Senin, 24 Maret 2008

Jaksa Kok Korup


Penulis tidak kaget atau tidak terkejut bahkan tersenyum manis tentang apa yang terjadi dalam minggu – minggu ini terhadap berita yang terjadi yaitu tentang adanya penangkapan seorang Jaksa yang bertugas sehari – hari di Gedung Bundar Kejaksaan Agung Republik Indonesia dikawasan Blok M oleh Komisi Pemberantasan Korupsi – KPK,Jaksa yang bernama Urip Tri Gunawan ini terkena pasal atau tuduhan menerima suap sebesar US$660 ribu. Urip adalah Ketua Tim Jaksa Pemeriksa Kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang menangani kasus Syamsul Nursalim, terkait Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Sehingga sudah bisa diduga, uang suap senilai Rp6,1 miliar itu.

Menurut KPK sendiri dugaan itu ada kaitannya dengan kasus BLBI yang ditangani oleh sang Jaksa , sementara itu sang Jaksa dalam pembelaan dirinya ketika ditanya soal darimana asal – muasal dana US$ 600 ribu itu mengatakan bahwa uang itu hasil dari jual beli permata (?) serta tidak ada kaitannya dengan masalah BLBI , akibat dari penangkapan ini Jaksa Agung RI pun agak sedikit naik pitam dengan apa yang diperbuat anak buahnya dibelakangnya ( kayak lirik lagu peterpan aja…,// apa yang kau lakukan dibelakang ku….)

Penangkapan sang Jaksa ini pun bertepatan dengan adanya agenda dari Kejaksaan Agung RI tentang penghentian kasus BLBI sehingga akibat dari agenda ini semua anggota Parlement kita yang membidangi masalah hukum dan keuangan sempat berang dengan kebijakan dari Kejaksaan Agung sehingga akan mengancam pemerintah dengan mengatakan bahwa Parlement akan mengeluarkan jurus interpelasi dan hak angket untuk masalah ini.

Kenapa penulis tidak kaget dengan kasus ini ? karena kasus seperti sudah menjadi santapan sehari – hari bagi rakyat Indonesia betul tidak ? kenapa begitu karena ini baru segelintir orang yang kebetulan hari itu sedang apes nasibnya.

Kita bisa lihat bagaimana korupsi itu sekarang ini sudah sangat dekat dan familiar dengan kita seperti contoh pada saat mengurus KTP , akta kelahiran , SIM , Pasport dikantor keimingrasian atau administrasi pernikahan atau dapat kita simpulkan mulai kita muncul di dunia ini sampai kita harus berpisah dengan dunia karena kontrak hidup kita sudah habis pasti selalu berkaitan dengan yang namanya KORUPSI !!! tidak perlu muna atau ditutup – tutupi tetapi kenyataan itu ada sekarang didepan mata kita.

Walaupun itu semua setiap lembaga dan pejabat selalu berkilah dan bersilat lidah bahwa setiap warga yang akan berhubungan dengan segala hal tentang data akan dilayani dengan tanpa dipungut biaya tetapi kenyataan banyak juga anak buah dari pejabat itu kembali bersilat lidah dengan mengatakan bahwa kesejahteraan mereka yang resmi tidak cukup untuk membeli sekarung beras dan segenggam berlian jadinya mereka berkreatif sendiri dan rakyat harus menanggungnya.

Kita sebagai rakyat tidak perlu marah atau tersinggung jika dalam periode enam bulan hingga tahunan banyak lembaga Asing baik independent maupun berorganisasi dunia menempelkan nama Indonesia sebagai satu dari sekian banyak negara yang sering melakukan tindakan korupsi serta banyak lembaga asing mengatakan bahwa budaya Indonesia selain keanekaragaman tradisionalnya yang unik ternyata korupsinya juga bisa sejajar,memang budaya korupsi ini sudah dimulai pada jaman kerajaan atau sebelum nama Indonesia ada dan Indonesia merdeka dimana banyak kerajaan melakukan upeti kepada pihak – pihak sebagai balas jasa atau budi hingga jaman penjajahan dan kemerdekaan, jadi yang namanya korupsi sekarang bukan lagi dimasukkan dalam koridor hukum melainkan sudah memasuki koridor atau permasalahan yang sangat komplek seperti sosial , ekonomi ,hingga agama dan itu bisa kita dapatkan dalam kehidupan sehari – hari kita seperti contoh diatas..

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah SIAPA yang paling bertanggung jawab atas maraknya korupsi di negara ini ? jawabannya ya sudah pasti dan siapa lagi adalah 220 juta rakyat Indonesia mulai dari ujung Pulau Weh di NAD hingga ujung Merauke di Papua harus bertanggung jawab TAK terkecuali bayi – bayi imut yang baru saja keluar dari rahim sang ibu masih dengan berlumuran darah harus menanggung korupsi padahal mereka ini tidak tahu apa – apa soal itu.

Penulis juga meragukan dan mempertanyakan bentuk – bentuk yang dibuat oleh segelintir orang – orang untuk mengatasi bahaya korupsi ini seperti menganjurkan agar semua penduduk Indonesia melakukan Tobat Nasional atau Dzikir Nasional ,tetapi siapa yang bisa mengawasi dan apakah dengan melakukan ini semua penduduk Indonesia bebas dari Korupsi ?

Yang lebih penting adalah balik lagi kepada kita sendiri,apakah kita masih punya yang namanya hati nurani atau hati kecil kita , kalau itu masih ada , niatan untuk berkorupsi pun tidak akan dilakukan.betul tidak…

Kapan indeks Prestasi Korupsi negara ini menduduki peringkat paling bersih dan kooperatif yang dikeluarkan oleh semua badan yang mengurusi anti korupsi baik dari negara kita seperti ICW atau dari laur negeri hingga PBB, hanya Tuhan dan orang – orang yang belum sadar akan bahaya dari Korupsi ini…

Senin, 03 Maret 2008

Akankah Juventus VS Timnas Indonesia , Indonesia VS Brazil U-23 Olympic menjadi Kenyataan ?




Akankah Juventus VS Timnas Indonesia , Indonesia VS Brazil U-23 Olympic Berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno Senayan , Jakarta – Indonesia menjadi Kenyataan BUKAN Mimpi di Siang Bolong ?


Tidak disangka – sangka Indonesia tepatnya Jakarta akan menjadi pelabuhan bagi satu klub Eropa yang sudah sangat familiar dan mendunia serta Timnas yang melahirkan banyak talenta sepakbola yang sekarang tersebar di berbagai klub didunia dengan gaji yang fantastis pula..

Ya Klub itu adalah Juventus FC klub asal Kota Turin akan datang ke Indonesia pada medio bulan Mei,kunjungan trazeguet dan kawan – kawan ke Jakarta dalam rangka tur asia saat jeda kompetisi selain Indonesia Juventus akan melancong ke negara yang masih dalam kandidat mereka adalah Hongkong , Singapura dan Sydney ( Australia ) yang uniknya bahwa Juventuslah lewat agennya yang menawarkan diri dan dengan harga penawaran sekitar Rp. 7 Miliar.

Itu baru Juventus FC , lain halnya dengan Timnas U-23 Olympic Brazil, Kaka dan Kawan – kawan serta Carlos Dunga akan datang ke Singapura untuk mempersiapkan diri untuk tampil di Kompetisi sepakbola di ajang Pesta Olahraga Dunia – Olimpiade yang diadakan di Beijing tahun ini,tetapi Singapura ketika ditawarkan menolak dengan alasan tidak siap,kemudian Singapura merekomendasikan dan menelepon Indonesia untuk menawarkan apakah mau Brazil datang dan bertanding persahabatan di Jakarta dengan harga yang ditawarkan sekitar Rp.5 Miliar.

“ Agen Juventus menawarkan harga sekitar Rp.7 Miliar untuk bermain di Indonesia pada Mei mendatang “
- Direktur Pemasaran Banda Industri Sepak Bola Indonesia ( Bisni ) Hasani Abdulgani -

Kalau ini terjadi bukan hanya isapan jempol berarti Indonesia bisa disejajarkan dengan negara Malaysia dan Thailand dimana setiap tutup musim liga Eropa , klub Eropa selalu datang untuk sekedar menghilangkan kepenatan selama satu musim terus berkompetisi dan mencoba sejauh kemampuan dan taktik dari Timnas negara itu serta klubnya apakah bisa bersaing atau tidak dengan klub Eropa.

Sebenarnya Jakarta sudah mulai dilirik klub Eropa seperti medio Desember 2007 lalu disaat kompetisi liga Eropa hanya libur Natal dan akhir tahun kedatangan satu klub besar anggota Bundes Liga – Liga Jerman yaitu Borrusia Dortmund dalam rangka memperkenalkan atau menjual Bundes Liga di Asia dan juga mencoba kemampuan dari Timnas Indonesia dan hasil yang diraih Firman Utina dan kawan – kawan dalam menjajal Klub Jerman yang pernah menjadi Jawaranya Tanah Eropa tingkat Klub pada tahun 1997 ini tidak sia – sia walaupun kalah tipis 1 – 0 tapi penampilan Timnas bisa memberikan berita ke Eropa bahwa Indonesia selain budaya dan Exotic Bali-nya ternyata kemampuan Timnas bisa diajak berkompetisi walaupun Federasinya sekarang sedang tahap sekarat karena FIFA mengancam statusnya..

“ Pihak Singapura kemudian menghubungi kami dan menawarkan apakah Indonesia berminat menerima Brazil.Harga yang ditawarkan sekitar Rp.5 Miliar “ - Hasani -

Tetapi ada kendala yang tak lain dan tak bukan adalah masalah doku a.k.a duit atau kerennya hepeng karena tidak mungkin dalam hitungan bulan bisa mendapatkan dana segar paling sedikit Rp.12 Miliar untuk menggabulkan permintaan dari dua tim yang sudah familiar di negara ini jika datang ke Jakarta,bagi PSSI ini sangat berat sekali walaupun disatu sisi dengan kedatangan dari Juventus FC dan Timnas U-23 Olympic Brazil ke Jakarta bisa meningkatkan kemampuan dari pemain Timnas paling tidak ilmu yang mereka dapat dari pertandingan ini dan tentunya para penonton akan terhibur yang sudah lama mendambakan ada tim besar datang dan bermain di Indonesia .

Sebenarnya menurut penulis bisa saja kok PSSI mendatangkan dua tim ini,memang disatu sisi uang yang memegang peranan tapi demi harga diri dan terpandangnya negara kita dimata dunia paling tidak menguntungkan kenapa tidak yaitu..

“ Tawaran itu sangat menarik.Tapi, kami tak punya kemampuan dana yang mencukupi. Untuk mengadakan bisnis serupa yang sifatnya single event saja kemampuan kami maksimal hanya Rp.3 Miliar “

Pertama , dengan datangnya Juventus FC yang nota bene berasal dari Italia yang juga anggota Uni Eropa - UE kita bisa menunjukkan kepada UE yang mana sekarang mengskorsing semua Maskapai Indonesia untuk tidak mendarat di semua Bandara Eropa serta dunia ,bahwa penerbangan kita aman dengan cara PSSI menggandeng salahsatu maskapai udara untuk mengantarkan para Pemain dan Official Juventus FC ke negara selanjutnya setelah Indonesia dalam rangka turnya.

Kedua , Timnas kita bisa belajar bagaimana taktik dan cara bermain sepakbola yang sesungguhnya karena selama ini penulis lihat banyak pemain sepakbola kita yang bermain sepakbola seenaknya saja tanpa ada aturan seperti bermain kasar dan masih banyak lagi yang negatifnya dengan hadirnya Juventus FC dan Timnas U-23 Olimpiade Brazil ini kalau jadi maka akan kita bisa bandingkan mana sepakbola yang sesungguhnya sekalipun hiburan dan mana sepakbola yang tidak sesungguhnya..

Ketiga , dengan kedatangan Juventus FC dan Timnas U-23 Olimpiade Brazil paling tidak negara kita mulai dilirik banyak pihak dan sudah lupa dengan berbagai macam kejadian politik dan keamanan yang menimpa negara kita seperti travel warning, dan juga lewat ajang ini siapa tahu ada pemain kita yang dilirik mereka atau pemandu bakat dari klub lain yang kebetulan datang untuk mengintai untuk di kontrak bermain…

Dalam hal pendanaan , kita sebenarnya bisa kok.Memang disatu sisi kondisi keuangan negara kita belum menampakkan tanda – tanda kemajuan tapi jangan salah , kata NH sang ketum mengatakan bahwa sepakbola adalah olahraga seluruh rakyat dari segala golongan, kenapa tidak dicoba toch ini sebagai hiburan bagi rakyat Indonesia terutama penggila sepakbola yang mungkin sekarang sudah muak dengan kelakuan daripada tokoh – tokoh politik yang hanya bisanya jualan kecap saja tanpa ada bukti, toch PSSI kan bisa menggandeng KBRI di Roma dan Sao Paolo untuk mengurus surat – surat mereka serta akomodasi mereka dari Turin ke Jakarta serta Kedutaan Italia dan Federasi Brazil di Jakarta untuk dijadikan sponsor siapa tahu bisa lebih murah contohlah kasus Dortmund,selain itu program ini ditenderkan kepada sejumlah media yang akan meliputnya secara eksklusif, kerjasama dengan vendor – vendor SIM Card GSM atau CDMA lewat kuis – kuis premium, sponsor kit Timnas Indonesia-kan sama dengan Sponsor Juventus FC dan Timnas Brazil kenapa tidak dicoba kerjasamanya,soal tiket pun walaupun mahal bisa kerjasama dengan komunitas penggila sepakbola seperti Juventini Indonesia atau komunitas masyarakat Italia dan Brazil di Jakarta dengan memberi discount sementara diluar itu baru dikenakan harga..kalau masih susah kenapa juga dalam hal tiket ditekan semakin murah mengikuti metode ekonomi dimana harga barang yang ditekan semakin murah maka barang itu akan semakin dicari..betul tidak ?

Apakah dua nama besar itu akan datang ke Indonesia dengan kekuatan penuh dan kabarnya Kaka dan Pato akan bermain dalam Timnas Olimpiade Brazil didepan mata kita langsung tidak seperti yang bisa kita lihat hanya di televisi setiap akhir pekan menjadi kenyataan ? kita lihat saja kinerja dari PSSI apakah sadar tentang sebuah pengorbanan demi cita – cita Indonesia dipentas dunia atau sebaliknya Cita – cita dan mimpi itu hanya sekedar retorika ….kita tunggu…


Siapa BI 1 selanjutnya ?


Setelah ramai – ramai publik membaca dan mendengar diberbagai media tentang masalah yang terkait dengan Bank Sentral , sekarang timbul lagi sebuah issue hangat sehangat kopi manis yang selalu tersedia diwarung kopi adalah tentang siapa yang akan duduk manis di Kursi empuk sebagai Gubernur Bank Sentral selanjutnya ? Memang Gubernur BI saat ini Burhanudin Abdulah akan mengakhiri masa tugasnya di kantor yang berlokasi di Kebon Sirih ini.

Tetapi issu yang berkembang adalah bukan akhir dinas sang Gubernur ini terkait dengan kasus yang sedang menimpa BI sendiri melainkan siapa yang akan menggantikannya apakah calon ini berasal dari dalam Komplek BI atau dari luar Komplek ?

Memang beberapa minggu ini dari keterangan yang keluar dari Kantor Kepresidenan bahwa Presiden SBY sudah menetapkan dua tokoh yang akan diberikan kepada anggota dewan untuk di wawancarai apakah dua tokoh yang direkomendasikan oleh Pemerintah layak untuk duduk manis dan memantau perkembangan industri bank serta perjalanan Rupiah terhadap berbagai mata uang yang ada didunia atau tidak ?

Tetapi kenyataannya , sejumlah fraksi yang ada di Senayan berikut anggota dewan meminta agar Presiden mau mengirimkan lagi beberapa calon dari dua calon yang diberikan oleh Presiden.Memang Presiden hanya mengirimkan berkas berupa rekomendasi kepada para anggota dewan yang duduk di komisi – komisi dan fraksi yang berhubungan langsung dengan masalah – masalah keuangan dan perbankan.

Kenapa sebagian anggota dewan sepertinya keberatan dan tidak senang dengan dua nama yang direkomendasikan oleh Istana untuk menduduki kursi empuk di Kebon Sirih ? kalau menurut penulis ini lebih dikarenakan anggota dewan merasa yang berhak menduduki kursi itu adalah orang yang mengerti dengan kondisi yang ada di gedung tersebut dengan kata lain orang itu adalah pejabat atau pegawai dari Bank Indonesia itu sendiri bukan dari luar ?

Kenapa harus orang dalam yang berhak duduk di kursi itu ? memangnya orang luar tidak boleh ? bagaimana kalau nantinya orang luar yang bisa menstabilkan nilai rupiah dan suku bunga Indonesia dari serangan – serangan mata uang dunia dan saham – saham perusahaan asing terkait dengan isu transnasional ? itu mungkin sejumlah pertanyaan yang dilontarkan oleh rakyat di bumi ini terhadap isu yang berkembang di sejumlah media..

Penulis berpendapat kenapa juga Dewan harus bersikap sepertinya kurang setuju dengan rekomendasi Presiden , ada apa ini ? kita tahu bagaimana kondisi dari bank sentral kita ini beberapa minggu ini terkait dengan kasus “ kue “ itu yang melibatkan dua institusi strategis di negara ini.

Seorang Gubernur Bank Sentral harus bisa bekerja dibawah tekanan dan harus menciptakan suatu resolusi bahkan revolusi demi amannya pasaran terutama perbandingan harga mata uang nasional terhadap mata uang dunia yang sekarang ini penulis ibaratnya ingus yang kadang turun kadang naik secara tidak menentu , belum lagi laju ekonomi yang ada di negara ini yang semakin hari menurut penulis bisa dibilang setengah – setengah kenapa ? memang disatu sisi ekonomi kita semakin lama semakin menunjukkan hasil yang positif tapi di sisi lain maraknya praktek suap – menyuap serta pungutan – pungutan yang dibilang “aspal “ yang membuat banyak investor asing lari dari bumi ini karena kalkulasi ekonomi mereka jika berjualan di negara kita lebih banyak pengeluaran yang tidak jelas dan resmi ketimbang keuntungan yang selama ini mereka dambakan sebelum masuk ke negara ini betul tidak…?

Soal orang dalam BI sendiri atau luar dari Gedung BI sendiri , kalau menurut penulis apalah bedanya tapi yang pantas untuk sekarang ini melihat kondisi BI minggu – minggu ini ada baiknya kalau yang memimpin Bank Sentral adalah orang luar yang istilahnya tidak pernah bekerja didalam gedung tersebut kenapa ? kita bisa lihat sendiri bagaimana kasus “ kue “ ini yang melibatkan orang dalam BI sendiri , bagaimana masa depan BI di tangan orang – orang dalam BI yang nantinya menjadi orang nomor satu di sana , kalau sekarang saja sudah ada masalah , bukan maksud untuk menyudutkan dan menghakimi para karyawan/ti BI tapi hanya untuk penyegaranlah , pasti ada rasa bosan kalau dipimpin dengan orang yang sekantor atau pernah satu ruangan , toch para karyawan BI ini pun membutuhkan tokoh yang benar – benar berkompeten dan mau bersama – sama mengangkat Rupiah menjadi mata uang yang disegani di kawasan perdagangan dunia setelah atau mungkin diatas Dollar Amerika dan Poundsterling serta Euro.

Kenapa anggota dewan bersikukuh menolak rekomendasi dari Istana , mungkin menurut penulis ini lebih dikarenakan ( maaf ! ) faktor “ delapan enam – 86 “ antara anggota dewan dengan BI atau lebih “ halus “ adalah uang pelicin.kenapa bisa begitu kita bisa melihat dari kasus yang melibatkan anggota dewan periode kerja 1999 – 2004 dengan para petinggi BI dimana ada sejumlah uang yang mengalir deras dari Kebon Sirih ke Rekening bank yang terdapat di Senayan yang jumlahnya mungkin satu koper besi besar yang sering kita lihat di televisi kalau ada berita tentang kondisi keuangan negara dimana latar gambar kesibukan beberapa karyawan BI yang sedang membongkar koper besi besar yang berisi tumpukan uang untuk dimasukkan kedalam lemari besi khusus,untuk meluluskan RUU yang dibuat pemerintah lewat Bank Indonesia tentang Perbankan dengan kata lain kalau Gubernur BI berasal dari orang dalam berarti peluang anggota dewan untuk melakukan ( maaf ! ) permintaan “ kue ” bisa enak dan mengalir lancar ketimbang harus berhadapan dengan orang luar yang mungkin sifatnya tidak seperti sifat dari anggota dewan ini..

Jadi siapa yang memimpin Bank Indonesia menggantikan Burhanudin Abdullah apakah satu dari dua tokoh yang direkomendasikan Istana atau rekomendasi sendiri dari Dewan yang berarti orang dalam BI sendiri atau anda yang membaca dan mengunjungi blog ini mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur BI yang baru ? lumayan satu bulan gaji seorang Gubernur BI sekitar Rp.262.000.000,- sebelum dipotong menjadi sekitar Rp.160.000.000,- itu baru gaji belum lagi tunjangan – tunjangan lainnya yang nominalnya tidak jauh beda dengan gajinya sendiri..berminat ?

Siapa Pemakan “ Kue Tart “ itu


Beberapa minggu mulai dari akhir bulan Januari kemarin hingga detik ini , semua berita yang dimuat dan disiarkan oleh sejumlah media adalah tentang adanya kasus yang melibatkan para petinggi baik yang masih aktif hingga sudah pensiun di Bank Sentral negara ini dengan DPR , kenapa bisa semua wartawan merapatkan barisan di Kantor Bank Sentral ini serta kantor KPK di Kuningan ? karena satu dari pejabat tinggi itu yang dipanggil oleh KPK sekarang ini sudah menjadi bagian dari lingkaran keluarga penghuni komplek Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Ya sosok itu adalah besan dari sang Presiden , para pengunjung dan pembaca sudah tahu siapa yang penulis maksud jadi tidak perlu ditulis lagi di sini,posisi beliau ketika masih berkantor di kawasan Kebon Sirih adalah Deputy Senior Gubernur Bank Indonesia.

Ada apa dengan Bank Indonesia , KPK dan DPR ? ini tidak lain dan tidak bukan tentang adanya sebuah laporan dari mungkin warga atau barisan individual yang merasa sakit hati terhadap perilaku Bank Sentral kepada KPK tentang adanya dugaan suap – menyuap ( kayak Bayi aja ! ) antara Bank Indonesia dengan DPR tahun kerja 1999 – 2004 soal penyusunan draf RUU Perbankan supaya draf ini bisa selesai dengan cepat , tapi apa yang terjadi pada saat proses penyusunan draf RUU itu menjadi UU ternyata Bank Indonesia telah mengucurkan sejumlah dana yang tidak kecil untuk ukuran rakyat jelata kepada pihak – pihak dalam hal ini anggota DPR yang duduk , telat datang bahkan membolos serta sering tidur manis didalam sejumlah komisi seperti komisi anggaran dan komisi keuangan serta sejumlah fraksi dan itu dilakukan secara berkala..

Sehingga akibat dari laporan itu sejumlah nama beken tersandung dan harus bolak – balik ke kantor KPK untuk di mintai keterangannya ( seperti mau interview pekerjaan saja , kalau sudah datang dua kali biasanya indikasinya pasti diterima ya :-p ) bahkan sampai sang Gubernur tersebut juga dipanggil dan langsung dijadikan tersangka ketiga setelah dua anak buahnya ketika pada periode 1999 – 2004 menjabat sebagai kepala biro dan sebagai eksekutor untuk memberikan “kue tart “ bagi anggota dewan.

Yang agak aneh dan ganjil bagi penulis adalah pernyataan Gubernur yang menurut penulis ingin SDM – Selamatkan Diri Masing – Masing bahwa semua deputy Gubernur termasuk senior serta pihak – pihak terkait harus dijadikan tersangka karena mereka ini mengetahui dan menandatangani berita acara penyerahan itu dan dia yaitu Gubernur tidak tahu apa – apa karena 11 hari setelah menjabat Gubernur dia harus menandatangani sebuah berkas yang beliau tidak tahu isinya dan baru tahu setelah ini keluar..

Aneh bin ajaib.. mana mungkin seorang Gubernur tidak tahu dana yang tersimpan dalam brankas BI bisa keluar begitu dan dibagi – bagikan kepada anggota dewan , secara Bank Indonesia adalah GUDANG dari uang yang ada di negara ini dan seorang Gubernur harus secara otomatis tahu berapa uang yang masuk dan berapa yang keluar..

Penulis serta para pembaca dan pengunjungpun tahu bagaimana kelakuan dari para anggota dewan kita yang katanya wakil dari suara – suara rakyat yang telah memilih mereka untuk duduk manis di Senayan tapi kenyataannya ?

Kita tidak usah munafiklah , uang di negara ini mempunyai beberapa fungsi selain sebagai fungsi utama adalah sebagai alat transaksi dalam hal jual – beli bidang ekonomi juga BISA digunakan untuk melancarkan suatu kegiatan atau usaha supaya tidak terganjal suatu masalah nantinya justru seperti ini yang banyak dicari dan digunakan oleh hampir 80 persen penduduk Indonesia , misalnya untuk membuat KTP , SIM atau akta kelahiran saja kalau menurut INSTRUKSI yang dikeluarkan pemerintah lewat Kementerian Dalam Negeri atau instansi Pemerintah baik dari pusat maupun Propinsi adalah GRATIS !! tapi kenyataan dilapangan BAYAR !! dengan dalil saling mengerti atau bahasa Polisi Indonesia “ delapan enam “ ,betul tidak…?

Makanya tidak heran banyak praktek uang politik atau “ kue “ yang beredar di Senayan dengan berbagai macam bentuk misalnya , untuk melancarkan pembuatan UU atau untuk melancarkan usaha biar seseorang ( mungkin ! )bisa menduduki posisi strategis dalam koridor pemerintah misalnya jabatan Dubes disuatu negara yang “basah”,siapa tahu..atau menjadi Panglima Perang serta Kepala Staff Militer,siapa tahu…benar tidak

Menurut penulis , kasus pengirim dan pemakan dari “ kue “ ini harus diungkap secara terang – terangan dan terbuka kepada 220 juta jiwa rakyat Indonesia walaupun didalam rangkaian sangkaan yang diungkap KPK melibatkan orang dalam lingkaran keluarga Presiden , karena menurut penulis KPK adalah lembaga yang independet dan murni tidak korupsi walaupun pada prajurit KPK jilid I ada yang korup tapi itu tidak melunturkan semangat KPK dalam mencerahkan masyarakat Indonesia bebas dari budaya Korupsi.

Tetapi yang menjadi pertanyaan bagi KPK adalah kenapa cuma dari pihak BI saja yang diperiksa dan langsung dijadikan tersangka sementara dari anggota dewan baru satu – dua yang dijadikan tersangka , anggota dewan periode 1999 – 20004 yang menghuni Senayan bukan cuma mereka yang sudah dijadikan tersangka oleh KPK melainkan banyak yang tersebar di tiap komisi atau fraksi yang selalu berteman dengan urusan yang namanya uang dan bank kenapa ?

Memang ada kendala dalam menuntaskan KPK yang selama ini jadi momok bagi lembaga ini adalah setiap akan menindak suatu perseorangan terkait dengan laporan ke KPK soal dugaan KKN selalu terganjal dengan fungsi individual ini yang statusnya PNS atau pejabat negara sehingga harus ada ijin tertulis dari Presiden atau Menteri , semestinya Presiden pun harus bisa menghapuskan praktek ijin – mengijinkan terhadap anak buahnya yang terkait dengan kasus KKN , bukankah Presiden ketika kampanye dulu kalau tidak salah yang penulis baca dan dengar akan menuntaskan KKN tapi mana kenyataannya banyak pejabat negara terutama yang masih aktif dan terkait kasus KKN tidak pernah tuntas karena masalah ijin kalaupun tuntas biasanya sudah habis masa jabatannya.

Jadi siapakah yang mengirimkan dan memakan “ kue tart “ itu di Senayan akan terkuak semua , ini menjadi tugas nyata bagi KPK jilid dua apakah mampu selangkah lebih maju dari hasil kerja KPK jilid satu walaupun didalam kasus yang ditangani KPK jilid dua tersangkut seorang tokoh yang sekarang menjadi bagian dari penghuni Istana Kepresidenan ? kita tunggu saja apakah KPK yang baru bisa membuat gebrakan yang mungkin sebagian orang sebagai kontroversi namun dengan kontroversinya KPK sekarang mungkin negara Indonesia bisa memperbaiki peringkat indeks korupsinya dari semakin bahaya menjadi menjanjikan…khususnya bagi pengusaha dari Luar Negeri yang selama ini takut jika akan menanamkan modal karena lebih banyak pungli ketimbang modal yang dikeluarkan…kita sebagai rakyat hanya bisa berharap dan berdoa….