
Pertama – tama atas nama pribadi ingin mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya pendukung Jak Mania dalam peristiwa kerusuhan antar suporter dalam lanjutan 4 besar dan final Liga Djarum Indonesia 2008 yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno – Senayan Jakarta pada tanggal 6 Februari 2008 sore setelah pertandingan antara PSMS Medan melawan Persipura Jayapura,semoga arwah dan amal ibadah beliau di terima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan dapat diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.
Ok cukup turut berduka citanya…sekarang kita lihat belum usai kerusuhan dalam laga delapan besar yang berlangsung di Kediri dan Solo hanya dalam hitungan 3 minggu dan belum masuk hitungan satu bulan sudah rusuh kembali,yang menjadi pertanyaan kenapa ini bisa terjadi ?
Kalau dilihat kronologi dan analisa serta pandangan penulis ( maaf kalau salah ! ) sebenarnya para pendukung klub sepak bola di negara kita ini bukan orang dewasa,badannya saja yang dewasa serta umurnya yang akil balik tapi otak dan kelakuannya seperti anak kecil yang berumur 6 tahun.bagaimana prestasi bisa diukir kalau kelakuan dan perilaku penonton dan pendukung klub yang belum bisa membedakan dan mengartikan dari kata Fair Play serta siap menang dan siap kalah.
Sebenarnya yang menjadi pertanyaan lagi,bagaimana sich sistem keamanan yang berlaku di negara ini jika dalam satu hari ada dua pertandingan dan dilakukan didalam satu stadion ? setahu penulis setelah pertandingan pertama selesai biasanya dalam jangka waktu 1 – 2 jam sebelum kick off babak kedua semua stadion di ring satu harus kosong alias steril sebelum dimasuki oleh pendukung dari klub yang bertanding pada jam kedua,tapi kenyataannya seperti yang terjadi kemarin,baru selesai peluit dibunyikan menandakan pertandingan pertama telah berakhir,dan stadion belum kosong benar sudah timbul kerusuhan,dan ya mengakibatkan sang pemuja persija itu tewas.
Menurut penulis kerusuhan kemarin dilatarbelakangi dua kemungkinan,yang pertama adalah pendukung Persija masih sakit hati kepada Tim Persipura ketika berlaga ditempat yang sama hanya labelnya beda ketika itu memperebutkan gelar Copa Djie Sam Soe ajang prestise untuk yang terbaik dari semua klub di tiga divisi yang ada di Indonesia dimana Persija dikalahkan telak 3-1 dengan gaya permainan yang menurut penulis Persipura ingin menunjukkan kepada Persija beginilah bermain bola yang baik dan benar tetapi akhirnya Sriwijaya FC lah yang keluar jadi Juara.
Kemungkinan yang kedua adalah,pendukung Persipura alias Persipura Mania kecewa dan marah karena timnya tidak bermain maksimal walaupun sepanjang permainan,kubu Persipura yang penulis lihat sangat bagus permainan hanya keberuntungan penalti yang menentukannya,kemudian ketika keluar dari gerbang stadion tiba-tiba kubu Pendukung Persija datang yang mungkin tidak tahu bahwa Persipura kalah telak penalti dari PSMS Medan melampiaskan kekesalan dan kecewanya terhadap timnya kepada para pendukung Persija yang setelah pertandingan antara PSMS Medan dengan Persipura yang akan masuk kedalam stadion menjadi korban.
Tapi sebenarnya kerusuhan yang terjadi kemarin itu sebenarnya bisa saja dikendalikan jika pihak keamanan benar – benar tegas dalam menindak pelaku kerusuhan,tetapi kenyataan dilapangan apa ! contoh nyatanya ya itu tadi adanya korban jiwa,sebenarnya yang bertanggung jawab penuh atas jatuhnya korban jiwa ini adalah Kepolisian dalam hal ini Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya beserta jajarannya dari Kepolisian Resort Jakarta Pusat dan Kepolisian Sektor Tanah Abang bukan PSSI dan Badan Liga Indonesia – BLI selaku pihak penyelenggara.
Kita bisa lihat bagaimana lemah dan tidak tegasnya para pengayom masyarakat ini dalam menegakkan hukum seperti contoh kasus pertandingan Arema Malang melawan Persiwa Wamena yang berlangsung di Stadion Brawijaya – Kediri,Jatim yang kebetulan disiarkan langsung oleh stasiun Tv Nasional dan stasiun televisi kabel jaringan olahraga,dimana ketika ada penyusup masuk ke lapangan dan menampar sang asisten wasit hingga tergeletak tak berdaya,oleh Polisi tersebut yang kebetulan dari Kepolisian Resort Kediri yang dipimpin langsung oleh Kapolres sang penyusup tersebut yang kebetulan pendukung Arema yang tidak puas dengan keputusan wasit yang menganulir gol dari pemain Arema,bukannya di tangkap dan diamankan disuatu tempat oleh para polisi,malah ditarik dan dikembalikan kedalam barisan penonton,ini sangat konyol sekali bahkan penulis melihat di televisi ketika massa benar – benar tidak terkendalikan dengan sikap wasit yang menurut mereka tidak professional lantas membakar apa yang didepan mereka termasuk salahsatu pendukung tersebut dengan mengepit boneka singa berlari ke tengah lapangan dan langsung menamparkan tangannya ke arah wajah dari asisten wasit dua dan terkapar,dan anehnya lagi polisi kali ini sama seperti kejadian pertama hanya mengusir tanpa ada memprosesnya lewat hukum padahal jelas sekali tindakan seperti itu sudah masuk kategori pidana dengan pasal pemukulan dan penganiayaan,tetapi kenapa polisi tidak menindaknya ?
Begitu juga dengan di Solo,Polisi tidak mampu meredam aksi yang dilakukan oleh Duo Moldova yaitu Pelatih Persija Sergei Dubrovin dan Yvgenny Khamaruk yang terlibat kontak fisik dengan asisten wasit,penulis lebih mengacungi dua jempol buat para aparat Polisi wilayah hukum Polisi Wilayah Kota Besar Surabaya – Polwiltabes Surabaya Jawa Timur yang langsung menangkap pemain Persebaya yang bernama Anthony Joma Ballah yang terlibat pertengkaran dan keributan dengan pemain Arema mulai dari lapangan hingg ke pinggir lapangan bersama Official dari Arema,itu baru dikatakan Polisi sejati tahu mana yang salah dan diamankan serta tahu mana yang benar,bukan seperti kejadian di Solo atau di Jakarta kemarin.
Akibat dari kejadian ini,Pemerintah melalui Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga meminta evaluasi dari Pihak Polda Metropolitan Jakarta Raya beserta tim panitia penyelenggara,dan hasilnya adalah laga Final Liga Djarum akan dipindahkan dari Gelora Bung Karno-Senayan Jakarta ke Stadion Jalak Harupat Kabupaten Bandung Jawa Barat,sementara yang penulis lihat di running text salahsatu stasiun televisi menyatakan bahwa Pihak Kepolisian Daerah Jawa Barat – Polda Jawa Barat tidak memberikan ijin keamanan untuk Final Liga Djarum,dengan alasan Proposal ijin keamanan harus diterima oleh pihak kepolisian minimal satu minggu sebelum hari H ?kalau ini memang protapnya maka makin hancur dan tidak jelaslah arah kompetisi ini,selain itu juga isu kepindahan ini juga direspon tidak baik oleh kedua tim maupun pendukungnya dengan alasan terlalu mendadak.
Soal berhenti atau lanjutnya kompetisi ini menurut saran penulis,memang disatu sisi kalau kita melihat kompetisi ini hanya isinya tawuran antar pemain dengan wasit pendukung klub dengan wasit,dan pendukung klub dengan pendukung klub lainnya tanpa ada hasil yang memuaskan terutama dalam hal kerangka Tim Nasional Merah Putih memang sudah sepantasnya kompetisi ini dibubarkan bahkan kalau perlu pengurusnya pun dibubarkan dan di potong satu generasi,karena penulis lihat kenapa kompetisi layaknya Kompetisi ++ dimana selain kita menonton sepakbola juga terdapat olahraga tinju dan Thai Boxing,didalamnya ada orang-orang yang membawa kepentingannya sendiri maupun kelompok serta kedaerahannya tanpa memikirkan prestasi dan harkat martabat sepakbola Indonesia dimata dunia,kita bisa lihat banyak pengurus PSSI mulai dari jaman Ketua Umum Azwar Anas yang ketika itu merangkap sebagai Menteri Perhubungan hingga sekarang masih saja berkantor di Pintu IX,logikanya mah…kalau lama berkecimpung disuatu bidang paling tidak meningkat resume bekerjanya menunjukkan prestasi yang luar biasa,tetapi khusus di PSSI mungkin bukannya bertambah maju malah mundur atau seperti tari Poco – Poco satu maju kedepan satu mundur kebelakang,contohnya pada saat Piala Asia Juli 2007 lalu,Indonesia dimata Asia dan mungkin dunia melihat paling bagus dan sangat nasionalisme sekali dengan bertandang ke GBK-Senayan dengan DressCode atribut Merah Putih atau Hijau Putih lagu Indonesia Raya berkumandang bergema hingga buluk kuduk pada berdiri,Bendera Merah Putih dan lambang Garuda selalu menghiasi sudut – sudut kota Jakarta dan sekitarnya disamping slogan Indonesia Ini Kandang Kita ! tapi setelah gelaran hajatan Asia itu selesai apakah masih berlanjut ? ternyata tidak sama sekali malah mengutip icon 4 Mata yaitu Kembali ke awal yaitu adanya trik wasit,adanya tawuran antar pendukung,antar pemain,perangkat organisasi yang tidak beres.
Tetapi disisi lain,apakah mau Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga sebagai wakil pemerintah dalam usaha olahraga mau menanggung semua biaya operasional klub,membayar gaji dan bonus gol atau penyelamatan gawang oleh kiper dan pemain dari klub itu sendiri serta utang-utang yang menghiasi buku keuangan klub ? jangan sampai Pemerintah menghentikan kompetisi ini tetapi data indeks kemiskinan dan pengangguran serta putus sekolah usia produktif di negara kita yang tercinta ini setiap bulan meningkat tajam dikarenakan banyaknya pemain yang menganggur karena pegangan ekonomi dapur dan sehari-harinya yang didapat dari bermain bola putus,anak – anak dari pemain sepakbola ini harus putus sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah dikarenakan sang kepala keluarga tidak bisa menafkahi keluarganya yang selama ini didapat dari lapangan hijau…belum lagi persoalan yang sama dialami wasit,assisten wasit kalau sudah seperti ini siapa yang bertanggung jawab ? klub ? klub sendiri masih harus memikirkan bagaimana pertanggungjawaban mereka kepada anggota dewan yang telah memberikan uang dari kas daerah yang jelas-jelas untuk kepentingan bersama dalam membangun daerahnya supaya lebih maju,belum lagi utang-utang yang membebani klub untuk kegiatan liga selama satu musim.
Intinya adanya reward dan punnishment bagi semua pihak tidak hanya klub tapi semuanya tidak terkecuali pengurus PSSI dan underbow-nya seperti BLI,Komisi Disiplin dan Banding serta perangkat lainnya,selalu budayakan MALU dan TAHU DIRI karena dua hal itu mungkin belum kena dihati para pengurus ini padahal semua pihak sudah meneriakkan dua hal ini tapi mungkin dianggap para pengurus PSSI ini ibarat masuk kuping kanan lalu didiamkan sebentar di otak baru dibuang lewat kuping kiri tanpa adanya berpikir lebih jauh.Keledai saja tidak mau masuk ke lubang yang sama untuk kedua kalinya,tapi PSSI sering sekali lupa akan kejadian yang sudah – sudah tanpa mau mengakui dan merubahnya total demi kemajuan sepakbola itu sendiri,bagaimana bisa menjalankan Visi 2020 menuju Piala Dunia kalau hal sekecil ini seperti kasus kemarin tidak ada konkret hukum yang ada malahan pesta diskon hukuman seperti yang dilakukan komisi banding ,bahkan ada yang sudah terhukum tapi masih bisa main dan masuk dalam starting eleven alias pemain inti !
Akankah Kompetisi Liga Indonesia musim 2008 / 2009 dihentikan sementara oleh Menteri Negara Pemuda Dan Olahraga sampai kondisinya dan perangkatnya termasuk orang-orang yang menghuni Pintu IX diganti dengan orang – orang baru dengan semangat anak muda yang memiliki visi misi yang jelas membawa Indonesia bermain dan menjuarai Piala Dunia BUKAN yang pesakitan dan selalu menginap di Hotel Prodeo ? kita tunggu saja aib apa lagi yang dibuat oleh PSSI sekarang ini,atau memang Indonesia sudah tidak punya lagi Kompetisi Sepak Bola untuk selamanya ?