Sabtu, 19 Juli 2008

Matinya Kebebasan Pers di Negara ini


Beberapa hari yang lalu tepatnya di kantor Pengadilan Negeri Jakarta Selatan digelar sidang atas pemberitaan Koran Tempo dengan Perusahaan Kertas asal Riau dimana Koran Tempo digugat oleh perusahaan kertas ini karena pemberitaan tentang illegal logging yang membuat perusahaan ini merasa terpojokkan dengan pemberitaan itu, menurut Koran Tempo apa yang mereka lakukan dalam hal pemberitaan tidak menyalahi aturan yang dikeluarkan organisasi pers baik didalam negeri sendiri atau global.

Ternyata hasil dari sidang perkara itu ? Koran Tempo dinyatakan kalah dan harus membayar uang ganti dan permintaan maaf melalui media cetak yang telah disebutkan dan juga media televisi selama 7 hari berturut-turut.ini untuk kesekian kalinya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadi kuburan atau kutukan maut bagi kebebasan pers jika bersengketa dengan pihak terkait dalam hal pemberitaan.

Kita bisa lihat sebelum Koran Tempo, ada kasus Majalah Time dengan Dinasti Cendana soal pemberitaan investigasi majalah Time soal harta yang ada dan dipegang oleh Dinasti Cendana, akibat dari pemberitaan ini dan persidangan ditempat yang sama, majalah Time dituntut mengganti kerugian sebesar lebih dari Rp.1 M kepada Dinasti Cendana, dan tentnunya masih banyak lagi kasus yang mana media dijadikan pesakitan di wilayah Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Benarkah kebebasan pers dinegara ini sudah runtuh, tapi menururt penulis apa yang dilakukan oleh Pengadilan Jakarta Selatan sangat jelas sekali bahwa para hakim dan penggugat ingin memasung kebebasan bermedia di Negara ini. Memang pers di Negara ini berbeda dengan pers yang ada di luar sana kalau kita mengukur untuk skala regional misalnya di Malaysia, kalau di Malaysia persnya masih saja diawasi oleh pemerintahan, lain lagi dengan pers di Myanmar yang jelas-jelas dikelola dan diawasi secara ketat oleh junta militer.

Yang menjadi pertanyaan adalah sesadis itukah pers dalam pemberitaan sehingga banyak pihak yang ingin memasung bahkan membatasi kebebasannya dalam memberitakan suatu kejadian kepada masyarakat? Perlu di ingat Pers adalah satu dari 4 pilar kebebasan demokrasi di suatu Negara, pers memang kaitannya adalah memberitakan suatu kejadian kepada masyarakat, atau dengan kata lain pers adalah memberikan jawaban atas pertanyaan dari semua rakyat, tapi ada satu hal yang tidak diingat atau dilupakan oleh masyarakat adalah Pers bisa membangun Negara ini baik personal atau lembaga menjadi kuat atau meruntuhkan Negara, banyak contoh pers dengan Negara salahsatunya adalah anda tentu ingat dengan kasus WaterGate sebuah konspirasi dimana bocornya pembicaraan antara tim sukses Presiden Amerika Richard Nixon dengan salahsatu partai yang akhirnya membuat Presiden Nixon mundur secara sukarela karena malu, kasus ini terbongkar sehingga menurunkan kredibilitas dari seorang Nixon adalah berkat dua orang jurnalis harian terkemuka ibukota di Amerika dan mereka bekerjasama dengan salahsatu orang dari partai tersebut dengan sandi istilah dalam pornografi deephtroat dan baru beliau telah meninggal identitas sang deepthroat ini terungkap, atau kasus skandal seks yang dilakukan oleh Presiden Amerika ke 42, Bill Clinton terhadap Sekretaris magang di ruang Ouval Gedung Putuh- Marryland Washington DC. Di Negara ini pun jurnalis banyak membongkar berbagai skandal yang memalukan yaitu salahsatunya adalah kasus kekerasan yang terjadi di Institut Pendidikan Dalam Negeri dimana akhirnya Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia kebakaran jenggot, karena mungkin mereka tahu tapi ditutup-tutupi dengan permainan yang sangat cantik, tapi sekali lagi dengan apa yang penulis tulis di atas Jurnalis bisa mengagungkan Negara ini baik secara personal maupun lembaga bisa juga menjatuhkan sampai jatuh sekali Negara ini, dan prediksi penulis sebentar lagi jurnalis dengan kemampuannya akan menjatuhkan Negara ini lewat tulisan yang mereka alami bersama dengan rakyat terhadap Negara ini.

Jadi saran penulis sich, khususnya kepada para pejabat atau siapapun hormatilah kinerja pers itu sendiri, kalau memang ada tulisan yang membuat anda tersinggung atau terpojok dan tentunya ada bukti-bukti bahwa anda tidak terlibat, anda bisa mengajukan keberatan tulisan dari sang wartawan lewat hak Tanya kepada harian tersebut, dan nantinya dari pihak redaksi akan menjawabnya tentunya lewat mungkin pertemuan langsung atau lewat rubric surat pembaca, kalau seperti itu lebih elegan dan kekeluargaan daripada harus lewat jalur hukum.

Jadi, akankah Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjadi kuburan lagi bagi para kuli tinta dalam menjalankan tugasnya sebagai jurnalis yang memberikan informasi dan jawaban bagi rakyat yang ingin mengetahui sebuah peristiwa ? kita lihat saja.

Viva La Furia Roja Espana, Danke Austria – Swiss

Hanya satu ungkapan kepada Tim Nasional Spanyol yaitu Perfecto ezcellente dimana, pada awal-awal menjelang turnament ini akan digelar, Iker Casillas dan kawan-kawan tidak diprediksikan untuk menjadi juara, untuk lolos grup saja masih dipandang sebelah mata dikarenakan adanya kontroversi dari sang pelatih Opa Aragones dimana untuk pertama kalinya dalam mungkin sejarah sepakbola Spanyol tidak memasukkan satu pemain yang selalu langganan dan menjadi trademark dari Timnas ini yaitu Raul Gonzalez Blanco.

Tetapi itu semua dapat ditepis oleh sang Opa dengan title gelar juara atau yang punya benua biru Eropa sebagai Juara Piala Eropa 2008 mengalahkan tim Der Panzer dengan cetakan gol pemain Spanyol yang bermain di klub Liverpool – Fernando “ Il Nino “ Torres.
Sekali lagi dalam dunia persepakbolaan tidak ada yang mustahil, semua bisa berubah, setelah Piala Eropa Tahun 2004 di Lisabon-Portugal Negeri 100 dewa – Yunani dengan keperkasaannya menjadi Juara setelah menyingkirkan sang tuan rumah Portugal dengan Skor 1-0 yang dicetak oleh pemain Angelos Charisteas, dan sejarah itu terulang di Swiss dimana Spanyol yang tidak diunggulkan sama seperti Yunani bisa menaklukkan tim sekuat Jerman hanya dengan skor 1-0

Sekali lagi Perfecto Excellente Viva La Furia Roja Espana, dan Danke Austria – Swiss, see in Euro 2012 Poland-Ukraine

Susunan Pemain:Jerman: Lehmann, Friedrich, Metzelder, Mertesacker, Lahm (Jansen 46), Hitzlsperger (Kuranyi 58), Frings, Podolski, Ballack, Schweinsteiger, Klose (Gomez 79).Cadangan: Enke, Adler, Fritz, Westermann, Rolfes, Neuville, Trochowski, Borowski, Odonkor.Kartu kuning: Ballack, Kuranyi.Spanyol: Casillas, Sergio Ramos, Puyol, Marchena, Capdevila, Senna, Iniesta, Fabregas (Alonso 63), Xavi, Silva (Santi Cazorla 66), Torres (Guiza 78).Cadangan: Palop, Reina, Albiol, Fernando Navarro, Villa, Sergio Garcia, Arbeloa, Juanito, De la Red.Kartu kuning: Casillas, Torres.Gol: Fernando Torres 33'.Penonton: 51.428 orangWasit: Roberto Rosetti (Italia)

Jumat, 04 Juli 2008

SBY… Penghematan apa lagi yang anda mau !


Beberapa hari ini DKI dan kota-kota di negara ini semakin lama semakin tidak menentu nasibnya karena hampir setiap jam selalu ada saja aksi demo yang dilakukan baik oleh mahasiswa atau masyarakat sehubungan dengan naiknya harga Bahan Bakar Minyak – BBM yang tadinya berkisar di Rp. 4,500 sekarang menjadi Rp. 6,000 untuk satu liter, dan lebih parahnya adalah hari-hari ini harga minyak di pasar dunia menembus level US $ 145 untuk satu liter ( silakan anda konversikan sendiri dari Dollar Amerika ke Rupiah, capek ).

Setelah harga BBM menembus isu US $ 145, lantas apakah negara akan menaikkan kembali harga minyak setelah pemerintah melakukan kebohongan publik dimana pada tahun 2005 lalu dengan lantangnya sang Presiden di Istana ketika kalau tidak salah selepas melantik Kepala Staff mengatakan bahwa sehubungan dengan harga minyak yang melambung harga kebutuhan minyak di dalam negeri belum ada perubahan, tetapi kenyataannya malah NAIK !! ini jelas sekali kebohongan publik.

Belum lagi kabarnya Indonesia keluar dari induk organisasi penghasil minyak dunia atau OPEC, alasan keluar hanya untuk menekan dan mengawasi aliran minyak untuk kebutuhan dalam negeri tetapi usut punya usut negara kita sebelum menyatakan keluar dari organisasi OPEC sudah membayar uang keanggotaan sampai Desember tahun depan kalau seperti ini jelas rugi donk udah bayar keanggotaan malah keluar.

Ada apa dengan pemerintah yang semakin lama semakin tidak jelas menghadapi badai minyak dunia ini ibarat orang yang kebakaran jenggot. Sebenarnya kalau kita bisa melihat dari dampak harga minyak ini kita tidak perlu pusing karena kita sebagai penghasil minyak seharusnya kita bisa sabar dan bahkan untung karena kita juga mengekspor minyak, tetapi kenyataannya ?

Mungkin inilah karma yang diterima pemerintah dari Tuhan karena tidak beresnya kinerja daripada para pejabat terutama di sector migas yang seenaknya bahkan dibego-bego-in sama perusahaan minyak dunia, kita bisa lihat di tiap daerah negara ini pasti ada perusahaan minyak asing yang mana komposisi bagi hasilnya tidak jelas apakah yang untung pemerintah atau perusahaan minyak asing itu yang untung besar.

Seharusnya kita bisa menekan tingkat kegiatan dan bagi hasil dari perusahaan-perusahaan minyak asing itu, bagaimana caranya ? contohlah negara yang dipimpin oleh Presiden yang berlatar belakang petani koka Evo Morales yaitu Bolivia, dimana dalam hari-hari pertamanya menjabat sebagai Presiden Bolivia beliau mengundang semua kepala perwakilan dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sedang mengeksploitasi minyak di negaranya dan meminta mereka menandatangani kesepakatan bagi hasil dimana pemerintah Bolivia mendapatkan keuntungan dari eksploitasi perusahaan minyak asing itu sebanyak 70-85 % sedangkan perusahaan minyak tersebut hanya mendapatkan 15-20% saja, awalnya para perusahaan ini menolak dengan keras tapi lambat laun mereka lulu juga, kenapa juga model seperti ini diterapkan di Indonesia ?

Penghematan

Akibat dari harga minyak yang melambung ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan penghematan yang ditujukan kepada semua lapisan tapi kalau menurut penulis hanya di lapisan bawah saja yang disuruh berhemat, tetapi bagaimana denga lapisan atas ? sudah terbukti lewat sebuah tayangan dimana sejumlah gedung pemerintahan yang pada siang hari yang mana matahari sudah diatas kepala dan masuk ke ruangan masih menyalakan lampu, soal hemat bensin pun penulis masih sangsi dengan apa yang dianjurkan oleh Presiden karena presiden sendiri setiap melakukan kegiatan yang bersifat kenegaran berapa banyak liter bensin yang keluar jika presiden setiap kegiatan selalu dikawal dengan full kawalan paspamres, belum lagi jika keluar negeri untuk kunjungan kenegaraan atau menghadiri sebuah forum atau konfrensi tingkat kepala negara dan pemerintah.

Jadi saran penulis kepada pemerintah, tolong anda berkaca dulu sebelum anda berbicara atau memberikan wejangan kepada masyarakat lewat media, rakyat sudah dari jaman adam dan hawa melakukan yang namanya penghematan mulai dari listrik hingga bingung apalagi yang harus dihemat, maksudnya adalah berikanlah contoh kepada masyarakat negara ini yang jumlah hampir 220 juta jiwa ini bagaimana pengertian hemat dan bukti nyata dari kata hemat itu sendiri, kalau itu sudah bisa dijalankan secara otomatispun rakyat akan percaya dan akan melakukan apa yang pemerintah lakukan dalam hal berhemat bukan seperti saat ini.

Apakah benar pemerintah menganjurkan agar semua lapisan berhemat untuk menstabilkan konsumsi minyak bumi di negeri ini ? atau hanya lapisan bawah saja yang berhemat ? kita tunggu saja….

Happy B’ Day Indonesian Police


Pertama-tama penulis ingin mengucapkan selamat ulangtahun kepada institusi Polri yang tanggal satu juli kemarin tepat berumur 62 tahun semoga semakin jaya dan selalu mengutamankan keprofessionalisme dalam bertugas.

Umur 62 tahun bukanlah umur yang kemarin sore, tetapi umur yang sudah cukup matang untuk melihat dunia ini tetapi kenyataannya umur 62 tahun didalam tubuh kepolisian Indonesia tidak sama bahkan jauh berbeda ibarat bumi dan langit, kita bisa lihat bagaimana perilaku polisi kita yang dengan terang-terangan didepan mata masyarakat yang melintas.

Contoh Polisi yang kelakuannya agak aneh dan tidak menunjukkan keprofessionalisme dari institusi kepolisian yang jelas-jelas melanggar hukum yang penulis saksikan dengan mata dan kepala sendiri tentunya yaitu di daerah Cawang- Jakarta Timur, dimana mulai lepas dari area Markas Kodam sampai putaran halim dekat terowongan banyak aksi polisi menerima uang daripada para timer atau kondektur bis maupun sopir angkutan umum, dan polanya adalah sang timer menghampiri sang petugas sambil salaman tetapi salamannya bukan tipe salaman yang lazim melainkan diselipkannya uang dengan nilai nominal Rp. 5,000 hingga Rp. 20,000 coba anda bayangkan berapa banyak trayek bus kota antar kota dan antar propinsi yang melintas, belum lagi ratusan trayek angkutan kota kalau satu mobil sang polisi mendapatkan jatah paling kecil Rp. 5,000 berapa penghasilan sang polisi ini selama 1 jam ?

Belum lagi polisi pada malam hari dengan menggunakan mobil parroli, penulis melihat beberapa kali aksi polisi dalam menjaring upah sampingannya yaitu dengan modus kaca samping sopir diturunkan sedikit yang memungkinkan dua jari masuk, kemudian dengan santainya sang polisi ini jalan pelan untuk menjaring para pedagang atau timer dengan cara mereka memasukkan uang itu seperti memasukkan uang kedalam celengan, kembali lagi coba pengunjung atau pembaca hitung berapa banyak nominal uang yang polisi ini dapat dalam semalam, karena untuk modus operansi mobil ini nominalnya tidak jauh beda dengan polisi yang tidak mengendarai kendaraan mobil patroli. Belum lagi kalau misalnya STNK atau BPKB dan SIM daripada sopir ini di tahan sama polisi, penulis pernah dengar dan melihat ( lagi!) dengan mata dan kepala sendiri hanya dengan uang Rp. 25,000 surat-surat kendaraan bisa kembali ke tangan sopir tanpa harus mengikuti sidang Hebat !!!

Itu baru kelakuan daripada polisi di wilayah hukum Polsek Kramat Jati dan Makassar, bagaimana dengan Polisi yang dekat langsung dengan Kantor Kepolisian Resort Jakarta Timur a.k.a di kawasan Jatinegara ternyata tidak jauh beda ibaratnya 11-12 lah dengan kelakuan polisi di kawasan Cawang, dimana tepatnya di dekat persis halte bus way pasar Jatinegara dimana dengan mudahnya Polisi menerima Tips dari kondektur bus kota seperti Kopaja 502 ( Kp. Rambutan – Tanah Abang ) Patas 2 ( Kp. Rambutan – Kota ), Steady Safe 937 ( Kp. Rambutan – Tanah Abang ) dan Bus 115 ( Kp. Rambuatan – Kota) dengan cara sama seperti yang dilakukan di cawang, beginikah sifat dari kepolisian kita atau Cuma di Jakarta saja.

Kalau kita mencoba bertanya kepada mereka setelah mereka melakukan, paling juga jawab mereka adalah kalau tidak seperti ini bagaimana dapur bisa ngebul kalau hanya mengandalkan gaji.

Gaji ? ya masalah itulah yang selalu dibawakan oleh Kapolri dan juga Panglima Jenderal Tentara Nasional Indonesia beserta jajaran staff jika ada rapat dengar pendapat dengan kaum parlement, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah kalau sudah dinaikkan gaji para perwira polisi dan tentara ini mereka tidak akan melakukan dunia per-tips-an lagi ? ini hal yang mustahil bin mustahal.

Bagaimana mengatasinya, ya perlu waktu yang cukup lama dan panjang untuk mengakhiri ini semua, tapi balik lagi yaitu sejahterakan para perwira pangkat bawah ini karena merekalah ujung tombak dari keamanan negara ini BUKAN para jenderal, karena kita tahulah bagaimana jadi dari seorang Letnan hingga Jenderal yang bisa berbandrol hampir Rp.200 juta selama satu bulan ! belum lagi tunjangan-tunjangan sedangkan perwira pangkat berapa ?

Yang kedua adanya penghargaan dan penghukuman bagi para perwira yang berada dilapangan tentunya yang dasar penghargaan dan penghukuman ini berasal dari kalangan masyarakat yang melintas atau yang memang kena mungkin baik disengaja ataupun tidak untuk melihat kinerja mereka,atau mereka menuliskan di sejumlah harian, karena selama ini penulis melihat banyak disejumlah harian terutama di desk surat pembaca yang mengkritik dengan sistem modus operasi dari perwira pangkat bawah yang menyesatkan, jadi tolong diperhatikan.

Sebenarnya masih banyak persoalan yang dihadapi polisi menurut mata penulis, tapi hanya sebagian ini yang kiranya sesuai dengan idiom polisi yaitu Melindungi dan Melayani dan sesuai dengan idiom dan kenyataan dilapangan terhadap masyarakat, semoga kedepannya Polisi kita menjadi Polisi yang jujur serta keprofessionalismenya semakin tinggi, jayalah Kepolisian Indonesia….