasa politiknya akan mundur dengan cara kalau menurut penulis tidak etis adalah mengulur waktu yang nantinya FIFA dan AFC akan lupa dengan kasus yang sedang dialami oleh NH.

Siapapun tahu bahwa ideologi dari olahraga itu adalah, universal yang artinya adalah umum tanpa ada tekanan atau apapun yang dapat mengganggu, kemudian adalah sportif,dua hal ini yang menurut penulis belum disadari oleh NH dan semua pengurus PSSI, dan itu terbukti dimana bendahara PSSI yang juga anggota Exco dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat-DPR RI ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi-KPK dengan dugaan menerima sejumlah uang dari Bank Indonesia ketika menjadi anggota DPR periode 1999-2004, dari sini jelas sekali bukan kalau PSSI isinya hanya terdiri kalangan birokrat dan partai yang melihat menjadi anggota pengurus PSSI adalah pekerjaan sampingan.

Dengan begitu mereka memiliki struktur organisasi yang baik dan akan menguntungkan sepakbola mereka juga. Kami ingin agar pengurus ditingkat regional ( baca: kabupaten / kota ) dan provinsi memiliki kekuatan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.Idealnya, mereka itulah yang menjadi wakil provinsi dalam asosiasi sepakbola nasional.Ini akan mengurangi jumlah pemilih “ Presiden AFC

Apalagi yang engkau cari lagi NH ? itulah pertanyaan penulis dan juga mungkin 200 juta penikmat sepakbola nasional kepada NH dan konco-konconya karena keras kepalanya dan percaya diri yang tinggi melihat kasus ini yang kemungkinan Indonesia dikenai sanksi bahkan dihapuskan dari Peta sepakbola Dunia,sanksi ini hanya terjadi kalau ada intervensi dari pemerintahlah yang bisa dikenai sanksi, lalu bagaimana kalau ancaman FIFA benar jadinya, apakah NH dan semua penghuni yang ada di Pintu IX Gelora Bung Karno-Senayan, Jakarta tanpa terkecuali mau mempertanggungjawabkan kepada 200 juta penikmat sepakbola nasional dan meminta maaf atas keras kepala dan kepercayaan diri mereka yang tinggi berakibat sanksi, disaat euforia Piala Asia 2007 masih menggema dan semangat dari para pemain Timnas untuk menunjukkan hasil yang bagus dan tentunya mengangkat peringkat Indonesia menuju 50 besar dan masuk final Piala Dunia

Sadarlah para penghuni Pintu IX Gelora Bung Karno nasib sepakbola nasional ada ditangan anda, akan lebih Gentle, Ksatria, Jantan bila anda mengakui kesalahan anda, mengundurkan diri dan menolak mencalonkan dan dicalonkan sebagai pengurus PSSI, membuat munaslub yang sesuai dengan aturan yang dikeluarkan dan dipedomankan oleh FIFA dan AFC dari pada seperti sekarang kalau sudah kejadian anda sendiri yang malu, lalu dihujat lalu bagaimana dengan anggota keluarga anda yang tidak tahu permasalahan ikut menjadi imbas dalam setiap kegiatannya menjadi omongan orang banyak, malu bukan ? jadi pikirkan kembali…..

200 juta penikmat sepakbola nasional menunggu seperti lyrik lagu ciptaan Melly Goeslaw yaitu …Menghitung hari detik demi detik kapan PSSI sadar dan kapan FIFA menjatuhkan sanksi kalau melihat kelakuan daripada pengurus PSSI

SADARLAH… NH dan semua penghuni Pintu IX.

Senin, 03 Maret 2008

Akankah Juventus VS Timnas Indonesia , Indonesia VS Brazil U-23 Olympic menjadi Kenyataan ?




Akankah Juventus VS Timnas Indonesia , Indonesia VS Brazil U-23 Olympic Berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Senayan , Jakarta – Indonesia menjadi Kenyataan BUKAN Mimpi di Siang Bolong ?


Tidak disangka – sangka Indonesia tepatnya Jakarta akan menjadi pelabuhan bagi satu klub Eropa yang sudah sangat familiar dan mendunia serta Timnas yang melahirkan banyak talenta sepakbola yang sekarang tersebar di berbagai klub didunia dengan gaji yang fantastis pula..

Ya Klub itu adalah Juventus FC klub asal Kota Turin akan datang ke Indonesia pada medio bulan Mei,kunjungan trazeguet dan kawan – kawan ke Jakarta dalam rangka tur asia saat jeda kompetisi selain Indonesia Juventus akan melancong ke negara yang masih dalam kandidat mereka adalah Hongkong , Singapura dan Sydney ( Australia ) yang uniknya bahwa Juventuslah lewat agennya yang menawarkan diri dan dengan harga penawaran sekitar Rp. 7 Miliar.

Itu baru Juventus FC , lain halnya dengan Timnas U-23 Olympic Brazil, Kaka dan Kawan – kawan serta Carlos Dunga akan datang ke Singapura untuk mempersiapkan diri untuk tampil di Kompetisi sepakbola di ajang Pesta Olahraga Dunia – Olimpiade yang diadakan di Beijing tahun ini,tetapi Singapura ketika ditawarkan menolak dengan alasan tidak siap,kemudian Singapura merekomendasikan dan menelepon Indonesia untuk menawarkan apakah mau Brazil datang dan bertanding persahabatan di Jakarta dengan harga yang ditawarkan sekitar Rp.5 Miliar.

“ Agen Juventus menawarkan harga sekitar Rp.7 Miliar untuk bermain di Indonesia pada Mei mendatang “
- Direktur Pemasaran Banda Industri Sepak Bola Indonesia ( Bisni ) Hasani Abdulgani -

Kalau ini terjadi bukan hanya isapan jempol berarti Indonesia bisa disejajarkan dengan negara Malaysia dan Thailand dimana setiap tutup musim liga Eropa , klub Eropa selalu datang untuk sekedar menghilangkan kepenatan selama satu musim terus berkompetisi dan mencoba sejauh kemampuan dan taktik dari Timnas negara itu serta klubnya apakah bisa bersaing atau tidak dengan klub Eropa.

Sebenarnya Jakarta sudah mulai dilirik klub Eropa seperti medio Desember 2007 lalu disaat kompetisi liga Eropa hanya libur Natal dan akhir tahun kedatangan satu klub besar anggota Bundes Liga – Liga Jerman yaitu Borrusia Dortmund dalam rangka memperkenalkan atau menjual Bundes Liga di Asia dan juga mencoba kemampuan dari Timnas Indonesia dan hasil yang diraih Firman Utina dan kawan – kawan dalam menjajal Klub Jerman yang pernah menjadi Jawaranya Tanah Eropa tingkat Klub pada tahun 1997 ini tidak sia – sia walaupun kalah tipis 1 – 0 tapi penampilan Timnas bisa memberikan berita ke Eropa bahwa Indonesia selain budaya dan Exotic Bali-nya ternyata kemampuan Timnas bisa diajak berkompetisi walaupun Federasinya sekarang sedang tahap sekarat karena FIFA mengancam statusnya..

“ Pihak Singapura kemudian menghubungi kami dan menawarkan apakah Indonesia berminat menerima Brazil.Harga yang ditawarkan sekitar Rp.5 Miliar “ - Hasani -

Tetapi ada kendala yang tak lain dan tak bukan adalah masalah doku a.k.a duit atau kerennya hepeng karena tidak mungkin dalam hitungan bulan bisa mendapatkan dana segar paling sedikit Rp.12 Miliar untuk menggabulkan permintaan dari dua tim yang sudah familiar di negara ini jika datang ke Jakarta,bagi PSSI ini sangat berat sekali walaupun disatu sisi dengan kedatangan dari Juventus FC dan Timnas U-23 Olympic Brazil ke Jakarta bisa meningkatkan kemampuan dari pemain Timnas paling tidak ilmu yang mereka dapat dari pertandingan ini dan tentunya para penonton akan terhibur yang sudah lama mendambakan ada tim besar datang dan bermain di Indonesia .

Sebenarnya menurut penulis bisa saja kok PSSI mendatangkan dua tim ini,memang disatu sisi uang yang memegang peranan tapi demi harga diri dan terpandangnya negara kita dimata dunia paling tidak menguntungkan kenapa tidak yaitu..

“ Tawaran itu sangat menarik.Tapi, kami tak punya kemampuan dana yang mencukupi. Untuk mengadakan bisnis serupa yang sifatnya single event saja kemampuan kami maksimal hanya Rp.3 Miliar “

Pertama , dengan datangnya Juventus FC yang nota bene berasal dari Italia yang juga anggota Uni Eropa - UE kita bisa menunjukkan kepada UE yang mana sekarang mengskorsing semua Maskapai Indonesia untuk tidak mendarat di semua Bandara Eropa serta dunia ,bahwa penerbangan kita aman dengan cara PSSI menggandeng salahsatu maskapai udara untuk mengantarkan para Pemain dan Official Juventus FC ke negara selanjutnya setelah Indonesia dalam rangka turnya.

Kedua , Timnas kita bisa belajar bagaimana taktik dan cara bermain sepakbola yang sesungguhnya karena selama ini penulis lihat banyak pemain sepakbola kita yang bermain sepakbola seenaknya saja tanpa ada aturan seperti bermain kasar dan masih banyak lagi yang negatifnya dengan hadirnya Juventus FC dan Timnas U-23 Olimpiade Brazil ini kalau jadi maka akan kita bisa bandingkan mana sepakbola yang sesungguhnya sekalipun hiburan dan mana sepakbola yang tidak sesungguhnya..

Ketiga , dengan kedatangan Juventus FC dan Timnas U-23 Olimpiade Brazil paling tidak negara kita mulai dilirik banyak pihak dan sudah lupa dengan berbagai macam kejadian politik dan keamanan yang menimpa negara kita seperti travel warning, dan juga lewat ajang ini siapa tahu ada pemain kita yang dilirik mereka atau pemandu bakat dari klub lain yang kebetulan datang untuk mengintai untuk di kontrak bermain…

Dalam hal pendanaan , kita sebenarnya bisa kok.Memang disatu sisi kondisi keuangan negara kita belum menampakkan tanda – tanda kemajuan tapi jangan salah , kata NH sang ketum mengatakan bahwa sepakbola adalah olahraga seluruh rakyat dari segala golongan, kenapa tidak dicoba toch ini sebagai hiburan bagi rakyat Indonesia terutama penggila sepakbola yang mungkin sekarang sudah muak dengan kelakuan daripada tokoh – tokoh politik yang hanya bisanya jualan kecap saja tanpa ada bukti, toch PSSI kan bisa menggandeng KBRI di Roma dan Sao Paolo untuk mengurus surat – surat mereka serta akomodasi mereka dari Turin ke Jakarta serta Kedutaan Italia dan Federasi Brazil di Jakarta untuk dijadikan sponsor siapa tahu bisa lebih murah contohlah kasus Dortmund,selain itu program ini ditenderkan kepada sejumlah media yang akan meliputnya secara eksklusif, kerjasama dengan vendor – vendor SIM Card GSM atau CDMA lewat kuis – kuis premium, sponsor kit Timnas Indonesia-kan sama dengan Sponsor Juventus FC dan Timnas Brazil kenapa tidak dicoba kerjasamanya,soal tiket pun walaupun mahal bisa kerjasama dengan komunitas penggila sepakbola seperti Juventini Indonesia atau komunitas masyarakat Italia dan Brazil di Jakarta dengan memberi discount sementara diluar itu baru dikenakan harga..kalau masih susah kenapa juga dalam hal tiket ditekan semakin murah mengikuti metode ekonomi dimana harga barang yang ditekan semakin murah maka barang itu akan semakin dicari..betul tidak ?

Apakah dua nama besar itu akan datang ke Indonesia dengan kekuatan penuh dan kabarnya Kaka dan Pato akan bermain dalam Timnas Olimpiade Brazil didepan mata kita langsung tidak seperti yang bisa kita lihat hanya di televisi setiap akhir pekan menjadi kenyataan ? kita lihat saja kinerja dari PSSI apakah sadar tentang sebuah pengorbanan demi cita – cita Indonesia dipentas dunia atau sebaliknya Cita – cita dan mimpi itu hanya sekedar retorika ….kita tunggu…


Sabtu, 23 Februari 2008

Kalau Cari Calon Ketum Yang Benar Donk !!

Penulis agak gerah dengan berita – berita seputar kasus PSSI setelah ditegur untuk kedua kalinya oleh FIFA ,dan setelah itu merebak banyak kalangan sepakbola nasional terutama insan sepakbola mulai melirak – lirik siapa saja yang bisa dijadikan sebagai Ketum PSSI menggantikan NH yang sudah dimasukkan kedalam daftar hitam FIFA.

Ada beberapa yang dicalonkan dalam bursa Ketum PSSI jika pada bulan Maret ini jadi diadakan Munas,tapi ketika penulis melihat beberapa calon Ketum PSSI maka dengan spontan dalam hati berkata memangnya tidak ada apa Ketum PSSI yang sesuai dengan job desk dari PSSI.

Penulis agak heran dengan nama – nama yang beredar dikalangan PSSI yang kebetulan latarbelakangnya beragam mulai dari militer,pengusaha hingga Dirut dari BUMN,tapi apakah mereka bisa memimpin induk organisasi paling tua di negara ini dengan latar belakang mereka yang menurut penulis penuh dengan kejahatan bahkan ada beberapa yang calon nasibnya pernah sama dengan NH sekarang ini,check in di Hotel Prodeo..

PSSI adalah induk olahraga BUKAN tempat untuk melarikan diri dari mungkin kejahatan atau mesin politik.

Maaf sebelumnya kalau ada pihak – pihak yang merasa tersinggung dengan paparan penulis terhadap latarbelakang dari calon Ketum ini,tapi itulah kenyataannya dilapangan,anda silakan kira – kira siapa mereka yang penulis beberkan.

Ada lima sosok yang berpeluang menjabat sebagai orang nomor satu di dunia sepakbola nasional , yang pertama beliau adalah pengusaha tambang berkat gelontoran dana dari perusahaan yang didirikan oleh beliau , PSSI secara tiap musim bisa menciptakan liga sepakbola usia pra remaja hingga remaja, tapi perusahaan ini mungkin termasuk sosok ini sekarang sedang bermasalah dalam kasus Sidoarjo ( anda tahu apa yang terjadi disalahsatu kota di Jawatimur ) karena perusahaan yang dipimpin sosok Bakal Calon –Balon Ketum baru PSSI ini memiliki saham dan unit kerja yang sama dengan perusahaan yang sedang bermasalah dengan kasus Sidoarjo yang mana salahsatu pimpinan dari perusahaan yang menjadi OTAK dari kasus ini adalah seorang pecinta sepakbola sejati dan Pjs dari PSSI yang membuat nasib rakyat Sidoarjo tidak menentu akibat kasus ini bahkan mungkin ada yang GILA dan bunuh diri karena tidak kuat..

Sosok kedua adalah berlatar belakang militer jabatan terakhir dibidang militer sebelum ditarik keluar dari barak menjadi sipil adalah orang nomor satu di lingkungan institusi tentara Ibukota,prestasinya dibidang sepakbola cukup mengesankan dengan menjadi pembina dari salahsatu klub kebanggaan Ibukota negara , begitu juga ketika menjabat posisi strategis di Ibukota ini dan kabarnya pemilu besok ia akan mencalonkan sebagai Presiden RI,yang menjadi ganjalan di hati penulis adalah pada peta politik tahun 1997,beliau terindikasi menjadi tokoh pembantu dari usaha perebutan kekuasaan dari suatu partai politik.

Sosok ketiga adalah Dirut dari salah satu BUMN yang ada di negara ini,beliau pernah masuk penjara karena kasus tender yang dilakukan BUMN yang dipimpinnya dalam hal pencahayaan di negara ini bahkan pidananya pun kontroversi sehingga beliau lepas begitu saja dari hotel prodeo padahal jelas – jelas beliau bersalah..

Sosok keempat adalah kembali Dirut dari salah satu BUMN yang kantornya tepat disamping markas Kostrad,beliau mungkin menurut penulis agak bermasalah dengan hukum,karena beberapa hari yang lalu sedang ada penyidikan kasus penjualan kapal sangat besar sekali - VLCC yang baru dibeli dari perusahaan Korea dalam hitungan mungkin bulan atau tahun oleh BUMN pimpinan beliau kemudian dijual begitu murahnya kepada pihak lain atas mungkin perintah sang atasan langsung yaitu Menteri Negara BUMN pada tahun 2003 - 2004,sekarang mungkin masih dalam tahap penyidikan dari KPK

Sosok terakhir adalah perwira militer Angkatan Darat,prestasinya di barak militer cukup mengesankan hingga pernah menjabat komandan Jenderal suatu institusi Militer strategis tapi yang membuat penulis ragu adalah apakah benar prestasi dibarak militer itu didapat dari usaha dan perjuangan sendiri seperti halnya para prajurit pangkat bawah atau karena beliau berada dalam lingkaran keluarga Presiden RI sekarang yang nota bene masih ada aliran darah dan ikatan keluarga langsung dengan First Lady Indonesia…

Itulah latarbelakang dari lima sosok calon Ketum PSSI yang menurut sejumlah pihak PANTAS menduduki kursi empuk yang ada di Pintu IX Senanyan – Jakarta tapi menurut Penulis TIDAK LAYAK!! .yang menjadi pertanyaan sekarang adalah JIKA salahsatu dari kelima Calon Ketum ini terpilih tapi dikemudian hari ternyata apa yang penulis beberkan dalam hal negatifnya seperti yang terurai diatas terbukti bagaimana , apakah nasib PSSI kedepan akan menjadi PSSI NH jilid 2 ?

Menurut penulis…sudahlah cari figur yang benar – benar mengerti akan sepakbola dan murni dari kalangan olahraga seperti mantan atlet JANGAN pejabat pemerintahan atau mantan pejabat toch kita tahu sendiri bagaimana reputasi dari pejabat itu dilingkungan kerjanya..

Kita bisa lihat banyak mantan pemain ketika dimintai keterangan oleh sejumlah jurnalis tentang keberadaan PSSI sekarang ini lancar menyuarakan aspirasinya bahkan mengkritik tajam ,kenapa juga tidak memilih mereka,secara mereka lebih paham akan kondisi dan situasi sepakbola dalam negeri karena mereka menjalaninya bukan kelima sosok yang sekarang menjadi buah bibir dikalangan pejabat sepakbola dan klub.. dan kalau bisa tokoh – tokoh yang selama ini menjadi “ kutu “ didalam Pintu IX itu yang mungkin masih bernaung didalam kabinet NH di “BASMI” karena “ Kutu – Kutu “ seperti itu harus dimusnahkan demi majunya sepakbola Indonesia walaupun mantan pemain sepakbola sekalipun dieranya berprestasi.

Jadi yang menjadi pertanyaan penulis dan juga ratusan bahkan ribuan penikmat sepakbola nasional adalah mau dibawa kemana PSSI ini setelah NH dilengserkan apakah bertambah maju dan prestasi mengalir bak jamur dikala hujan deras,ATAU nasibnya tak ubah seperti sekarang bahkan lebih tragis..yang mampu menjawab ini semua adalah para pejabat pengda PSSI diseluruh Indonesia , Manajer beserta manajemen Klub hingga Suporter yang ikut Munas PSSI nanti dan mau membasmi “ Kutu – Kutu “ itu dengan orang baru….

Sabtu, 16 Februari 2008

Menanti sebuah jawaban dari PSSI dan FIFA


“ Seseorang bisa dicalonkan menjadi anggota DPR , DPD , dan DPRD selama tidak sedang menjalani pidana penjara karena melakukan tindakan pidana yang ancaman hukumannya lima tahun atau lebih “

– UU No.12 / 2003 pasal 60 -

PSSI kembali bikin ulah,setelah kompetisi delapan besar penuh dengan dagelan dimana seorang pemain yang telah divonis dilarang bermain selama dua pertandingan ternyata diturunkan sebagai pemain inti a.k.a Starting Line up , belum lagi kerusuhan – kerusuhan antar suporter yang mengakibatkan seorang penggemar sejati dari klub Persija Jakarta – Fathul Mulyadin ,dan puncaknya adalah untuk pertama kalinya di Indonesia mungkin dalam sejarah sepakbola FIFA sebuah final sepakbola harus digelar tanpa dihadiri penonton satu orang pun,kalaupun ada yang menonton tak lain tak bukan adalah tamu VVIP,dan para pengurus PSSI serta keamanan.

Kompetisi telah usai,dengan kemenangan yang sangat indah dan fantastis yang di bawa oleh Sriwijaya FC dengan mengawinkan dua gelar sekaligus.maka tugas berat yang akan dihadapi oleh PSSI terutama oleh Badan Liga Indonesia - BLI semakin berat pula,karena harus merumuskan semua ketentuan yang dibuat oleh BLI termasuk akan menggelar kompetisi yang sarat prestise yaitu Liga Super mengadopsi yang katanya dari Liga Super Malaysia.

Tapi sebelum itu terrealisasikan,tiba – tiba bak petir di siang bolong PSSI mendapatkan tamparan keras,kali ini dari Otoritas Sepakbola Dunia FIFA dimana lewat Presidennya Sepp Blatter mengatakan untuk mengingatkan kembali PSSI untuk segera melaksanakan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Komite Asosiasi FIFA hal ini beliau kemukakan pada pertemuan rapat Komite Asosiasi di Zurich,selasa ( 5/2 )

Kesalahan yang mengakibatkan PSSI masuk dalam Nota Merah adalah karena PSSI melanggar ketentuan yang sudah digariskan oleh FIFA dalam statutanya, ada terdapat 26 pasal didalam Pedoman Dasar – PD PSSI yang tidak sesuai dengan aturan yang sudah dibakukan oleh FIFA,dimana salahsatu isinya adalah tentang tidak boleh seseorang yang terlibat kriminal dan pidana memimpin sebuah Federasi.

Setelah beberapa hari ini PSSI selalu diam,akhirnya bersuara juga dengan mengatakan akan pasrah pada apa yang diterapkan oleh FIFA,tapi ada yang konyol dalam penjelasan PSSI termasuk kawalan revisi PD oleh NH,dimana pada sebuah harian mengatakan lewat sumber orang dalam ( kayak republik mimpi aja ya ada sumber orang dalam…) bahwa NH akan memasukkan pasal khusus soal kriteria anggota Komite Eksekutif ( Exco ) yang disesuaikan dengan hukum yang berlaku di Indonesia (?),salah satu dalilnya adalah UU No.12 / 2003 pasal 60 ( isinya ada di paling atas ! ).

Pesan inilah yang akan dibawa oleh kroni NH untuk diusulkan ke pihak FIFA dan AFC dalam revisi PD.

“ Dalam Hukum Indonesia itu ada pasal yang menyebutkan tak boleh melanggar hak asasi manusia.Itulah yang akan kami sampaikan kepada AFC atau FIFA nanti “ -Nugraha Besoes , Sekjen PSSI –

dengan kata lain para Kroni - Kroninya NH lebih mementingkan NH terus maju sebagai Ketum PSSI sampai mungkin tutup usia ,ketimbang memperhatikan harkat dan kehormatan PSSI dan Bangsa ini dalam dunia sepakbola terutama dalam pertemuan dengan semua Federasi Sepakbola yang diadakan oleh FIFA !

Sangat hebat dan berani sekali sikap yang diambil dan yang dilakukan oleh para pengurus PSSI mulai dari pengurus inti hingga Exco ini tanpa malu dan ampun mampu membangkang FIFA dengan dalil pasal yang berlaku di Indonesia,tapi menurut penulis pasal yang digunakan oleh PSSI untuk dalil itu HANYA BERLAKU dalam situasi politik BUKAN dunia olahraga,percuma saja Official Site PSSI yang penulis dan mungkin para pembaca serta penikmat sepakbola nasional pernah kunjungi dan melihat ada tulisan di akhir website ini yang bertulis MY GAME IS FAIR PLAY,itu kan secara harafiah berarti siap menang siap kalah,sama halnya dengan para pengurus PSSI harusnya bisa menerima apa yang diminta oleh FIFA. BUKAN !! merivisi dan memasukkan pasal yang bisa melenggangkan NH sebagai Ketum yang jelas – jelas memiliki stempel PESAKITAN atau mungkin lebih hina lagi julukan orang awam terhadap orang yang pernah masuk penjara SAMPAH MASYARKAT !

Apakah para pengurus PSSI ini siap dan menerima dengan pahit kalau pasal yang anda gunakan untuk meloloskan NH sebagai Ketum abadi di balas FIFA dengan mengajukan pasal yang dikeluarkan oleh Komisi Hak Asasi Manusia PBB dan Komisi Hak Asasi Manusia Dunia yang menyatakan ( kalau benar ada ! ) bahwa seorang pesakitan tidak boleh menjabat atau menduduki posisi penting baik dalam politik maupun olahraga ? jawaban anda.

Buat apa sich NH dipertahankan ! kita sudah lihat bagaimana prestasi PSSI dipimpin NH seperti aturan jadwal liga tidak beres , banyaknya kerusuhan , wasit yang tidak berkompeten dalam memimpin pertandingan , banyak aturan yang selalu berubah – berubah seenak jidatnya NH seperti bagaimana bisa kompetisi tempat untuk menjaga gengsi klub tidak ada sistem degradasi dan promosi , klub dan pemain yang mestinya dihukum berat akhirnya di DISKON hingga berapa periode saja,Timnas yang prestasinya seperti (maaf!!) hangat – hangat tahi ayam!! pada saat ajang Piala Asia Juli 2007 lalu Timnas kita seperti mendapatkan kekuatan mistis walaupun kalah dan tidak lolos babak kedua ,tetapi selanjutnya seperti Penyisihan Pra Piala Dunia 2010 dengan total kebobolan 1 – 11 dengan Suriah , ajang ASIAN GAMES Dubai dengan total kebobolan lebih dari 10 gol dan tidak maju ke babak kedua, lalu SEA GAMES – Thailand kalah sama Thailand serta kalah produktivitas mencetak gol dengan Myanmar prestasi itu semua apa tidak lebih seperti laki – laki yang ejakualasi dini dan terkena imponten dan itu berlaku untuk semua tingkatan kecuali Timnas U-16 yang mampu masuk kedalam putaran final tapi penulis antara tidak yakin dan yakin Timnas U-16 salahsatu penerus dan ujung tombak harapan Indonesia bisa bicara lebih di putaran final,belum lagi liga dimana sudah dua kali Indonesia tidak atau lupa mendaftarkan ke ajang AFC Champion League karena jadwal yang tidak beres,belum lagi mimpi – mimpi indah dari NH dengan cara mensekolahkan para pemain ke luar negeri dengan alasan bisa menciptakan semangat kompetisi dan mental juara,bagaimana bisa kalau didalam negerinya saja sudah kacau balau dan dipimpin oleh orang – orang yang hanya bermimpi dan mementingkan kelompok,daerah bahkan partai politiknya..

Jadi tolonglah para anggota Exco dan jajaran pengurus PSSI yang selama ini selalu menjilat , membela habis – habisan bahkan selalu ABS – Asal Bapak Senang kepada NH,kalian SADAR masalah ini bukan seperti dagelan yang selama ini anda buat ini demi nama negara,apakah kalian mau INDONESIA terutama PSSI dicoret dalam peta sepakbola yang dikeluarkan FIFA dan kita tidak boleh mengikuti acara – acara yang diselenggarakan FIFA dan tentunya AFC ?

Contohlah ECW.Neloe yang saat ini sedang menikmati udara di Hotel Prodeo tingkat satu Cipinang – Jakarta Timur akibat kasus aliran dana Kredit Bank Mandiri dimana beliau ketika itu menjabat Direktur Utama Bank Mandiri,ketika dinyatakan bersalah dan harus menjalani hidupnya di Hotel Prodeo,beliau langsung mengundurkan diri dari Induk Organisasi Sepeda – IKASI , begitu juga dengan Rahardi Ramlan Ketua PRSI – Induk Organisasi Renang langsung mengundurkan diri karena tersangkut kasus dana Budgeter Bulog,contoh sudah ada toch anda bung NH,akan lebih terhormat dan dikatakan laki – laki sejati atau gentlement mengundurkan diri dan membubarkan kabinet anda secara sukarela daripada anda mendapatkan cap yang tidak baik dari semua pengurus klub mungkin semua rakyat Indonesia pilih mana ?

“ Yang benar saja . Mereka seharusnya malu jika ingin mengajukan Nurdin lagi sebagai Ketua Umum.Pengda dan klub harus ikut mengawal revisi PD agar tak dibohongi lagi seperti di Munas lalu “
– M.Taufik ; Manajer Persitara –

Apakah PSSI akan menuruti kemauan FIFA dengan mengganti semua pengurus dengan orang – orang yang bekerja dengan sepenuh hati dan mengerti Sepakbola serta mau mengangkat Indonesia ke pentas dunia atau sebaliknya dengan kepala batunya para pengurus ini tetap mempertahankan Ketumnya sampai dicoret dari peta FIFA ?…kita tunggu saja..

Rabu, 13 Februari 2008

Sadarlah Wahai Nurdin Halid dan Anak Buahnya !!!!





PSSI untuk kali keduanya ditegur oleh FIFA langsung melalui sang Presiden Sepp Blatter saat memberikan sambutan pembukaan rapat Komite Asosiasi di Zurich – Swiss selasa ( 5 / 2 )

“ Keputusan yang diambil Komite Asosiasi sangat penting dan selalu menjadi rujukan Komite Eksekutif dalam mengambil keputusan “
- Sepp Blatter -

Kita tahu sendiri Komite Asosiasi yang dipimpin oleh Geoff Thompson ini sedang giat – giatnya melakukan investigasi sejumlah kasus yang terjadi di sejumlah Federasi Anggota FIFA termasuk Indonesia,khusus Indonesia dalam hal ini PSSI diperintahkan untuk melakukan revisi Pedoman Dasar PSSI sesuai dengan statuta FIFA dan melakukan pemilihan ulang Ketua Umum PSSI yang dinilai telah mencoreng olahraga karena seorang yang terkena pasal kriminal bahkan masuk penjara tidak diperkenankan memimpin suatu organisasi olahraga.

PSSI sendiri menurut Komite Asosiasi melanggar ketentuan yang sudah digariskan FIFA dalam statutanya,antara lain ada 26 pasal di Pedoman Dasar PSSI yang tidak sesuai dengan aturan yang digariskan oleh FIFA,salahsatunya adalah tentang tak bolehnya seseorang yang terlibat kriminal dan pidana memimpin sebuah Federasi.

“ Kami akan menghentikan semua aktivitas yang mencoreng indepensi asosiasi Sepak bola “
- Thompson -

Sebenarnya bukan Cuma Indonesia saja yang di teropong oleh Komite Asosiasi ini tetapi ada banyak negara seperti contoh Albania , Samoa Amerika , Burkina Faso , Republik Afrika Tengah , Siprus , Dominika , Iran , Kuwait , Palestina ,Peru , Togo , Turki dan Kepulauan Virginia dari itu semua hanya Federasi sepakbola Iran dan Kuwait yang telah melaksanakan teguran dari Komite Asosiasi FIFA tersebut,bahkan Federasi Sepak Bola Kuwait begitu tahu masuk dalam daftar investigasi Komite Asosiasi FIFA,semua pengurusnya mengundurkan diri dan membubarkan Federasi Sepakbola itu.

Tapi memang dasar ( maaf ! ) keras kepala dan kepala batu,sikap dari PSSI terhadap teguran FIFA ini menilai Komite Asosiasi bukan badan FIFA yang memberikan keputusan,dan juga kabarnya pada tanggal 22 – 25 Februari 2008 mendatang dalam Raparnas di Bali mendatang,PSSI tidak akan mengagendakan teguran yang dilontarkan oleh Komite Asosiasi FIFA.

“ Soal revisi Pedoman Dasar jadi tugas tim yang dipimpin Dali Taher,Raparnas hanya akan membahas evaluasi program PSSI 2007 dan program PSSI 2008 “

Mafirion – Anggota Komite Eksekutif PSSI

Kalau menurut saran penulis,LEBIH BAIK PSSI di CORET dari keanggotaan dan kegiatan FIFA daripada sudah diberitahu tentang kesalahannya tetapi tetap membandel, karena ya..semua para personel dan pengurus PSSI sekarang hanya punya prinsip Right or Wrong , God or Bad NH still the boss and good job for Indonesian Football (?)

Memangnya PSSI sejajar dengan FIFA dalam lingkup tugasnya di dunia sepakbola sehingga bisa mengatakan bahwa Komite Asosiasi bukan Badan FIFA,kalau dilihat dari struktur dan sejarahnya Komite Asosiasi merupakan badan menaungi asosiasi – asosiasi seluruh dunia,tidak aneh jika FIFA sangat menghormati keberadaan badan ini.

“ Keputusan yang diambil Komite Asosiasi- KA sangat penting dan selalu menjadi pertimbangan Komite Eksekutif.KA itu badan yang membentuk “ - Sepp Blatter -

FIFA saja sampai menghormati peran dari KA,kenapa PSSI dengan arogansinya menolak keputusan yang dikeluarkan oleh KA.

Sudahlah para pengurus PSSI…..tidak ada gunanya juga anda membela NH sampai kapanpun.Penikmat sepakbola nasional SEKARANG !!! membutuhkan bukti nyata bukan hanya tebar pesona dan janji, mau dibawa kemana sepakbola kita ini dengan pimpinan yang sedang asik masyuk di Hotel Prodeo-nya untuk kesekian kalinya ( betah amat ya…bolak – balik check in di Hotel Prodeo, sekalian aja pindahan pak !! ),anda bisa lihat sendiri semua peraturan yang anda buat lewat Badan yang bernama Komisi Disiplin semuanya tidak ada yang ditaati oleh semua lapisan insan sepakbola terutama klub dan pemain, pemain yang dilarang bermain dua pertandingan,BUKTINYA masuk dalam 11 pemain inti , tidak boleh ada penonton dan menggunakan atribut klub , tapi kenyataannya ada yang nonton dengan baju koko , sudah BERAPA KALI KERUSUHAN ANTAR SUPORTER semenjak NH memimpin organisasi sepakbola di negeri ini ?TOLONG pikirkan…..

Apakah Indonesia TERCORET dalam PETA keanggotaan FIFA mendatang,karena KERAS KEPALA , KEPALA BATU , EGOIS , AROGAN dari semua pengurus yang tidak mengakui dari Komite Asosiasi ? hanya NH dan anak buahnya yang berada di Pintu IX Gelora Bung Karno – Senayan yang tahu cara mengatasinya tapi yang penting rakyat perlu BUKTI PRESTASI BUKAN MIMPI INDAH ATAU TEBAR PESONA !!!!

Kompetisi yang Plin-plan


Pertama – tama penulis ingin mengucapkan selamat kepada Laskar Wong Kito Sriwijaya FC – Palembang terutama kepada Pelatih Rahman Dharmawan serta Carlos Renato Elias dan Kawan – kawan atas prestasi yang kalian raih yaitu Double Winner dari dua ajang prestise yang ada di Indonesia yaitu Gelar Copa Indonesia Djie Sam Soe dan tentunya Gelar Liga Indonesia yaitu Piala Presiden yang terakhir ini dengan menundukkan klub sesama asal Bumi Andalas yaitu PSMS Medan dengan Skor 3-1 di Stadion Si Jalak Harupat Kabupaten Bandung dengan tanpa di hadiri oleh Sriwijaya mania.akibat ketentuan dari Badan Liga Indonesia sebagai otoritas dari Liga Djarum serta Kepolisian Daerah – Polda Jawa Barat,serta menjadi Juara Jago Kandang dan seperti Katak dalam Tempurung karena ULAH PSSI dan BLI yang TELAT dan LUPA !!

Akhirnya Pesta insan sepakbola nasional sudah mencapai klimaksnya dengan keluarnya sang juara baru dan juga sejarah baru dalam persepakbolaan nasional dengan adanya klub yang mampu mengawinkan gelar juara copa Indonesia dengan Juara Liga Indonesia , belum ada satu klub manapun di bumi merah putih ini bisa mengawinkan dua gelar bergengsi itu hanya Sriwijaya FC-lah yang mampu.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah,apakah kompetisi tahun 2008 / 2009 masih ada dan bergulir hingga nantinya ada juara baru ? inilah yang mungkin jadi polekmik di kalangan insan sepakbola kenapa begitu,karena ketika menjelang detik – detik penutupan liga pada semifinal di Gelora Bung Karno – Senayan terjadi sebuah insiden dimana salahsatu suporter Persija Jakarta yang bernama Fathul tewas di depan Hotel Atlet Century akibat kebringasan daripada Suporter Persipura yang kecewa dengan penampilan dari klub kebanggaannya yang akhirnya harus tersingkir walaupun pada final mendapatkan predikat tim Fair Play.

Beberapa jam setelah kabar kematian dari suporter Persija tersebut,kalangan insan sepakbola agar meminta PSSI sebagai otoritas sepakbola dihentikan sementara untuk menghormati korban suporter itu,bahkan sampai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga meminta agar PSSI menghentikan sampai batas waktu yang tidak ditentukan sampai memang benar – benar semua pihak bisa membenahi semua lini dari sistem pertandingan.

Adakah yang salah dari sistem Kompetisi yang dibuat oleh Badan Liga Indonesia – BLI sepanjang kompetisi ini ? menurut penulis memang sangat – sangat salah dan tidak professional seperti contoh hal Penjadwalan pertandingan dimana oleh BLI menurut pengamatan penulis selama satu musim ini,seenak ( maaf ! ) jidat dan otaknya sendiri sehingga semuanya akhirnya kacau,kita lihat bagaimana jadwal Timnas Indonesia kacau akibat tidak adanya kalendar jadwal untuk Timnas bahkan seperti perhelatan Piala Asia kemarin kalau penulis tidak salah waktu Timnas untuk berlatih hanya sekitar 2 – 3 minggu hingga 2 bulan sebelum D-day,itupun oleh BLI kompetisi diliburkan sampai satu minggu setelah Piala Asia kelar,ini kompetisi apa ! setahu penulis dua minggu sampai satu bulan sebelum acara yang sudah di kalendarkan tetap oleh FIFA dan induk organisasi regional dunia seperti Commebol , UEFA , CAF , AFC , OFC contohnya perhelatan Piala Dunia , Piala Asia , Piala Eropa , Piala Afrika , Copa Amerika,semua kompetisi harus SUDAH selesai dalam artian semua liga di negara itu sudah mempunyai juara liga masing – masing,sementara Indonesia HANYA meliburkan saja BUKAN SELESAI ini jelas konyol,pantas saja Indonesia dua kali terlambat mengirimkan data aplikasi pemain klub yang juara Liga Indonesia dan Copa Indonesia Djie Sam Soe ke AFC untuk ikut laga Asian Champions League,karena ya tadi jadwal kompetisi tidak sesuai dengan jadwal kompetisi yang sudah diatur dalam ketentuan yang menjadi ketentuan baku yang dibuat oleh AFC sebagai otoritas sepakbola Asia dan tentunya FIFA sebagai otoritas sepakbola dunia.

Soal kompetisi yang pada pertengahan musim oleh BLI sudah diagung – agungkan yaitu LIGA SUPER dengan mengacu seperti yang dilakukan oleh Federasi Sepakbola Malaysia dimana Liga ini hanya bermain dengan 18 – 20 klub yang tentunya dananya bukan lagi dana ngemis seperti yang selama ini klub – klub Indonesia lakukan dengan cara memperkosa APBD secara sporadis tanpa memikirkan nasib rakyat jelata yang berhak atas APBD tersebut,kemudian fasilitas stadion yang standar internasional dimana harus minimal jangkauan waktu antara stadion dengan Bandar Udara sekitar 2 jam perjalanan , kemudian didalam stadion sendiri harus dilengkapi lampu stadion yang mempu menyinari seluruh stadion,adanya kamera pengintai a.k.a. CCTV , adanya ruang press confrence serta ruang khusus wartawan untuk melaporkan hasil pertandingan dibagian tribun dan masih banyak lagi .

Tetapi apakah bisa LIGA SUPER itu terrealisasi pada musim kompetisi Liga 2008 / 2009 secara pertama dikarenakan adanya insiden kematian suporter Persija tersebut,lalu ada ancaman dari Kementerian Pemuda dan Olahraga yang akan menghentikan kompetisi ini,apakah bisa ?

Saran penulis buat para pengurus Badan Liga Indonesia yang berkantor di Senayan adalah Pertama STOP atau BERHENTI dahulu kompetisi ini walaupun agak berat disatu sisi klub harus melunasi hutang – hutang , bonus dan gaji pemain dan lain sebagainya,Kedua Badan Liga Indonesia HARUS dan WAJIB !! menyusun kalendar kompetisi yang sesuai dengan kalendar yang dikeluarkan oleh FIFA dan AFC supaya tidak terulang lagi kejadian tidak terkirim atau kelupaan mengirim data pemain klub yang main di ajang Liga Champion Asia dan memaksimalkan jadwal untuk Timnas baik Timnas segala usia hingga Futsal dan wanita. Ketiga , Klub sendiri jika jadi libur kompetisi abadi ini berlaku, kiranya mampu memperbaiki sarana dan prasarana yang di jadikan syarat oleh PSSI dan BLI dalam berkompetisi yang berlabel LIGA SUPER terutama dalam hal pendanaan,sudahlah sekarang para ketua klub dan manager klub mulai memutar dan memeras otak seperas – perasnya bagaimana cara mendapatkan sponsor tanpa ada lagi embel – embel APBD,APBD dibuat untuk membiayai daerah seperti perbaikan jalan rusak,pendidikan untuk rakyat jelata , kesehatan untuk rakyat jelata BUKAN untuk kegiatan sepakbola secara terus menerus walaupun kata sang Ketum PSSI bahwa sepakbola adalah olahraga rakyat ! bukankah diantara para manager ini yang setelah nama akhirnya disambung dengan titel mentereng yang berasal dari jalur bisnis dan management kenapa ilmu itu tidak digunakan dalam mencari dan bernegosiasi dengan para sponsor ATAU jangan – jangan titel itu ASPAL ?

Keempat,berlakukan sistem reward and punnishment bagi semua insan sepakbola mulai dari pemain , pelatih , manajer , perangkat wasit serta inspektur pertandingan hingga ke kelompok suporter klub sehingga kedepannya semua insan sepak bola tahu akan kesalahannya bukan seperti yang terjadi saat ini dimana setiap insan sepakbola yang terkena hukuman masih saja berkeliaran dilapangan hijau bahkan ada salahsatu official klub yang mengatakan bahwa mereka melakukan itu dikarenakan mengikuti apa yang Ketum lakukan ya…ibaratnya Guru kencing berlari ya muridnya kencingnya juga berlari jadi apa yang ada dan dikerjakan ketum pasti akan diikuti juga.Kelima,benahi para personel yang berada baik di BLI maupun di PSSI sendiri karena menurut penulis sudah waktunya para personel ini baik di BLI maupun di PSSI diganti dengan orang – orang yang berkompeten dan mau berkorban demi majunya sepakbola sesuai dengan mimpi indah dari sang Ketum yang visi 2020 yang menjadikan Indonesia tampi di ajang Piala Dunia dan juara !

Apakah Kompetisi Liga Indonesia yang akan segera berganti baju menjadi LIGA SUPER benar – benar digulirkan oleh BLI dan PSSI ATAU Kompetisi Liga Indonesia tahun 2007 / 2008 yang melahirkan juara baru Sriwijaya FC dengan double winnernya menjadi Kompetisi TERAKHIR sampai ada perangkat dan kejelasan terutama dalam hal hasil dari teguran yang dilayangkan oleh FIFA ? kita hanya bisa tunggu , berdoa dan berharap kompetisi ini tidak menjadi terakhir malahan menjadi yang LEBIH Professional dan LEBIH INDUSTRI seperti Klub – Klub Eropa

Sabtu, 09 Februari 2008

Liga Indonesia Berdarah !


Pertama – tama atas nama pribadi ingin mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya pendukung Jak Mania dalam peristiwa kerusuhan antar suporter dalam lanjutan 4 besar dan final Liga Djarum Indonesia 2008 yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno – Senayan Jakarta pada tanggal 6 Februari 2008 sore setelah pertandingan antara PSMS Medan melawan Persipura Jayapura,semoga arwah dan amal ibadah beliau di terima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan dapat diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.

Ok cukup turut berduka citanya…sekarang kita lihat belum usai kerusuhan dalam laga delapan besar yang berlangsung di Kediri dan Solo hanya dalam hitungan 3 minggu dan belum masuk hitungan satu bulan sudah rusuh kembali,yang menjadi pertanyaan kenapa ini bisa terjadi ?

Kalau dilihat kronologi dan analisa serta pandangan penulis ( maaf kalau salah ! ) sebenarnya para pendukung klub sepak bola di negara kita ini bukan orang dewasa,badannya saja yang dewasa serta umurnya yang akil balik tapi otak dan kelakuannya seperti anak kecil yang berumur 6 tahun.bagaimana prestasi bisa diukir kalau kelakuan dan perilaku penonton dan pendukung klub yang belum bisa membedakan dan mengartikan dari kata Fair Play serta siap menang dan siap kalah.

Sebenarnya yang menjadi pertanyaan lagi,bagaimana sich sistem keamanan yang berlaku di negara ini jika dalam satu hari ada dua pertandingan dan dilakukan didalam satu stadion ? setahu penulis setelah pertandingan pertama selesai biasanya dalam jangka waktu 1 – 2 jam sebelum kick off babak kedua semua stadion di ring satu harus kosong alias steril sebelum dimasuki oleh pendukung dari klub yang bertanding pada jam kedua,tapi kenyataannya seperti yang terjadi kemarin,baru selesai peluit dibunyikan menandakan pertandingan pertama telah berakhir,dan stadion belum kosong benar sudah timbul kerusuhan,dan ya mengakibatkan sang pemuja persija itu tewas.

Menurut penulis kerusuhan kemarin dilatarbelakangi dua kemungkinan,yang pertama adalah pendukung Persija masih sakit hati kepada Tim Persipura ketika berlaga ditempat yang sama hanya labelnya beda ketika itu memperebutkan gelar Copa Djie Sam Soe ajang prestise untuk yang terbaik dari semua klub di tiga divisi yang ada di Indonesia dimana Persija dikalahkan telak 3-1 dengan gaya permainan yang menurut penulis Persipura ingin menunjukkan kepada Persija beginilah bermain bola yang baik dan benar tetapi akhirnya Sriwijaya FC lah yang keluar jadi Juara.

Kemungkinan yang kedua adalah,pendukung Persipura alias Persipura Mania kecewa dan marah karena timnya tidak bermain maksimal walaupun sepanjang permainan,kubu Persipura yang penulis lihat sangat bagus permainan hanya keberuntungan penalti yang menentukannya,kemudian ketika keluar dari gerbang stadion tiba-tiba kubu Pendukung Persija datang yang mungkin tidak tahu bahwa Persipura kalah telak penalti dari PSMS Medan melampiaskan kekesalan dan kecewanya terhadap timnya kepada para pendukung Persija yang setelah pertandingan antara PSMS Medan dengan Persipura yang akan masuk kedalam stadion menjadi korban.

Tapi sebenarnya kerusuhan yang terjadi kemarin itu sebenarnya bisa saja dikendalikan jika pihak keamanan benar – benar tegas dalam menindak pelaku kerusuhan,tetapi kenyataan dilapangan apa ! contoh nyatanya ya itu tadi adanya korban jiwa,sebenarnya yang bertanggung jawab penuh atas jatuhnya korban jiwa ini adalah Kepolisian dalam hal ini Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya beserta jajarannya dari Kepolisian Resort Jakarta Pusat dan Kepolisian Sektor Tanah Abang bukan PSSI dan Badan Liga Indonesia – BLI selaku pihak penyelenggara.

Kita bisa lihat bagaimana lemah dan tidak tegasnya para pengayom masyarakat ini dalam menegakkan hukum seperti contoh kasus pertandingan Arema Malang melawan Persiwa Wamena yang berlangsung di Stadion Brawijaya – Kediri,Jatim yang kebetulan disiarkan langsung oleh stasiun Tv Nasional dan stasiun televisi kabel jaringan olahraga,dimana ketika ada penyusup masuk ke lapangan dan menampar sang asisten wasit hingga tergeletak tak berdaya,oleh Polisi tersebut yang kebetulan dari Kepolisian Resort Kediri yang dipimpin langsung oleh Kapolres sang penyusup tersebut yang kebetulan pendukung Arema yang tidak puas dengan keputusan wasit yang menganulir gol dari pemain Arema,bukannya di tangkap dan diamankan disuatu tempat oleh para polisi,malah ditarik dan dikembalikan kedalam barisan penonton,ini sangat konyol sekali bahkan penulis melihat di televisi ketika massa benar – benar tidak terkendalikan dengan sikap wasit yang menurut mereka tidak professional lantas membakar apa yang didepan mereka termasuk salahsatu pendukung tersebut dengan mengepit boneka singa berlari ke tengah lapangan dan langsung menamparkan tangannya ke arah wajah dari asisten wasit dua dan terkapar,dan anehnya lagi polisi kali ini sama seperti kejadian pertama hanya mengusir tanpa ada memprosesnya lewat hukum padahal jelas sekali tindakan seperti itu sudah masuk kategori pidana dengan pasal pemukulan dan penganiayaan,tetapi kenapa polisi tidak menindaknya ?

Begitu juga dengan di Solo,Polisi tidak mampu meredam aksi yang dilakukan oleh Duo Moldova yaitu Pelatih Persija Sergei Dubrovin dan Yvgenny Khamaruk yang terlibat kontak fisik dengan asisten wasit,penulis lebih mengacungi dua jempol buat para aparat Polisi wilayah hukum Polisi Wilayah Kota Besar Surabaya – Polwiltabes Surabaya Jawa Timur yang langsung menangkap pemain Persebaya yang bernama Anthony Joma Ballah yang terlibat pertengkaran dan keributan dengan pemain Arema mulai dari lapangan hingg ke pinggir lapangan bersama Official dari Arema,itu baru dikatakan Polisi sejati tahu mana yang salah dan diamankan serta tahu mana yang benar,bukan seperti kejadian di Solo atau di Jakarta kemarin.

Akibat dari kejadian ini,Pemerintah melalui Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga meminta evaluasi dari Pihak Polda Metropolitan Jakarta Raya beserta tim panitia penyelenggara,dan hasilnya adalah laga Final Liga Djarum akan dipindahkan dari Gelora Bung Karno-Senayan Jakarta ke Stadion Jalak Harupat Kabupaten Bandung Jawa Barat,sementara yang penulis lihat di running text salahsatu stasiun televisi menyatakan bahwa Pihak Kepolisian Daerah Jawa Barat – Polda Jawa Barat tidak memberikan ijin keamanan untuk Final Liga Djarum,dengan alasan Proposal ijin keamanan harus diterima oleh pihak kepolisian minimal satu minggu sebelum hari H ?kalau ini memang protapnya maka makin hancur dan tidak jelaslah arah kompetisi ini,selain itu juga isu kepindahan ini juga direspon tidak baik oleh kedua tim maupun pendukungnya dengan alasan terlalu mendadak.

Soal berhenti atau lanjutnya kompetisi ini menurut saran penulis,memang disatu sisi kalau kita melihat kompetisi ini hanya isinya tawuran antar pemain dengan wasit pendukung klub dengan wasit,dan pendukung klub dengan pendukung klub lainnya tanpa ada hasil yang memuaskan terutama dalam hal kerangka Tim Nasional Merah Putih memang sudah sepantasnya kompetisi ini dibubarkan bahkan kalau perlu pengurusnya pun dibubarkan dan di potong satu generasi,karena penulis lihat kenapa kompetisi layaknya Kompetisi ++ dimana selain kita menonton sepakbola juga terdapat olahraga tinju dan Thai Boxing,didalamnya ada orang-orang yang membawa kepentingannya sendiri maupun kelompok serta kedaerahannya tanpa memikirkan prestasi dan harkat martabat sepakbola Indonesia dimata dunia,kita bisa lihat banyak pengurus PSSI mulai dari jaman Ketua Umum Azwar Anas yang ketika itu merangkap sebagai Menteri Perhubungan hingga sekarang masih saja berkantor di Pintu IX,logikanya mah…kalau lama berkecimpung disuatu bidang paling tidak meningkat resume bekerjanya menunjukkan prestasi yang luar biasa,tetapi khusus di PSSI mungkin bukannya bertambah maju malah mundur atau seperti tari Poco – Poco satu maju kedepan satu mundur kebelakang,contohnya pada saat Piala Asia Juli 2007 lalu,Indonesia dimata Asia dan mungkin dunia melihat paling bagus dan sangat nasionalisme sekali dengan bertandang ke GBK-Senayan dengan DressCode atribut Merah Putih atau Hijau Putih lagu Indonesia Raya berkumandang bergema hingga buluk kuduk pada berdiri,Bendera Merah Putih dan lambang Garuda selalu menghiasi sudut – sudut kota Jakarta dan sekitarnya disamping slogan Indonesia Ini Kandang Kita ! tapi setelah gelaran hajatan Asia itu selesai apakah masih berlanjut ? ternyata tidak sama sekali malah mengutip icon 4 Mata yaitu Kembali ke awal yaitu adanya trik wasit,adanya tawuran antar pendukung,antar pemain,perangkat organisasi yang tidak beres.

Tetapi disisi lain,apakah mau Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga sebagai wakil pemerintah dalam usaha olahraga mau menanggung semua biaya operasional klub,membayar gaji dan bonus gol atau penyelamatan gawang oleh kiper dan pemain dari klub itu sendiri serta utang-utang yang menghiasi buku keuangan klub ? jangan sampai Pemerintah menghentikan kompetisi ini tetapi data indeks kemiskinan dan pengangguran serta putus sekolah usia produktif di negara kita yang tercinta ini setiap bulan meningkat tajam dikarenakan banyaknya pemain yang menganggur karena pegangan ekonomi dapur dan sehari-harinya yang didapat dari bermain bola putus,anak – anak dari pemain sepakbola ini harus putus sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah dikarenakan sang kepala keluarga tidak bisa menafkahi keluarganya yang selama ini didapat dari lapangan hijau…belum lagi persoalan yang sama dialami wasit,assisten wasit kalau sudah seperti ini siapa yang bertanggung jawab ? klub ? klub sendiri masih harus memikirkan bagaimana pertanggungjawaban mereka kepada anggota dewan yang telah memberikan uang dari kas daerah yang jelas-jelas untuk kepentingan bersama dalam membangun daerahnya supaya lebih maju,belum lagi utang-utang yang membebani klub untuk kegiatan liga selama satu musim.

Intinya adanya reward dan punnishment bagi semua pihak tidak hanya klub tapi semuanya tidak terkecuali pengurus PSSI dan underbow-nya seperti BLI,Komisi Disiplin dan Banding serta perangkat lainnya,selalu budayakan MALU dan TAHU DIRI karena dua hal itu mungkin belum kena dihati para pengurus ini padahal semua pihak sudah meneriakkan dua hal ini tapi mungkin dianggap para pengurus PSSI ini ibarat masuk kuping kanan lalu didiamkan sebentar di otak baru dibuang lewat kuping kiri tanpa adanya berpikir lebih jauh.Keledai saja tidak mau masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya,tapi PSSI sering sekali lupa akan kejadian yang sudah – sudah tanpa mau mengakui dan merubahnya total demi kemajuan sepakbola itu sendiri,bagaimana bisa menjalankan Visi 2020 menuju Piala Dunia kalau hal sekecil ini seperti kasus kemarin tidak ada konkret hukum yang ada malahan pesta diskon hukuman seperti yang dilakukan komisi banding ,bahkan ada yang sudah terhukum tapi masih bisa main dan masuk dalam starting eleven alias pemain inti !

Akankah Kompetisi Liga Indonesia musim 2008 / 2009 dihentikan sementara oleh Menteri Negara Pemuda Dan Olahraga sampai kondisinya dan perangkatnya termasuk orang-orang yang menghuni Pintu IX diganti dengan orang – orang baru dengan semangat anak muda yang memiliki visi misi yang jelas membawa Indonesia bermain dan menjuarai Piala Dunia BUKAN yang pesakitan dan selalu menginap di Hotel Prodeo ? kita tunggu saja aib apa lagi yang dibuat oleh PSSI sekarang ini,atau memang Indonesia sudah tidak punya lagi Kompetisi Sepak Bola untuk selamanya ?

Selasa, 29 Januari 2008

SEPAKBOLA NASIONAL : PRESTASI = NO – ANARKIS = PASTINYA

GILA !!! mungkin hanya inilah yang bisa diungkapkan oleh penulis ketika sedang santai menyaksikan tayangan jaringan tv kabel yang selalu menyiarkan berita olahraga yaitu ESPN yang menayangkan tayangan berita sepak bola dari Tanah Air mending beritanya tentang kehebatan tim sepakbola seperti yang dilakukan timnas merah putih ketika berlaga di ajang Piala Asia,tetapi apa yang ditayangkan oleh ESPN tersebut,yaitu berita tentang rusuhnya pendukung Arema a.k.a Aremania yang membakar stadion brawijaya kandang Persik Kediri akibat kecewa dengan keputusan wasit Jajang yang menganulir dua gol dari pemain asing Arema yaitu Patricio ‘ Pato ‘ Morales yang dianggap off side.kemudian belum lagi di Solo dimana pemain asing berantam kemudian dihukum 2 tahun serta dilarang bermain dalam dua pertandingan dan denda tetapi pada pertandingan kedua masuk dalam Starting Eleven a.k.a 11 pemain utama ?

Kalau sudah seperti yang ditayangkan oleh ESPN apa pembelaan kita sebagai penikmat sepak bola nasional ketika ada turis yang mana kementerian Budaya dan Pariwisata sedang menggalakkan program wisata Indonesia,Visit Indonesia Year 2008 datang dan kebetulan maniac bola,dan bertanya kok sepakbola anda selalu rusuh terus ya ? jawaban anda ?

Yang menjadi pertanyaan sekarang ini mau sampai kapan sepakbola kita ini ibarat dagelan yang tidak jelas,kalau menurut penulis semua ini ujungnya adalah di sang ketua umum PSSI karena mimpi – mimpi beliau yang menjadikan Indonesia sebagai kekuatan sepak bola tetapi nyatanya,malah menjadi pesakitan dan leha – leha di hotel prodeo..

Apa yang dikatakan oleh salahsatu official Arema ketika disinggung oleh wartawan soal ada salahsatu pemainnya diturunkan dalan Starting Eleven beliau mengatakan

“ ketika Presiden FIFA,Sepp Blatter meminta revisi pedoman dasar dan munaslub,PSSI menyatakan belum menerima surat dari FIFA.Maka,kami sebagai anak meniru bapaknya (PSSI ) “
Ya memang apa yang dikatakan oleh official dari Arema ituada benarnya,semua itu kembali kepada PSSI sebagai otoritas Sepakbola dan organisasi paling tua di Indonesia untuk membenahinya,mau sampai kapan sepak bola kita selalu ditampilkan dilayar televisi bukan tayangan yang menunjukkan Ferry Rotinsulu dan kawan-kawan pemain liga Indonesia bermain layaknya pemain – pemain dunia yang sering kita tonton setiap akhir pekan,melainkan berita seperti yang terjadi di Kediri.

Menyinggung soal suporter atau pendukung fanatik,penulis sempat dan ingin menanyakan kembali kepada para pentolan atau korwil – korwil atau para pembinanya yang kebetulan sedang browsing internet dan membaca blog saya ini,pertanyaannya adalah apakah hasil dari pertemuan lintas suporter yang kalau penulis tidak salah dan juga mohon dikoreksi jika salah mulai dari Cipayung,Cisarua hingga Bali yang disponsori oleh salahsatu produsen rokok afiliasi dunia yang anda namakan Deklarasi Suporter Indonesia yang mana ( maaf ! kalau salah lagi ) salah satu point dari deklarasi itu adalah menjunjung tinggi sportivitas dan saling menghormati antar suporter,yang menjadi pertanyaan penulis kepada insan sepakbola terutama pengurus fans club adalah

"apakah ISI daripada deklarasi itu sampai dan di terapkan didalam lapangan ketika timnya bertanding sampai ke akar rumput ( grassrot ) atau Cuma sampai para pengurusnya saja? "
karena setiap pertandingan liga yang mana menjadi Big Match,pasti asumsinya selalu rusuh,jadi kemana proses dan tindakan nyata dari ISI deklarasi itu.

Penulis sependapat dengan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dimana kalau ini terus menerus,pemerintah siap menghentikan sementara kegiatan sepakbola atas nama hajat hidup orang banyak serta keamanan,semestinya sepakbola yang katanya sang ketum sebagai olahraga favorit rakyat Indonesia (?) bisa menciptakan iklim yang menyenangkan bukan seperti dagelan yang yang diperagakan di Kediri dan Solo kemarin.

Saran penulis terhadap perilaku para penikmat sepakbola yang benar-benar kelewatan yaitu meREFORMASI total kalau perlu memotong satu generasi yang sekarang ini duduk di kantor yang beralamat di Pintu IX Komplek Senayan,ketika penulis duduk di bangku sekolah dasar hingga penulis diakhir studi untuk meraih gelar S-1 orang – orang seperti itu ( tidak perlu penulis sebut , anda semua sudah tahu kok siapa saja mereka !!! ) masih saja duduk disana,padahal latar belakang mereka ada yang mantan pemain sepakbola,seharusnya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan paling tidak memajukan satu langkah dari apa yang mereka lakukan ketika mereka menjadi pemain. Tapi kenyataannya mana ? pangkal ini semua ada di Pintu IX itu sendiri,dosa mereka sudah terlalu banyak,seperti mana ada dikompetisi belahan dunia manapun sistem Promosi dan Degradasi dihapuskan dalil mereka katanya sudah menjadi keputusan bersama dari klub-klub, TOLONG !! buktikan kepada penulis apakah ke-36 klub divisi utama dan klub-klub yang berada di Divisi satu hingga kebawah yang menghendaki itu,karena setahu penulis ketika PSSI mengeluaran statement tersebut,banyak klub yang bereaksi keras,jadi apa ini hanya sekedar pepesan kosong atau gimana?

Lalu benahi perangkat yang sudah ada seperti wasit dan jadwal pertandingan,soal wasit penulis agak sedih melihat kinerja wasit sekarang ini,kiranya harus ada terobosan seperti memberikan pelatihan wasit walaupun para petinggi PSSI mengatakan tidak ada biaya untuk itu semua,bukankah PSSI pada Juli 2007 lalu ketika menjadi tuan rumah Piala Asia mendapatkan dana segar kalau tidak salah sekitar US$ 400.000 lalu kemana duit itu sekarang,kalaupun tidak bisa memberikan pelatihan,paling tidak wasit-wasit ini bisa belajar dari hasil tayangan – tayangan pertandingan liga Eropa seperti Primier Liga Inggris, Liga Italia Serie A , Liga Primera Spanyol , Liga Belanda yang disiarkan langsung oleh stasiun TV swasta yang wasitnya tidak diragukan lagi.

Soal Jadwal Pertandingan pun, PSSI era NH memiliki catatan buruk sekali dimana untuk kedua kalinya nama Indonesia tidak tercantum dalam kegiatan Liga Champion Asia,alasan PSSI lewat BLI yang mengurusi jadwal Liga,karena jadwal penyerahan berkas selalu terlambat itu alasan ketika Arema dan Persipura dicoret oleh AFC ketika pertama kali tidak ikut LCA,yang kedua alasan BLI karena jadwal habis kompetisi baru berakhir bulan Januari 2008 karena terputus kegiatan Piala Asia tapi kenyataannya sampai mau memasuki akhir Januari kompetisi masih berjalan (?) seharusnya PSSI dan BLI harus sudah mempunyai konsep dan komitmen serta konsisten mau dibawa kemana kompetisi ini terutama jadwal,memang tidak mudah membuat jadwal,paling tidak jauh sebelumnya sudah ada ketetapan bahwa kompetisi liga Indonesia dimulai misalnya pada bulan Januari dan berakhir bulan Januari tahun depannya dengan melihat juga kalender FIFA dan AFC untuk program pelatnas Tim Nasional tetapi yang ada di lapangan ? soal klub juga penulis agak geleng kepala mana ada kompetisi di dunia yang klub bermain hingga 36 klub,sekere – kerenya negara miskin dan kayanya negara maju pasti kompetisi sepakbola atau olahraga lain pasti jumlahnya sedikit.Pantas saja prestasi Tim Nasional Merah Putih selalu kalah terus…kalah terus…tapi latihan dan angan-angannya ibarat bagai punguk rindukan bulan ya jadwalnya saja dari awal sudah ga jelas sudah begitu banyak klub yang tidak mau melepas pemain yang dipanggil Timnas dengan alasan pemain inti.

Memang sudah seharusnya kompetisi ini untuk sementara harus ( kalau boleh mengutip istilah kedokteran atau bahasa keren ketika sang God Father Indonesia dilihat kondisi kesehatannya ) ditidurkan dulu untuk sementara waktu sampai para pelaku sepakbola mulai dari PSSI hingga Suporter sadar akan tugas dan tanggung jawabnya kepada para penikmat sepakbola,walaupun efek dari ini semua Indonesia akan mengalami penambahan seperti jumlah pengangguran semakin banyak paling tidak untuk kemajuan sepak bola Indonesia memang ini jalannya,ya untuk sementara kalian semua bisa belajar dari Siaran langsung pertandingan sepakbola yang disiarkan TV swasta sekaligus menjadi media belajar kalian semua mulai dari suporter hingga PSSI termasuk wasit dan BLI bagaimana sepak bola itu sebenarnya yang mengutamakan Fair Play bukan anarkis…

Sampai kapan ini semua berlalu dan Indonesia tidak lagi masuk dalam materi berita siaran ESPN,atau jaringan TV kabel olahraga seperti yang terjadi di Kediri tetapi Prestasi yang membanggakan seperti juara Piala AFF atau Piala Dunia 2014…kita lihat apakah NH masih dengan Kepala Batu serta memimpikan Indonesia sebagai tim yang kuat atau mundur dengan rela seperti membayangkan ketika sang God Father negara ini meletakkan jabatannya ? kita tunggu saja…

PSSI = Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia ATAU Perusak Sepak Bola Seluruh Indonesia ?

Senin, 07 Januari 2008

Real Indonesian Football Association loser and Forever …..

Competition of Indonesia League and Copa Indonesia Djie Sam Soe has entered which end acts later will determine who is jawara from two this competitions,even there [are] its(the champion but only as cage champion,PSSI as institution performing this intentionally or doesn't forget registers Indonesia, to come up place Champion Asia Cup..ini have been which when its(the times Indonesia or more precisely PSSI FORGETS registers it.

But enough that is of all,,yang now is how news PSSI after admonished [by] FIFA the problem of management which according to news FIFA doesn't agree management that is the existing because the chief arrested because criminal action of corruption which according to FIFA someone is involving is criminal may not take hold of..

Simply exhortation released by FIFA at medio the October until this article read you is not answered to seriously by PSSI, even by each of one member . Executive Commission PSSI challanges FIFA to send letter signed by President in the case of time given to finalize this problem.

We know that PSSI led by Nurdin Halid always have never been all right in bringing football Indonesia, a lot of sin and dream interests which submitted by the chief but that is of all TOTALLY FAILEDS like writer remembers that is construction program of Baretti,Primavera etcetera but in reality now such ? then concentration of practice timnas U-23 in Dutch state handled by Coach U-23 Dutch Foppe de Han for preparation of Asian Games result of his its ? FAILS even became mow gol,itu had not is conscious if only fund exhaust, then is sent again to state Tango-argentina for preparation of SEA GAMES in Thailand but before all in test at 2010 World Cup Pra Qualification result of his(its ? fair to middling but tragic in last act fights against Thailand,dan result from the concentration not seen when facing Myanmar and Combodia but remain to just of FAILED , then at the time of place Piala Asia Juli it’s appearance of Markus Horizon dkk have been good even gets aplaus from all circles but remain to just of possible FAILS of we smile and cures taste to long us to achievement football we be going forward the our brothers in Timnas U-16 to place Piala Asia this year which still have not been determined the host..but is later U-16 can talks in final place Piala Asia U-16 or on the contrary not different far with their senior where achievement they which writer spells out members ( forgiveness ! ) achievement a real loser!

According to writer, let it over PSSI follows just of order or rule released by FIFA for Indonesia, example of Federation of Quait Football directly disbands himself after admonished by FIFA which its(the problem background same as Indonesia, and create did also this official member defended if altogether always idolizes the public chief that is clearly cites expression released by UN is criminal what does badness to people

Will official member of this PSSI headstrong always doesn't obey FIFA,atau awareness of its(the mistake ? only official member of PSSI and God know..but according to writer PSSI now was PSSI which loser and would forever became loser otherwise have ever aware of your Failed.. change PSSI for the shake of progress and honorary this football and state eye world


Saves Indonesia Football from people hypocrisy and real loser….

Minggu, 23 Desember 2007

Danke Dortumund…..Danke MNC Network..

Ditengah terpuruknya kondisi olahraga dimana Indonesia sudah merasa puas dengan peringkat empat dalam SEA GAMES,dan terlebih lagi bobroknya secara lahir dan batin para pengurus PSSI di negara ini yang merasa masih hebat dan mampu membangun sepak bola menjadi sepakbola yang disegani tapi kenyataannya baru bisa BBM-Baru Bisa Mimpi,ternyata dipenghujung tahun ini 220 juta jiwa lebih penduduk Indonesia masih bisa mendapatkan hiburan olahraga.

Ya…berkat Media Nusantara Citra-lah sebuah perusahaan media yang menaungi beberapa stasiun televisi swasta dan juga jaringan televisi berlangganan,menghadirkan sebuah tim sepakbola yang ada didataran Jerman yaitu Borussia Dortmund ke Jakarta dan ber-sparing-parthner dengan Tim Nasional Indonesia.Tujuan Dortmund datang ke Jakarta bukan sekedar liburan semata,tetapi lebih kepada menyajikan sebuah pertandingan sekaligus menghibur dan yang lebih utama tujuan Dortmund datang ke Jakarta adalah ingin mempromosikan Liga Jerman atau kita sering dengar BundesLiga kepada masyarakat Asia yang pertama di perkenalkan adalah Indonesia

Akhirnya kenyataan itu terbukti juga,Klub Borussia Dortmund datang ke Jakarta setelah menempuh jarak Dortmund-Jakarta selama 16 jam, para pemain Dortmund pun bukan seperti yang diperkirakan banyak pecinta sepakbola yaitu hanya pemain yang statusnya cadangan atau tim Juniornya tetapi adalah FullTeam,dimana kita bisa melihat sang kapten Christian Woerns,atau mantan pemain Juventus Robert Kovac atau Mladen Petric The Murder,why writer called Petric The Murder ,because He action in last Qualification Euro 2008 against England and make 22sd player of Three Lion Squad like Steven Gerrad,Petr Crouch,Joe Cole,John Terry,Frank Lampard dan Michael Owen and off course the Holligans sweet sitdown in front they televison in home to watch Euro 2008 Austria-Swiss not be a member of tournament

PSSI harusnya Malu…

Pertandingan antara Tim Nasional Merah Putih yang berlabel Indonesia Selection dengan Dortmund yang berlangsung bertepatan dengan malam takbiran lebaran Haji (December,19th 2007,16.45 West Indonesian Time -GMT + 7) berakhir dengan skor tipis 1-0 untuk kesebelasan Dortmund dimana dicetak oleh sang pembunuh Mladen Petric lewat titik penalti pada menit ke-45,penalti itu sendiri bermula ketika pergerakan Diego Klimowick di kotak terlarang hingga mengundang pelaranggaran dari pemain belakang Indonesia Selection asal Klub Bandung Persib,Nova Arianto,selanjutnya wasit yang memimpin Jimmy Napitupulu langsung menunjuk titik putih,dan sang Pembunuh menjalankan aksinya dengan mengecoh kiper Markus Horison dan terjadilah GOL!!!

Apa yang harus diambil hikmahnya oleh para pemain dan juga yang paling utama adalah para pengurus PSSI yang seharusnya malu.kenapa penulis bilang malu? Karena seharusnya gawean seperti ini mendatangi klub atau Timnas luar negeri untuk berujicoba dengan Timnas Merah Putih adalah PSSI bukan pihak swasta atau lainnya seperti contoh yang dilakukan MNC Network

Tapi apa yang terjadi dengan event ini,penulis mendengar dan membaca bahwa Tugas PSSI yang diserahi oleh pihak MNC Network ini HANYA J mengurusi IZIN SEWA STADION GBK-Senanyan dan IZIN KEAMANAN,selebihnya seperti tiket masuk dan lainnya dikerjakan oleh MNC Network dan EO yang mengundang Dortmund ke Jakarta,penulis begitu mendengar dan membaca bahwa tugas PSSI hanya dua itu sebetulnya sangat menghina sekali dan memalukan karena apa,penulis beranggapan bahwa event Piala Asia kemarin katanya sukses ternyata menyimpan catatan tersendiri di mata MNC Network dan EO tersebut mungkin dengan adanya berita soal belum lunasnya hutang-hutang PSSI kepada pihak ketiga yang mungkin agak tidak percaya jika PSSI diserahkan tugas seperti meng-koordinir Tiket masuk,makanya pihak MNC Network dan EO yang menjalankannya.

Kita tahu umur PSSI bukan umur seperti Federasi Sepak Bola Timur Leste yang mungkin baru kemaren sore berdiri,tapi umur yang kalau disejajarkan dengan manusia yaitu sudah sangat tua bahkan melebihi kakek-kakek,seharusnya sadar dan mau menuruti permintaan 220 juta jiwa dan tentunya para pelatih yang melatih Tim Nas yang mendambakan Tim Nasional yang solid dan tentunya hasil dari solidnya adalah banyaknya partai ujicoba dengan kesebelasan yang mungkin lebih diatas dari kualitas permainan Tim Nasional kita supaya pemain dan official tahu kelemahan dan kelebihan dari TimNas ini,tapi kenyataannya ? permainan Tim Nas kita hanya di situ-situ saja tanpa ada kemajuan,kalau ada kemajuan hanya segitu saja,soal partai ujicoba pun ketika terus ditanyakan kepada para pengurus PSSI,para pengurus ini hanya menjawab,UUD:Ujung-Ujungnya Duit,tapi kita bisa lihat pada saat salah satu pengurus PSSI ditanya soal adanya partai ujicoba antara Indonesia Selection dengan Dortmund,beliau mengatakan dengan sangat bangga sekali,padahal event ini bukan 100% persen dananya keluar dari kas PSSI,tapi bisa bangga layaknya PSSI yang biayai ini semua ( pengurus yang aneh ).Bahwa event ini sangat bagus bagi perkembangan dan peningkatan kualitas sepak bola nasional.

Sudah saatnya PSSI sadar diri dan mau belajar dari event ini,karena bagaimana bisa maju Timnas Indonesia kalau ujicoba dengan kesebelasan luar dengan paling tidak kualitasnya 3 tingkat diatas kita tidak pernah ada,mau dibawa kemana Timnas kalau PSSI dan BTN tidak mau menfasilitasi Ujicoba bagi Timnas padahal angan-angan yang ada di OTAK para pengurus PSSI dan BTN serta BLI menciptakn Timnas yang selalu masuk dalam putaran final Piala Dunia.

Tapi ada kesan positif dari pertandingan ini bahwa dua pemain kita diacungi jempol oleh pelatih Dortmund,Thomas Doll bahwa Dortmund gagal menunjukkan dan mengembangkan permainannya dikarenakan gemilangnya dua pemain kita yaitu Kiper Markus Horison dan Ortizan Solossa.”Kami kesulitan mengembangkan permainan karena beberapa pemain karena beberapa pemain Indonesia tampil sangat bagus.Mereka adalah Kiper dan pemilik nomor punggung 14 ( Ortizan )”

Ok…cukup,yang menjadi pertanyaan sekarang bisakah PSSI mengambil alih dan mendanai 100 % kedatangan Bayern Muenchen yang kabarnya akan datang tahun 2008 sebelum pembukaan Euro 2008 dari tangan negosiasi MNC Network dan EO tersebut yang kabarnya masih alot karena mereka meminta match fee ,dan juga mendatangkan Tim-tim baik klub maupun Timnas negara yang kuat untuk datang ke Jakarta dan bersparing-parthner dengan Tim Nasional Indonesia yang sesungguhnya BUKAN label Indonesian Selection seperti yang kemarin,itu semua tergantung dari kerja yang professional dan pembuatan kalender pertandingan liga yang sesuai dengan kalender FIFA dan AFC.

Semoga saja… “For Thomas Doll and Dortmund Player,I would like Thank you for coming,give coaching clinic and playing against Indonesian Selection in Jakarta,I hope you come back to Indonesian soon, I hope you and Dortmund player cant give some info and recomment about Indonesian Football to club member of Bundesliga and player to come to Jakarta for give coaching clinic and friendly match with Indonesian National Teams,once more I would like Danke to you Dortmund player and Coach God Bless U from Indonesian people…. “

Belajarlah dari Myanmar….Part 1

Ngomongin sepakbola nasional tidak pernah akan ada habisnya apalagi ngomongin tentang prestasi dari Tim Nasional Merah Putih,karena dari tahun berganti tahun di setiap event internasional mulai tingkat Asia Tenggara hingga Piala Dunia bahkan Olimpiade tidak pernah membuat bangga 220 juta jiwa penikmat sepakbola nasional dengan hasil yang bagus.

Ini terlihat prestasi Indonesia yang membanggakan masyarakat Indonesia pada tahun 1997 itu berarti 17 tahun yang lalu ketika Indonesia menjadi tuan rumah SEA GAMES dan itupun hanya meraih perak sisanya hanya mungkin menurut penulis (maaf ) penggembira saja.

Banyak kecewanya dan marahnya penikmat sepakbola nasional terhadap Tim Nasional Merah Putih ketimbang gembiranya kita bisa lihat pada mulai ajang Piala Asean Piala Asia , Kualifikasi Piala Dunia hingga yang kemarin SEA GAMES,semua hasilnya sama yaitu gagal memberikan hadiah yang terbaik bagi penikmatnya di tanah air..

Lalu apa hubungannya dengan Myanmar ? sebenarnya maksud penulis menulis ini Cuma hanya ingin menyindir para anggota pengurus yang dipimpin oleh seorang penjahat kemanusiaan agar sadar dan mau mundur dari organisasi yang mereka duduki alias membubarkan diri dan kembali membentuk PSSI yang baru.

Myanmar adalah negara kecil dengan ibukotanya Yangoon dan juga masuk dalam keanggotaan ASEAN yang sekarang sedang diberbincangkan dalam kancah internasional dengan isu tidak demokrasinya di negara itu karena dipimpin oleh seorang jenderal militer sementara hak-hak sipil dari rakyatnya selalu dibelenggu,bahkan sampai Badan Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB ) turun tangan untuk mengatasinya.

Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang disaat negaranya sedang bergejolak,sarana yang mungkin lebih minim dari negara kita tapi karir Tim Nasionalnya mampu berbicara di Arena 24th SEA GAMES Nakhon Ratchasima-Thailand,bahkan lolos ke babak final dengan mengalahkan Vietnam dengan hasil 3-1 lewat drama adu pinalti,tetapi di Final yang merupakan pertandingan ulangan di group A Timnas Myanmar gagal juara karena dikalahkan pasukan kuning Thailand dengan skor 2-0.

Sebenarnya langkah Myanmar pun tidak bisa dianggap istimewa karena pada pertandingan di group Myanmar hanya menang sekali yaitu 6-2 dari Kamboja,mengimbangi TimNas Merah putih 0-0 dan kalah dari Thailand 2-3 walaupun sempat tertinggal 0-3 terlebih dahulu.Sedangkan Indonesia sebenarnya bisa lolos ke babak semifinal dengan mengantongi satu kemenangan 3-1 melawan Kamboja,lalu mengimbangi Myanmar 0-0 dan kalah dari Thailand 2-1 yang membuat Indonesia tidak lolos karena kurangnya produksi mencetak gol di gawang lawan dengan Myanmar sehingga Myanmarlah yang lolos.

Kronologi ini bukan maksud membela Myanmar tapi untuk menyadarkan para pejabat PSSI,Myanmar negara yang sedang bergejolak dimana junta militer dengan kalangan sipil terutama aktivis demokrasi dan biksu dengan berdebat soal demokrasi,tapi Timnasnya tidak terpengaruh bahkan bisa menunjukkan bahwa dalam situasi apapun olahraga terutama sepakbola di Myanmar bisa maju dan menunjukkan kepada dunia.

Coba Indonesia,disaat negaranya yang menjunjung tinggi demokrasi,kompetisi yang bagus walaupun badan yang mengurusinya selalu tidak becus dengan jumlah klub yang limpah ruah,tapi hasilnya mana ?

Ketika diminta penjelasan dari setiap pelatih Timnas mulai dari Meneer,Komerad hingga pribumi pasti jawabannya seragam kayak jaman dinasti babe yang satu itu yaitu pola pembinaan dan pelaksanaan pelatnas yang selalu minim sehingga permainan tidak bisa berkembang maksudnya ?

Ya itu kembali lagi kepada para pengurusnya mau dibawa kemana nasib Timnas ini maju dan menjadi tim yang disegani mulai tingkat ASEAN sampai dunia,atau hanya Timnas yang BBM alias Baru Bisa Mimpi untuk menjadi Timnas yang disegani.

Sebenarnya cukup mudah kok untuk menjadi Tim Nasional Merah Putih berjaya dipentas internasional yaitu

Pertama,tinjau kembali susunan dari para pengurus organisasi itu karena menurut penulis para pengurus inilah yang membuat pelatih Timnas dan struktur kerja dari para pemain Timnas kacau balau,kita bisa lihat bagaimana bisa mencapai target juara dengan perolehan emas di SEA GAMES kemarin kalau program Timnas-nya baru berjalan beberapa bulan menjelang hajatan insan olahraga Asia Tenggara.

Kedua,kompetisi yang sesuai dan bisa masuk akal,karena apa memang benar semakin banyak klub semakin besar peluang pemain itu masuk di Timnas,tapi kalau kebanyakan juga kompetisinya jadi tidak sehat,lebih kompetisi itu untuk divisi utama hanya terdiri 18-20 klub seperti kompetisi yang beredar di liga dunia.dan PSSI lewat Badan Liga Indonesia harus bisa menciptakan persaingan kompetisi yang sehat karena selama ini penulis lihat BLI agaknya tidak keras dan tidak konsisten dalam hal misalnya pengaturan jadwal kompetisi ini terbukti untuk ketiga kalinya Indonesia terlambat mendaftarkan klub Indonesia untuk bersaing di ajang Piala Champion Asia,padahal bagi klub Indonesia bersaing dalam kompetisi Liga Champion Asia paling tidak bisa melihat seberapa kemampuan klub kita dengan klub besar di Asia terutama dari kawasan Asia Timur dan tengah sehingga dari sana kita bisa mereka-reka sejauhmana kemampuan Timnas kita.

Ketiga, pemain kenapa penulis menyoroti pemain,karena menurut penulis pemain Indonesia saat ini sebenarnya sudah cukup bagus tapi mereka tidak mau mengembangkan sayapnya ke luar Indonesia,kita bisa lihat bagaimana performa Kurniawan DJ yang pernah bermain di Liga Swiss dengan klub FC Luzern serta Sampdoria, lalu ada Bima Sakti yang bermain di Liga Swedia dengan FC Helsingborg setelah dari Sampdoria-Italia dan yang terakhir adalah duo Indonesia Bambang Pamungkas dan Eli Aiboy yang mampu membawa Selangor FC meraih treeble Liga dan Piala Malaysia,sayangnya mereka-mereka ini hanya bertahan mungkin satu musim saja,mungkin alasan mereka kembali menurut penulis dikarenakan budaya tempat mereka bermain tidak sesuai dengan budaya Indonesia,padahal kalau dilihat sebenarnya sudah bagus mereka paling tidak dalam skill permainan mereka,tetapi mungkin bagi mereka, gaji yang mereka terima di kompetisi luar negeri masih sedikit (padahal kalau dikurs ke rupiah lumayan buat bikin PT.Kerupuk Indah J ) ketimbang dengan iming gaji di Indonesia yang jelas-jelas menggunakan rupiah daripada Dollar ,Euro atau Ringgit,secara program latihan di negara kita masih minim bahkan seadanya saja ketimbang di luar negeri yang mengutamakan disiplin dan professionalisme dan tentunya etalase bagi pemain jika bisa mengangkat klub bermain dalam kompeti bergengsi.Pesan penulis buat para pemain Indonesia

“Ayolah pemain Indonesia jangan terbuai dengan lembaran rupiah yang tebal serta bonus yang melimpah tapi lihat apakah anda mau gaji yang besar tapi permainan anda tidak berkembang,dan lebih kepada kekerasan pilih mana ? jadikanlah pemain Asia yang bermain di liga Eropa sebagai campuk motivasi ,mosok kalah sama 3 pemain Thailand yang di test dan masuk menjadi anggota skuad dari Tim Liga Premier Inggris,Manchester City “

Keempat,klub soal inilah yang mungkin ( mohon maaf kepada semua manager dan ketua umum klub di Indonesia ) menurut penulis biang dari semua kekalahan dan tidak beresnya di dalam Tim Nasional,kenapa penulis bilang begitu ? karena kita bisa lihat bagaimana klub selalu menahan pemain yang dipanggil untuk Training Centre-TC oleh pelatih Timnas dengan alasan pemain ini dibutuhkan sekali dalam klub,sebenarnya kalau kita berpikir pemain ini kan sama halnya dengan tentara sewaktu-waktu dapat dipanggil toch,memangnya kalau pemain ini dipanggil klub akan mengalami kekalahan atau kiamat dunia ? bukannya setiap tim paling tidak ada memiliki pemain sebanyak 32 orang belum lagi pemain junior binaan klub itu kenapa pemain-pemain itu dikaryakan,bukannya pemain itu dibayar untuk mengangkat nama klub,buat apa pemain itu dibayar kalau tidak dimainkan.

Mungkin keempat itulah menurut penulis yang harus dibenahi oleh semua insan yang benar-benar ingin menjadikan Tim Nasional Merah Putih menjadi Timnas yang disegani dan mampu berbicara banyak dan tentunya menghasilkan banyak prestasi yang dibawa ke Jakarta bukan Tim Nasional Merah Putih yang BBM- Baru Bisa Mimpi….

Woiii Suporter Indonesia Kalau Datang ke Stadion Buat Nonton Bola Tuch Pake OTAK bukan OTOT !!!!

Rusuh lagi…rusuh lagi…hanya kata –kata itulah yang mampu keluar dari nurani penulis ketika menyaksikan berita yang menampilkan kerusuhan penonton pada pertandingan liga Indonesia di Stadion Benteng-Tangerang antara klub Persita Tangerang dengan Persib Bandung,dimana puluhan orang luka-luka dan juga banyaknya kendaraan yang terparkir di sekitar stadion rusak.

Sebenarnya apa sich yang menyebabkan banyaknya kerusuhan antar suporter klub di bumi ini ketika klubnya sedang bertanding ? kalau dilihat sich sebenarnya Cuma untuk menunjukkan bahwa klub dan suporternya lah yang paling bagus ketimbang suporter dan klub yang bertanding saat itu,atau mungkin sudah musuh abadi.

Kita bisa lihat bagaimana persaingan itu terjadi seperti perseteruan antara PSMS dengan PERSIJA,PSMS dengan PERSIB, PERSIJA dengan PERSIB , PERSEBAYA dengan AREMA dan masih banyak lagi lainnya dan ini pun merembet kepada fans-fans mereka ketika mereka bertanding dan yang terjadi adalah ya seperti yang di Tangerang..Rusuh…

Padahal sudah dua kali,salah satu produsen minuman energi dan suplemen mengadakan semacam pertemuan antar sesama suporter klub yang ada di Indonesia dengan sebutan acaranya Jambore Nasional Suporter Indonesia yang terakhir di adakan di Bali bersamaan dengan ajang Piala Asia,dimana inti dari pertemuan antar suporter ini sebenarnya ingin mempererat silaturahmi dan berbagi informasi sesama suporter bahkan mereka dalam dua kali pertemuan ini telah menghasilkan suatu rumusan,tetapi kenyataannya dilapangan tawuran antar suporter masih saja terjadi ini salah siapa ?

Menurut hemat dan saran penulis,sebaiknya ada beberapa hal supaya Suporter itu tidak terjadi kerusuhan lagi,percuma saja tiap tahun dibuat Jambore Nasional Suporter kalau kenyataannya masih saja ribut,walaupun sering ada perdamaian antar suporter tapi yang masalahnya adalah yang melakukan perdamaian adalah para pengurusnya alias para petinggi organisasi fans klub bukan lapisan bawah atau grossrot.

yaitu :

Pertama, para pengurus kiranya mendata kembali anggota-anggotanya karena selama ini manajement ke-Fans-nan di Indonesia masih kurang dipahami bila dibandingkan manajement Fans Club yang ada di liga dunia,ini terbukti ketika tawuran antar suporter,para pengurus ketika diminta pendapatnya oleh wartawan selalu mengatakan yang melakukan itu adalah oknum,seharusnya mereka intropeksi sendiri kedalam dengan cara mendata secara selektif secara ketat siapa saja yang menjadi anggotanya,dan mau memberikan sanksi tegas mulai dari teguran hingga sanksi pemecatan dari keanggotaan,paling tidak itu saja bisa mengurangi tingkat ketawuran yang ada saat ini.

Kedua,dari klub kiranya juga dapat membantu para suporter ini antara lain dengan mengajak serta mereka dalam kegiatan seperti pada saat menjadi tuan rumah dilibatkan menjadi petugas penghubung atau Laison Officer-LO dari klub yang akan tanding dikandangnya atau juga sebagai bagian dari keamanan,selain itu juga klub juga harus bisa memberikan teguran mulai dari ringan hingga kasar kepada kelompok suporter jika ada yang anarkis,kalau perlu jika ada fans klub yang tertangkap kamera televisi jika sedang disiarkan langsung,klub langsung memberikan sanksi dilarang berada dilingkungan stadion mulai dari misalnya ring 1 hingga ring IV seumur hidupnya.karena klublah yang kena getahnya oleh Komdis jika terjadi kerusuhan dengan hukuman bertanding tanpa penonton dan denda yang tidak sedikit,sedang suporter tidak mendapatkan sanksi dari Komdis atau PSSI.

Ketiga,PSSI terutama Komisi Disiplin-Komdis harus bisa membuat perangkat hukum khusus untuk para kelompok suporter,karena selama ini Komdis hanya memberikan sanksi kepada klub dengan pasal tidak bisa menyelenggarakan pertandingan dengan baik,padahal yang bikin ulah adalah kelompok suporter itu,paling tidak Komdis dapat memberi sanksi mulai dari teguran hingga sanksi tegas,misalnya jika terjadi kerusuhan atau tawuran Komdis memberikan sanksi tidak boleh mendampingi klub sampai paruh musim atau satu musim,selain denda puluhan juta rupiah yang harus dibayar langsung dari kas organisasi suporter itu sendiri BUKAN klub,sedangkan untuk perorangan jika tertangkap kamera televisi yang sedang menyiarkan siaran langsung,diberi sanksi tidak boleh masuk stadion sampai waktu yang ditentukan kalau perlu seumur hidup dan denda puluhan juta rupiah dan diserahkan kepada pihak kepolisian,atau dengan kata lain Komdis bisa melihat dan belajar dari pengalaman klub dan organisasi yang ada di dunia contohnya pada kasus Celtic – Milan di ajang Liga Champion dimana suporter Celtic masuk lapangan dan berlari ke arah kiper Dida dan mengelus dagu Dida sambil berlalu ke pintu keluar,dalam waktu 1 x 24 jam dari pertandingan dan hasil rekaman,suporter itu dihukum tidak boleh berada dalam stadion selama kalau tidak salah penulis,satu tahun,kalau model Eropa ini diterapkan dalam lingkup kompetisi negeri kita pasti akan lebih tertib dan teratur dalam menonton.

Kiranya Suporter Indonesia bisa lebih AKUR dan bersahabat satu dengan yang lainnya,dan selalu ingat “ Suportifitas YES,Anarkis NO “,akankah pada pertemuan Jambore Nasional yang mungkin akan digelar lagi akan semakin mesra para pimpinan atas fans Klub dan grassrot antar suporter klub di Indonesia atau tambah Hancur seiring dengan kompetisi dan Timnas yang juga semakin lama akan hancur,semoga saja tidak………